Jumat, 09 Desember 2016

FEELINGS (PART 4): KOTOPHOBIA

“Ah, hei, Yuichi. Apa yang kau lakukan di sini… lagi…?” tanya Karin.
“Tidak, hanya menyapa. Aku juga ingin bertanya sebelum aku membawamu ke lapangan. Kau baik-baik saja di sel ini? Apakah kau tidak merasa kesempitan?” tanya Yuichi.
“Ya sempit, sih. Tapi, ini agak sedikit lega. Kenapa kau bisa tahu? Aku kan, selalu benci ruangan sempit,”
“Kau sengaja berkata benci terhadap ruangan sempit di hadapanku. Sebenarnya, kau sangat takut terhadap ruangan sempit. Kau mengidap klaustrophobia, kan? Di sini juga panas dan pengap, dan menakjubkannya, kau baik-baik saja,” kata Yuichi.
“Oh, baiklah Anak Sains. Aku akan keluar sekarang biar klaustrophobia ini tidak kambuh lagi,” sahut Karin.
“Yuk, keluar. Jangan sampai aku bertemu laba-laba, soalnya aku juga punya phobia. Arachnophobia, aku selalu takut kepada laba-laba,” kata Yuichi.
Mereka berdua pun langsung menuju lapangan.
ooo0ooo
10 bulan kemudian…

“Aku bebas! Ya! Aku bebas, aku bebas, aku bebas!” kata Karin kegirangan. Hari ini, Karin dibebaskan dari penjara. Ia pun bebas tidak harus mengeluhkan klaustrophobia yang kadang-kadang suka kambuh jika terlalu lama berada di dalam sel. Karin dibawa dengan mobil.
Saat ia akan masuk ke mobil, wajahnya terus tersenyum dan ceria. Matanya berbinar-binar. Dan ketika berjalan di dalam sel, ia bertemu seseorang.
Yuichi.
Yuichi masih tersenyum, tapi kali ini ia agak sedih.
“Selamat tinggal, Yuichi. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku tak yakin kita akan bertemu kembali,” kata Karin.
“Tidak, Karin. Jika kita punya peluang, yakinlah kita akan bertemu lagi. Ini, terimalah jam tanganku. Ingat aku selalu, oke?” kata Yuichi. Ia memberikan jam tangannya kepada Karin.
“Terima kasih, Yuichi,” sahut Karin sambil berlalu. Mata hijau Karin yang indah berubah menjadi sembap.
Tidak. Aku tak boleh menangis hanya karena kehilangan sipir yang selama ini menjadi temanku. Aku akan ketahuan oleh penjaga karena berteman dengan sipir, tidak! Aku mantan tahanan. Batin Karin.
ooo0ooo
GRUNG… mobil melaju cepat. Karin akan dibawa pulang. Tempat tujuan mobil itu kebetulan melewati SMA Dreamland. Sekolah itu berdiri megah sesudah direnovasi. Karin berdecap kagum. Sekolah itu sekarang sudah bagus. Dan dia akan pulang sekarang.
ooo0ooo
SREG…
Karin menggeser pintu rumahnya. Ia merasakan kehangatan begitu masuk ke dalam.
“Halo… Tante Tara…? Aku pulang…” kata Karin. Namun, tak kunjung terdengar jawaban.
“Karin sayang! Kau sudah pulang!” terdengar suara Tante Tara. Benar, Tante Tara mendekati Karin dan memeluknya erat-erat. “Bagaimana dengan hari-harimu? Dan apakah klaustrophobia itu kambuh? Sel penjara kan, sempit,”
“Ah, klaustrophobia tidak usah dipikirkan lah, Tante. Yang penting, aku sudah kembali, bukan?”
“Kau ada teman sesama tahanan di sana?”
“Aku tak punya teman sesama tahanan. Aku bukannya mencari teman, tapi aku ditemani,”
“Ditemani oleh siapa?”
“Sipir,”
“Sipir? Astaga, yang benar saja, Karin! Ya sudahlah, kita bicarakan ini di kamarmu saja,” kata Tante Tara. Ia menemani Karin masuk ke kamarnya. Di kamar Karin sangat tenteram namun dingin. Ruangan ini ber-AC. Tante Tara duduk bersama Karin diatas kasurnya yang empuk. Jauh lebih empuk daripada kasur penjara.
“Ceritakan. Aku masih bingung dengan ceritamu. Bagaimana kau bisa ditemani oleh… sipir? Aku tak percaya. Kudengar, sipir penjara di Hard Prison itu jelek, menyebalkan, sadis, dan suka manyun. Bukankah umurnya sudah 57 tahun?” kata Tante Tara.
“Ah, kata siapa, Tante? Justru sebaliknya. Sipir di Hard Prison itu keren, menyenangkan, baik hati, dan suka tersenyum. Sepertinya dia masih sweet seventeen. Untunglah dia mudah berteman,” sahut Karin.
“Hmmh… masih bocah rupanya. Paling-paling, dia masih SMA. Atau jangan-jangan sipir itu juga bersekolah di SMA Dreamland. Jika kau bertemu dia, ajaklah sesekali dia kemari,” kata Tante Tara. Karin tersenyum.
Setelah itu, Tante Tara meninggalkannya. Tak lama kemudian, Karin terlelap. Ia kelelahan.
ooo0ooo
“Kau sudah berpisah dari Shiro, ya?” terdengarlah suara Harada.
“Tidak, kok. Aku belum menemukan Shiro,” sahut Karin.
“Kau sudah menemukannya, sayang. Hanya saja kau tidak menyadarinya. Paling nanti kalian akan menikah,”
“Menikah dengan hantu? Ogah, ah. Aku lebih mau bersama manusia sungguhan,”
“Shiro adalah manusia, Karin. Dia telah bereinkarnasi menjadi seseorang. Seseorang yang jika kau bertemu, dijamin kau pasti suka,”
“Siapa dia?”
“Kau sudah menemukan Shiro,”
ooo0ooo
Back to school! Ya, hari ini, Karin akan masuk sekolah lagi, sama seperti yang lainnya. Ia ingin mengenal siapa sang ketua kelas itu. Saat masuk ke kelasnya…
“Karin-chan! Kau sudah kembali!” itu adalah suara yang sangat dikenalinya.
Haruka.
“Haruka!” jerit Karin. Kedua sahabat itu saling berpelukan.
“Wah, wah, wah… si tahanan hadir di kelas ini rupanya. Penjaga, ada tahanan kabur. Tahan dia!” terdengar suara Koto. Ia menyuruh Sora dan Kai untuk menangkap Karin. BUAK!
“Janganlah kalian berani kepada perempuan!” terdengar lagi suara seseorang.
“Siapa sih, dia?” tanya Karin.
“Ketua kelas, Rin. Ketua kelas. Dia sahabatku,” sahut Haruka. “Dia datang untuk melindungimu,”
“Jika harus bertarung denganmu untuk melindungi teman-temanku, aku tak akan segan. Karin, menjauhlah. Laporkan Koto kepada Bu Rumi, ya!” katanya. Tiba-tiba, Bu Rumi datang.
“Hai, Karin. Sudah pulang, ya?” sambut Bu Rumi. Karin tersenyum. “Koto, kau pasti mengisengi Karin lagi, sehingga ketua kelas membelanya,”
“Maaf, Bu,” kata Koto.
“Ya sudahlah. Ayolah, ketua kelas, pimpin doanya,” kata Bu Rumi. Setelah berdoa, mereka belajar. Karin mengeluarkan bukunya dan membacanya, sementara Koto membicarakan Karin bersama Sora dan Kai. Karin tak peduli.
“Baiklah, anak-anak! Bisakah kalian ceritakan tentang phobia? Mungkin kalian ada yang memiliki phobia, dan sekarang, siapa yang mau maju untuk menceritakannya?” tanya Bu Rumi tiba-tiba. Haruka maju ke depan.
“Aku punya phobia, Bu,” jelas Haruka.
“Phobia pada apa? Kau tahu namanya?” sahut Bu Rumi.
“Aku… aku hanya tahu nama phobia-nya. Trypophobia!” kata Haruka. Ia pun duduk di kursinya. Karin maju ke depan.
“Aku punya phobia, Bu,” jelas Karin.
“Apa itu?” sahut Bu Rumi.
“Klaustrophobia. Aku selalu takut pada ruangan sempit dan panas, seperti dalam sel penjara,”
“Kau punya phobia lainnya?”
“Tentu, ada satu lagi. Kotophobia! Ini tidak beda jauh dengan klaustrophobia, dan Koto selalu mengekangku dalam perasaan panasnya!” jerit Karin. Koto mendelik kaget. Kotophobia? Mereka tak pernah mendengar nama phobia itu sama sekali. Tak pernah. Bahkan Karin sekalipun.
Ia menciptakan nama itu, karena ketakutan dan kebenciannya terhadap Koto.
“Inilah kenapa aku selalu mengalami kotophobia. Dia selalu mengekangku,” gumam Karin. Ia kembali duduk di kursinya.
ooo0ooo
KRIINNGG!
Bel istirahat berbunyi keras. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Pergi menuju kantin.
“Kau mau main ke rumahku nanti?” tanya Haruka kepada Karin.
“Maaf, Haruka. Aku tidak bisa. Minggu depan saja, oke?” sahut Karin. Akan tetapi, Karin merasakan adanya sesuatu aneh di belakangnya. Seperti ada yang mengikutinya. Namun, ia mengacuhkannya. Paling hanya murid lain. Tapi, sebuah tangan merangkul pundak Karin dan menahannya untuk berjalan.
“Kau menyebutku apa di kelas? Kau punya phobia kepadaku, bukan? Kotophobia, begitu katamu. Huh, jadi jika kau memang phobia kepadaku, kau pastinya akan tunduk kepadaku, Rin!” rupanya, itu Koto.
“Tidak! Kotophobia tak akan kubiarkan berkembang dalam diriku! Akan kulawan phobia ini!” seru Karin. BUAK! Koto terpental sambil memegangi pipinya yang merah. Karin menonjoknya dengan cukup keras.
“Sialan kau, Karin!” bentak Koto. Ia kembali bangkit dan berusaha melawan Karin. “Kata siapa aku akan kalah dari seorang gadis?!”
“Jangan sombong, Koto! Kau belum tentu menang! Heeaah!” teriak Karin. BUAK! DUG! TAK! Karin menonjok perut Koto, memukul lengan atasnya, dan menyengkat kakinya sampai terjatuh.
“Ah… sialan, mana mungkin aku kalah dari gadis? Kau pasti banyak belajar soal bertarung dari para tahanan di penjara, bukan? Dasar gangster, akan kulaporkan kau!” kata Koto. Karin menggeleng.
“Aku tak belajar apapun dari mereka. Sipir penjara itu yang mengajariku bertarung dan bertahan hidup. Selebihnya, aku berlatih sendiri. Itulah kenapa kau bisa dengan mudah kukalahkan,” sahut Karin. Ia pun berbalik pergi meninggalkan Koto. Koto merengut kesal dan kembali bergabung bersama Sora dan Kai.
Koto menatap benci kepada Karin. Anak berandalan itu tak pernah menyadari jika ia dikalahkan oleh gadis yang selalu ia bully.
“Aku akan mencoba untuk menjatuhkan sialan itu. Tunggu saja, Karin…” bisik Koto. Sementara Karin, ia kembali berjalan berdua bersama Haruka menuju kantin sekolah. Mereka berdua memesan makanan.
“Aku pesan mie ramen satu,” kata Karin.
“Aku… aku lebih baik makan udon saja,” kata Haruka. Tak lama kemudian, pesanan mereka diantarkan.
“Oh, sepertinya lezat. Aku belum sarapan sejak tadi pagi,” ucap Karin. Haruka tersenyum. DUGH… seseorang duduk di samping Karin.
“Tidak ada masalah, bukan?” tanya orang itu. Suaranya parau dan tidak enak didengar.
Koto.
“Terserah kau saja,” kata Karin sambil menyedot ramen pesanannya. Koto tidak memesan makanan, melainkan memainkan ponsel pintarnya. Ia memutar lagu K-Pop yang sudah benar-benar dikenali oleh Karin. Lagu itu adalah favorit Koto. Baru menyetel intro, ia langsung memajukannya ke pertengahan lagu.
Dan lucunya, Koto benar-benar hafal bagian lagu itu. Koto menyeringai.

Neol mangchyeo noheulgeoya

“Suatu hari aku akan melakukkan hal serupa dengan syair lagu ini padamu, Karin,” kata Koto. Ia memberhentikan lagunya dan melangkah pergi. Karin tahu apa artinya.
“Aku tak akan membiarkannya,” gumam Karin. Ia kembali sibuk dengan ramen pesanannya.

BERSAMBUNG…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...