Jumat, 16 Desember 2016

FEELINGS (PART 5): THE TRAP


Pulang sekolah, Karin memasuki rumahnya. Kafe sedang tidak begitu ramai, jadi ia bisa bersantai di kamarnya tanpa mendengar suara berisik para pelanggan. Tante Tara pun menghampiri Karin.
“Hai, Sayang. Kau sudah pulang. Ayo, bantu Tante melayani pelanggan, Sayang,” kata Tante Tara.
“Tante, aku lelah, nih. Boleh tidak, aku istirahat sehari saja dari bekerja?” sahut Karin.
“Baik, baik. Wajarlah, kau baru bebas dari penjara. Kau mungkin trauma berada dalam ruangan sempit. Pergilah ke kamarmu,” kata Tante Tara. Karin mengangguk, kemudian berjalan ke kamarnya. Tasnya dilempar begitu saja, dan ia tidak mengganti seragamnya. Hanya membuka rompinya saja.
Karin merebahkan tubuhnya diatas kasur.
“Harada, kau dimana? Aku butuh bantuanmu. Soal Shiro. Apa menurutmu, jika aku memang bertemu dengannya, apakah dia akan membelaku dari Koto?” gumam Karin. Namun, jawaban Harada tak kunjung ada. “Harada? Kau ada?”
“Hai, Karin. Maaf aku terlambat menjawabmu. Aku mendengar perkataanmu. Shiro, itulah yang kau katakan. Menurutmu, Shiro akan membelamu dari Koto?” sahut Harada. Remaja cantik berambut merah itu tersenyum kepada Karin.
“Ya, menurutku begitu. Mungkin dia orang yang gagah, dan dia akan senantiasa melindungiku. Paling dia tahu jika aku adalah kau,” sahut Karin.
“Shiro sebenarnya sudah membelamu. Dia sudah membelamu dari Koto. Kau memang tidak mengenal reinkarnasinya. Tapi, aku tak akan memberitahukannya. Suatu hari nanti, kau akan mengenali reinkarnasinya. Dia berubah menjadi seseorang, kau akan mengetahuinya nanti,” kata Harada. Kemudian, ia menghilang dari pandangan.
“Apakah aku pernah menaksir seseorang?” gumam Karin.
ooo0ooo
“KOTOOOOOOOO!!!!!!!!”
“Hei, dasar sialan! Kau sudah memukulku! Sakit, tahu! Giliran kubalas, kau malah meneriakan namaku!”
“Aku harus melakukannya karena… AKU BENCI PADAMUUUUUU!!!!!!!!”
“Aku juga membencimu, Rin!”
BUAK! Pukulan mendarat di perut Karin. Koto memukulnya dengan sangat keras.
“Koto! Hentikan!” terdengar suara sang ketua kelas. Rambut cokelatnya berdiri. Karin perlahan menoleh keatas, melihat wajah sang ketua kelas yang selama ini tak pernah ia kenal sama sekali. Sayang sekali, ia tak melihat sorot matanya. “Jangan ganggu dia…”
“Persetan! Aku tak peduli padamu dan Karin! Kalau berani, aku menantangmu bertarung sepulang sekolah nanti! Kalau tidak… aku akan menyakiti Karin sampai dia masuk UKS,” kata Koto. Ia pun pergi dan bergabung bersama Sora dan Kai.
“Bagus, Bos. Kau berhasil!” puji Sora.
“Lain kali kita urus si Karin bersama-sama. Aku tak akan mengampuni gadis itu!” celetuk Kai. Koto mengangguk. Sementara Karin…
Ketua kelas itu mendekatinya dan membantunya bangun.
“Kau baik-baik saja?” tanya ketua kelas itu.
“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih. Aku akan berusaha menghilangkan phobia ini,” sahut Karin. Ia kembali duduk di kursinya.
ooo0ooo
Pada malam hari, Karin berjalan sendirian. Ia bermaksud untuk menghilangkan stress karena Koto. Bulan purnama menyinari seluruh jalan. Tiba-tiba, seorang gadis seumurannya merangkul pundaknya dengan tangannya yang dingin dan tembus pandang. Karin menoleh.
“Harada?” kata Karin.
“Aku ingin mengingatkanmu tentang kehidupan lamamu. Tepat pada hari ini, aku mengajak Shiro mengerjakan PR bersama di rumahku. Setelah PR selesai, aku mendengar adanya orang yang masuk ke dalam,” kata Harada.
“Lalu?”
“Itu pembunuh. Entah apa alasannya, dia berusaha membunuh kami,”
“Bagaimana rupanya?”
“Aku juga tidak tahu. Pembunuh itu memakai topeng scream, dan ia berusaha menusuk kami dengan… pisau yang tembus pandang, seperti senjata futuristik. Tapi, Shiro melindungiku, dia mati terlebih dahulu. Aku dikejar-kejar, dan tiba-tiba, aku didorong olehnya keluar jendela dan mati,” jelas Harada.
“Terima kasih. Mungkin ceritamu bisa membantuku menemukan Shiro,” kata Karin. Setelah itu, Harada pun menghilang dari pandangan. Karin kembali berjalan. Tiba-tiba…
“Jangan!”
“Hahaha… persetan dengan dirimu. Pokoknya, akan kubunuh kau!” terdengarlah suara dua orang pria. Karin langsung mencari sumber suara, dan ia mendapatkan seorang pria yang memakai topeng dan jaket hitam sedang mengacungkan pisau kepada seorang pria yang ada di depannya. Karin tak bisa mencegahnya, ia terlalu cepat.
Segera, pisau itu menancap di jantung pria itu. CROT! Darahnya terciprat ke baju Karin. Kemudian, pria itu memukul Karin sampai pingsan.
ooo0ooo
“Karin… ini aku… Karin… ini aku,” terdengar suara seorang lelaki remaja. Karin bangun.
“Kau…” Karin tidak percaya akan siapa yang ada di hadapannya tersebut. “Mustahil, aku tak pernah bertemu denganmu lagi,” kata Karin. Di belakang lelaki itu, berdirilah sebuah penjara.
Hard Prison.
“Aku merasa… aku merasa…” kata Karin tergagap.
What do you feel, sis?” tanya lelaki itu.
I feel…” sahut Karin. Namun, ia tak melanjutkannya. Ia hanya tersenyum. Karin tahu ia sedang bicara dengan siapa.
Sipir penjara di Hard Prison.
Matanya yang berwarna biru bening itu menatap lembut Karin. Karin melongok ke bawah.
“Astaga…” katanya. Ia mengenakan baju khusus tahanan.
“Sshh… jangan kaget. Tutup matamu,” katanya. Karin tak menutup matanya. Lelaki itu berjalan ke belakang Karin dan menutup matanya. “Kau akan melihat perbedaannya,” katanya lagi. Lelaki itu membuka mata Karin. Apa ini?
Ini bukan lapangan tahanan. Ini... rumah. Karin meraih rambutnya. Merah? Kenapa rambutnya berwarna merah. Ia melihat lelaki di belakangnya.
“Kurasa kau mengenakan seragam sipir. Tapi, ini… seragam sekolah,” kata Karin.
“Tentu, Harada. Kita kan, masih bersekolah. Sejak kapan aku sudah bekerja? Kau juga belum bekerja, kan?” katanya.
“Apa? Harada?” tanya Karin. Ia menatap kosong lelaki tampan dengan mata cokelat dan rambut hitam itu.
“Shiro?”
“Tentu,” sahutnya. Lalu, Shiro memeluk Karin erat-erat.
“Tutup matamu. Kau akan melihat perbedaannya,” kata Shiro. Karin menutup matanya. Saat membuka matanya, ia masih ada di pelukan Shiro yang kini memakai seragam hitam. Karin mundur selangkah. Sipir penjara itu tersenyum. Rambutnya cokelat, matanya biru.
“Kau sudah mengerti sekarang?” tanyanya. Karin tersenyum lebar.
“Aku mengerti…” sahut Karin.
ooo0ooo
“Ah, apa yang terjadi?” tanya Karin. Ia bangun. Melihat sekelilingnya. Mobil-mobil polisi. Para polisi mengacungkan pistolnya.
“Angkat tangan!” kata salah seorang dari para petugas polisi itu.
“Dia membunuh pria itu, Pak!” kata seseorang. Karin begitu terkejut. Sejak kapan ia membunuh? Seorang pria bertopi mendekati polisi. “Lihatlah, Pak. Dia sudah dipenjara, tapi dia berbuat ulah lagi sekarang. Dan jasad pria yang terbunuh itu dibakar olehnya! Lihatlah, area sekitarnya juga dibakar,” tunjuknya.
“Ya, ampun Nak! Kau sudah benar-benar keterlaluan. Siapa saja, panggil pemadam kebakaran, cepat!” kata salah seorang polisi. Karin mengenali pria bertopi itu. Dari sorot matanya, ia tentu mengenalinya dengan nama…
NGUAANNGG…
Suara sirine mobil pemadam kebakaran berbunyi. Beberapa unit mobil pemadam kebakaran tiba di tempat dan siap memadamkan api. Karin merasa muak dengan semua ini. Ia ingin kabur dan semuanya selesai. Namun… BLEK…
Seseorang merangkul pundak Karin. Ia menengok ke atas. Seorang petugas pemadam kebakaran tampak menyeringai. Kedua bola matanya berwarna hitam tanpa ekspresi. Dan di pipinya tertulis sesuatu. Sesuatu yang ditulis dengan cairan merah. Entah itu sirup atau apalah semacamnya.
“DEATH”
Begitu tulisannya. Karin bergidik.
“Kau akan berakhir di penjara…” katanya.
“Kau ditahan!” seorang polisi meringkus Karin dan memaksanya masuk ke dalam mobil polisi. Kini, ia akan kembali ke penjara itu.
Hard Prison.
ooo0ooo
Hukuman sementara.
Masa persidangan. Hukuman penjara selama 2 bulan. Sekolah Karin diliburkan selama 2 bulan karena ada sedikit renovasi lagi.
Masuk penjara. Itulah yang dialami Karin sekarang. Ia dikirim ke Hard Prison bersama 7 tahanan lainnya. Lebih sedikit dari waktu itu. Ia dibariskan oleh penjaga. Sipir penjara kembali mendatangi mereka. Tahanan lainnya disuruh masuk bersama para penjaga. Kecuali Karin. Ia kembali bertatap muka secara langsung dengan sang sipir.
“Karin,”
“Yuichi,”
Mereka berdua sudah saling mengenali satu sama lain. Tapi tetap saja, walaupun ada teman, Karin tahu seharusnya ia tak berada di penjara. Ini semua adalah…
Jebakan.
BERSAMBUNG…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...