Jumat, 30 Desember 2016

10 JENIS DINOSAURUS PALING FAMOUS


Hayo, siapa yang udah pernah ketemu sama dinosaurus? Hehehe, yang gak pernah lah. Aku aja nggak pernah. Sorry, cuman bercanda. Kalo gitu, siapa yang udah tahu jenis-jenis dinosaurus?Jenis dinosaurus paling terkenal? T-Rex, dong. Siapa lagi?Aku sih, sebetulnya hafal nama-nama dinosaurus, bentuknya, ataupunmakanannya.Tapi sekarang, aku bahas aja deh, 10 jenis yang paling terkenal, paling ngetop, paling dikenang dan akan selalu hidup dalam kenangan kita sebagai reptil yang hebat *lebay banget, kangen loe ama dino?*.Iya, aku kebanyakan ber-kha-yal, ya? Yoi, bro, sis,ayo dibahas!

1.    Brontosaurus

Brontosaurus, atau sering disebut dengan nama lain Apatosaurus adalah sejenis dinosaurus dari bangsa sauropoda, yang berarti dinosaurus berleher panjang pemakan tumbuhan. Badan bongsornya dan leher panjangnya sudah sangat terkenal. Sebenarnya, ada banyak dinosaurus lain yang berbentuk sejenis dengannya, seperti Diplodocus, Brachiosaurus, dan Alamosaurus. Nama Brontosaurus didapatkan karena suaranya yang seperti guntur. Ada juga mamalia yang hidup setelah dinosaurus yang memiliki nama serupa, yakni Brontotherium.

2.    Tyrannosaurus Rex

Tyrannosaurus Rex, atau yang lebih kita kenal dengan T-Rex adalah dinosaurus dari bangsa therapoda, yakni dinosaurus besar pemakan daging. Tyrannosaurus Rex sendiri berasal dari kata tiran, yang berarti “Kadal yang Kejam”. Sesuai dengan namanya, T-Rex adalah karnivora yang rakus dan bersenjatakan gigi tajam dengan cakar kaki belakangnya yang kuat. Kedua lengan kecilnya masih dipertanyakan, apakah memiliki fungsi atau tidak.

3.    Velociraptor

Velociraptor adalah dinosaurus karnivora kecil yang berasal dari bangsa deinonychus, bangsa karnivora kecil dengan cakar tajam. Velociraptor adalah dinosaurus yang sangat gesit dan biasanya berburu dalam kelompok ataupun sendiri. Pada masa awal Velociraptor, kadal ini adalah hewan berbulu dan berukuran kecil. Seiring berkembangnya waktu, Velociraptor berevolusi menjadi lebih besar dan tanpa bulu. Velociraptor memiliki cakar tajam di tumitnya yang melegenda.

4.    Pterodactyl

Pterodactyl adalah reptilia terbang yang memiliki rentang sayap lebar dan ekor panjang. Makanannya adalah ikan dan ia tinggal di tebing-tebing curam tengah laut.

5. Triceratops
Dinosaurus bertanduk yang satu ini masuk ke dalam bangsa Triceratops, seperti namanya yakni dinosaurus bertanduk. Makan tumbuhan dan tanduknya digunakan untuk mempertahankan diri.

6. Plesiosaurus
Plesiosaurus memang seperti Nessie, tapi ia adalah reptilia laut dari zaman prasejarah. Termasuk karnivora dan suka makan ikan juga hewan lainnya.

7. Stegosaurus
Stegisaurus adalah dinosaurus herbivora dengan bilah-bilah di punggung yang bisa mengatur tubuhnya. Ekornya bisa dipakai sebagai senjata.

sumber gambar: google.co.id

D’ VIRUS WARS (PART 2): ONE LOGISTIC EXPLANATION


Kebakaran melanda hutan itu.Kebakaran yang sangat hebat dan melalap seluruh hutan hingga tak bersisa. Dikabarkan api sangatlah panas bagaikan lahar.Diduga masih ada tiga orang di dalamnya.
Seorang pelajar SMA
Seorang sipir penjara
Seorang polisi
Mereka masih berusaha melarikan diri dari hutan itu, berusaha menghindari pterodactyl berselimut api dan Tyrannosaurus Rex berbulu serigala dan bersayap burung. Menurut penuturan sebagian orang, itu hanyalah ilusi.Namun, kata mereka itu kenyataan. Dan sepertinya, mereka tak akan bertahan hidup lebih lama lagi.
Atau…

“Huwaahh!” suara teriakan Dixa menggema di seluruh kamar pagi itu.Draganold juga terbangun.
“Ada apa?” tanya Draganold.
“Ah, tidak.Aku hanya… bermimpi aneh semalam.Aku bermimpi kau mengejarku, lalu bertemu seorang polisi dan seekor monster aneh yang dipanggil Deino. Aku tak tahu itu apa,”
“Aku juga bermimpi seperti itu semalam.Sepertinya, aku pernah melihat Deino, deh.Tapi, di sebuah super computer.Aku tidak mengingat pasti kejadiannya,” sahut Draganold.Ia langsung turun dari kasurnya.Apa yang terjadi dengan semuanya? Baru kali ini Dixa bermimpi aneh. Mungkin ia bisa berbicara pada Carlos nanti siang.
TING-TONG…
Bel rumah Dixa berbunyi.Dixa dan Draganold segera turun dan membukakan pagarnya. GRADAK…
“Uh, ada yang bisa kubantu, Tuan?” tanya Draganold. Sesaat kemudian, Draganold mendelik melihat tamu itu datang dengan mobil polisi dan seragam polisi lengkap.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Dixa.
“Entahlah, aku juga tak tahu.Sepertinya ada yang terjadi di rumah kita,” sahut Draganold.
“Bolehkah aku masuk?” tanya polisi itu.
“Ngg… oh, ya. Silahkan, Tuan,” sahut Draganold. Ia membawa polisi itu masuk ke dalam rumah Dixa. “Silahkan duduk,”
“Terima kasih, Nak,” sahut polisi itu.Ia duduk perlahan diatas sofa. Dixa bersembunyi di dapur.Ia takut ada sesuatu terjadi di rumahnya, padahal orang tuanya belum bangun sama sekali.
“Tuan, bolehkah saya bertanya, ada apa di sini? Apa yang membuat anda datang kemari?” tanya Draganold.
“Tidak, aku hanya ingin memastikan mimpiku saja.Aku ketiduran di mobil polisiku, dan aku bermimpi aneh.Aku sedang memburu seorang tersangka, sipir penjara berambut merah yang terjerat kasus penyiksaan anak.Dan malahan tersangka itu melindungiku saat baku tembak dengan monster mengerikan,” kata polisi itu.
“Mimpimu sama denganku,” kata Draganold.“Kau… hah?Rifle?”
“Iya, aku Rifle.Dan kau Draganold. Huh, seharusnya kau jadi tersangka hari ini. Tapi, kubebaskan saja.Berhubung kau adalah agen rahasia.Jika aku menangkapmu karena mimpi, aku pasti akan ditegur karena sembarangan menangkap warga sipil tanpa bukti yang jelas,” sahut Rifle.
“Iya, Rifle. Aku juga sedang mencari tahu kenapa mimpi itu bisa terjadi.Dixa… kemari!” kata Draganold.Dixa memberanikan diri keluar dari dapur. “Tidak usah takut,”
“Oke, oke.Akan kupastikan tidak ada apapun yang terjadi di rumah ini. Jika saja ada… apakah itu pembunuhan, pencurian, atau perampokan?” tanya Dixa memastikan.
“Hei, hilangkan sugestimu itu.Duduklah di sini, tidak ada apapun,” kata Draganold.Dixa pun duduk.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Dixa.
“Hanya karena mimpi. Kau pasti bermimpi sama sepertiku semalam. Mimpi yang sama seperti anak berambut merah itu,” kata Rifle.
“Baiklah, untuk urusan ini, kita bisa tanya Carlos. Ayo, ikut aku ke rumah Carlos, Rifle,” ajak Draganold.Dixa mengambil jaketnya.Draganold mengambil jumpernya dan melangkah keluar.
“Ayo, masuklah ke mobilku.Eits, jangan tembak kakiku, naga bengis,” kata Rifle.
“Tidaklah.Itu kan, cuma mimpi,” sahut Draganold.Mereka bertiga masuk ke dalam mobil polisi.Dixa mengarahkan jalannya.Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Carlos.Mereka turun dari mobil.
“Memang apa pekerjaan orang bernama Carlos ini?” tanya Rifle.
“Carlos bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran,” sahut Dixa.
“Baiklah,” sahut Rifle. TING-TONG… Rifle menekan bel rumah Carlos.GRADAK… seseorang membukakan gerbang. Itu Carlos. Pemuda itu memiliki rambut cokelat dan mata berwarna turquoise. Wajahnya… sepertinya ia keturunan Amerika. Spanyol. Indonesia. Tampan nan mempesona, bisa membuat wanita manapun tergila-gila padanya. Tubuhnya ideal, namun tidak begitu atletis.Matanya menatap tajam kepada Rifle.
“Ada yang bisa kubantu, pak polisi?Setahuku, tak ada masalah di rumahku.Jika tidak ada masalah, anda dipersilahkan pergi,” kata Carlos.
“Jika kau tak keberatan, bolehkah aku masuk?”tanya Rifle.
“Jika kau memang sudah jauh-jauh datang ke TKP ini, kau boleh masuk,” sahut Carlos.Ia mengajak masuk Rifle, Draganold, dan Dixa. “Duduklah.Kalian mungkin akan membutuhkan air putih,” kata Carlos.Ia melangkah ke dapurnya.
“Sepertinya Carlos itu adalah anak yang pantas untuk ditanyai.Dia begitu akurat dan sepertinya… jenius,” kata Rifle.Tak lama kemudian, Carlos datang membawa baki berisi 3 gelas air putih.
“Ada yang bisa kubantu?Sepertinya masalah serius, namun tidak dianggap penting bagi sebagian orang,” kata Carlos.
“Tentu saja ini masalah serius. Aku, Dixa, dan Draganold, kami bermimpi sama semalam. Kami bermimpi tentang Draganold menyiksa Dixa, lalu aku mengejar Draganold.Kemudian, aku mendapati Dixa sedang ditenteng oleh monster mengerikan mirip T-Rex dengan bulu serigala, sayap elang, dan tanduk naga,” jelas Rifle.
“Aku bukan penafsir mimpi, maaf.Tapi sepertinya, ada alasan logis untuk mimpi ini.Aku tahu siapa monster yang kau bicarakan.Deino-Virus.Dan Deino pernah meneror komputerku, walaupun akhirnya aku berhasil mengalahkannya.Deino bukanlah virus paling berbahaya. Dia adalah anak buah dari sebuah virus paling berbahaya sejagat, yakni Firedactyl,”
“Firedactyl?Apa itu?”
“Yup, dia adalah sejenis virus yang berwujud pterodactyl raksasa dan berselimut api. Efeknya sangat cepat ketika memasuki komputer. Pertama, komputer akan mengeluarkan tulisan-tulisan aneh dan membuat semua anti-virus bertekuk lutut. Kemudian, dari komputermu akan muncul percikan api. Setelah itu, komputermu akan terbakar habis,”
“Mengerikan sekali,”
“Ya, ketika komputermu terbakar, Firedactyl baru mengeluarkan kedua sayapnya. Setelah itu, area di sekitar komputermu akan terbakar. Tubuhnya sudah muncul. Lalu, seluruh ruangan akan terbakar. Kepalanya telah muncul, dan kau tak lagi punya kesempatan untuk hidup,” jelas Carlos.“Mereka akan segera beralih wujud ke dunia nyata jika kita tidak cepat-cepat mengatasinya.Ikut aku.Rifle, kau tak masalah, kan, jika aku pinjam mobilmu?”
“Tentu,” sahut Rifle.Carlos pun memakai jaket kesayangannya dan melangkah keluar menuju mobil Rifle.Ia masuk ke dalam dan menyetirnya. Dixa dan Draganold duduk di belakang, sementara Carlos menyetir bersama Rifle.Carlos membawa mereka menuju sebuah gedung tinggi yang terlihat megah.
Di depannya, terpampang sebuah tulisan yang berwarna biru.
“COMPUTER OFFICE”
Ini adalah kantor yang mengurusi semua tentang komputer, termasuk virus. Tempat ini juga mempekerjakan hacker untuk membantu peretasan sistem. Dan para pekerja di kantor ini boleh siapa saja dan jam kerjanya tergantung. Anak-anak pun boleh bekerja paruh waktu di sini.Carlos memasuki gedung tersebut diikuti tiga orang di belakangnya.
“Kau mau apa kemari?” bisik Rifle. Dixa, Carlos, dan Draganold tertawa.
“Kasihan sekali kau tak tahu soal ini, Rif.Kami bekerja sebagai hacker di sini!” seru Draganold.Rifle mengernyitkan keningnya.
“Hai, semua!” sapa seseorang.Dixa menoleh.
“Sebastian!” sahut Dixa.
“Kalian harus ikut aku ke ruang hacker. Aku tahu permasalahan apa yang kalian hadapi. Mimpi kalian yang dirasuki virus,”
“Ya, kau memang tahu permasalahan kami,” kata Dixa. Mereka pun mengikuti Sebas, menaiki lift sampai lantai teratas. Ruangan teratas…
HACKERS ROOM
Pintu lift terbuka lebar. Dixa, Carlos, Sebastian, dan Draganold masuk ke dalam. Sedangkan Rifle berdiam di dalam lift.
“Masuklah, Rif,” ajak Carlos.
“Oke, aku akan segera masuk,” sahut Rifle.Ia melangkah masuk mengikuti Carlos. Komputer di ruangan ini banyak sekali, dan ratusan hacker sedang bekerja.Meretas sistem-sistem jahat yang mengganggu.Dixa dan lainnya langsung menaiki tangga dan duduk di tempat teratas.Terdapat empat buah kursi yang memutar.
“Carl, boleh aku bertanya? Kenapa empat kursi ini terpisah?” tanya Rifle.
“Karena ini adalah tempat bagi hacker-hacker paling hebat yang pernah ada,” sahut Carlos.Mereka berempat menduduki kursi tersebut.
“Masukan virus itu ke komputer ini,” suruh Sebas.
“Darimana kita mendapatkannya?” tanya Dixa.
“Dari otak kalian berdua,” sahut Sebas.Kepala Dixa dan Draganold dipasangkan sebuah topi dan dipasangkan kabel USB ke komputer. Penyaluran yang sama seperti flashdisk, tapi ini bukan dari flashdisk, melainkan dari otak. Setidaknya ada beberapa isi otak Dixa dan Draganold yang dimasukan ke komputer.Lalu, Sebas melepaskan topi itu.
“Sekarang kita harus meng-copy semuanya,” kata Carlos.Mereka meng-copy semuanya ke komputer.Semuanya masuk ke dalam, termasuk virus itu.Lalu, giliran Carlos dan Sebas yang disalurkan.Semuanya sudah selesai.Dan tanpa mereka sadari, puluhan orang di belakang mereka tengah memperhatikan mereka.
“Kalian memasang virus?” tanya seseorang. Sebas mengangguk.
“GRAARRHH…”
TET! Dixa menoleh.Komputer itu mengeluarkan banyak peringatan.Anti-virus mendeteksi adanya virus yang menyerang.Namun, anti-virus itu mendadak tak berfungsi dan tak bisa membersihkannya.
“Oh, tidak… semuanya lari! Virus-virus ini dan isi otak kami akan beralih ke dunia nyata! Lari, semuanya harus lari!” teriak Carlos.Rifle meringkuk ketakutan di ujung ruangan.
“Isi komputer anda akan beralih wujud ke dunia nyata dalam lima hitungan.Lima… empat… tiga… dua… satu… isi komputer akan segera beralih,” terdengar suara operator wanita dari komputer itu.
BLAR!
Komputer meledak sesaat, dan mengeluarkan isinya ke dunia nyata.Namun untungnya, tak ada virus.Hanya ada isi mimpi Dixa dan kenangan Carlos dan Sebas saat kecil.Keluarlah Carlos saat masih berusia empat tahun, dan keluarlah Sebas saat masih berusia sepuluh tahun.
Keluar juga Dixa dan Draganold dalam mimpi mereka berdua yang masih berkejar-kejaran.
“Apa-apaan ini?”Dixa begitu kaget.
BERSAMBUNG…

Rabu, 28 Desember 2016

D’ VIRUS WAR (PART 1): FIREFIGHT AT THE DREAM

Malam itu, Dixa sedang bermain PS di ruang keluarga.
“Hiyyaahh! Terus! Terus! Woo, aku paling suka ini! Firefight!” seru Dixa yang sedang berada dalam “baku tembak” bersama para tentara jahat. Game tembak-tembakan. Ia sedang memainkannya sekarang.
“Kau sepertinya serius sekali bermain game. Aku memainkan game balap mobil, tapi tidak heboh sepertimu,” terdengar suara lelaki yang sedang tiduran di atas sofa.
“Oh, tentu. Aku kan, heboh, bro,” sahut Dixa. Suara itu sangat dikenali Dixa. Suara musuhnya dulu. Lelaki itu turun dari sofa dan melipat tangannya di dada. Memperhatikan game yang dimainkan oleh Dixa. “Jangan terlalu serius, nanti kepalamu pusing,”
“Diam kau. Aku sedang menembaki mereka!” sahut Dixa. Lelaki itu tersenyum. Usianya sudah 27 tahun, tapi fisik dan wajahnya seperti remaja 17 tahun. Ia memakai kaos oblong berwarna putih dengan celana panjang longgar berwarna hitam. Rambutnya berwarna merah terang, begitupun dengan matanya.
Alami, bukannya disemir. Di atas kepalanya, berdirilah sepasang tanduk berbentuk petir. Tentulah kau tahu siapa dia.
Draganold Bruno.
“Kau mau main sampai larut malam, terserah. Aku sudah ngantuk,” kata Draganold. Ia melihat arlojinya. Sebuah tulisan terpampang di sisi arloji tersebut.
“MADE BY DRAGANOLD”
Arloji yang ditemukan Dixa di Antartika. Lalu, Draganold naik keatas tangga, dan tidur di kamar Dixa. Tak lama kemudian, Dixa merasa bosan dengan game. Ia pun mematikannya dan naik keatas untuk tidur.
“Drag… kenapa kau tidur di lantai?” tanya Dixa.
“Oh, sengaja. Kau ingin tidur di kasur, kan?” sahut Draganold.
“Maksudku, temani aku. Sepi…” kata Dixa. Draganold mengangguk dan tidur bersama Dixa diatas kasur. Sekarang, mereka seakrab ini. Naga itu sudah berubah drastis. Dixa memasang earphone di telinganya untuk mendengarkan lagu. Lalu, kesadaran mereka berdua hilang.
“Zzzzz…”
ooo0ooo
“Angkat tangan!” terdengar suara seorang lelaki.
“Kubilang, angkat tanganmu!” lelaki itu membentak. Dixa membuka matanya perlahan. Ia melihat sahabatnya, Draganold, sedang mengacungkan sepucuk pistol di dagunya. “Kalau tidak… aku akan menembakmu, bro…”
“Apa yang terjadi? Bukankah kita sahabat?” kata Dixa kebingungan.
“Sahabat? Mimpi saja kau! Sejak kapan kita bersahabat? Huh, kali ini, aku tak akan melepaskanmu. Akan kubunuh kau. Jika saja kau kabur, maka aku akan mengejarmu sampai dapat!” sahut Draganold. Dixa mundur selangkah melihat Draganold kembali seperti dulu. Ia mengenakan seragam sipir penjara dan membawa banyak peluru.
“Tidak mau… tidak… mau…” kata Dixa. Ia melihat sebuah hutan belantara di sampingnya. Sementara itu, suara sirine mobil polisi semakin mendekat. Dixa menoleh. Mobil itu berhenti, dan seorang petugas polisi keluar dari dalam mobil dan mengacungkan pistol.
“Berhenti kau, naga bengis! Kemari!” katanya.
“Diaaaam!” bentak Draganold. DOR! Ia menembak kaki polisi itu.
“Aw! Jangan coba-coba…” polisi itu berusaha bangkit. Sementara Dixa ketakutan dan lari masuk ke dalam hutan.
“Hei, jangan lari! Akan kubunuh kau! Tunggu, anak ingusan!” teriak Draganold sambil mengejar Dixa. Sementara Dixa terus lari ke dalam hutan. DOR-DOR-DOR! Draganold juga terus menembak tak tentu arah. Lama kelamaan, ia kelelahan mengejar Dixa. Dixa menghilang.
“Hah… hah… tunggu saja kau! Hah… hah… aku akan… mem… bu… nuh… mu…!!!” kata Draganold. Dixa tak lagi mendengarnya, namun ia dapat mendengar gema suaranya dari kejauhan.
“Oh, semoga saja aku tak bertemu dengannya lagi,” gumam Dixa. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak, menunggu buah-buahan yang masak jatuh dari pohonnya. DUG! Sebuah apel jatuh tepat di bawah kaki Dixa.
“Wah… untung ada rezeki,” kata Dixa. Ia pun memakan apel itu sampai habis. “Lumayanlah bisa makan apel. Ini bisa mengganjal lapar,” kata Dixa. Ia mulai memakan daun mint satu persatu.
DOR!
Suara pistol menggema dan memecah kesunyian.
“Kemari kau, anak ingusan!” kata Draganold. Dixa mendelik kaget. Ia melihat Draganold dari kejauhan. “Di situ kau rupanya… hehehe, aku tak bisa menahan nafsu membunuhku lagi, Dixie!” kata Draganold. Ia melihat Dixa dan berusaha menembaknya.
Sayang, Dixa tak cukup cepat sehingga kini Draganold tepat di belakangnya. DOR-DOR-DOR! Pistol terus ditembakkan tak tentu arah. DOR! Lengan atas Dixa terkena timah panas itu.
“Aarrgghh!” erang Dixa. Draganold mencabut pisau di pinggangnya. CROT! Ia menusuk kaki kanan Dixa, lalu tangan kirinya juga ditusuk. SRIT! Pipi Dixa juga tak luput dari goresan pisau.
“Tidak!” jerit Dixa. Ia kembali berlari, sementara darahnya mengucur sepanjang jalan. Ia menuruni jalan landai, dan berhenti di sebuah batang pohon. Dixa memutuskan untuk duduk sebentar.
“Semoga Draganold tak menemukanku,” gumam Dixa.
“Aku tentu menemukanmu, Sayang,” Draganold sudah ada di samping Dixa.
“Tidak! Jangan bunuh aku… tolong… aku masih punya harapan untuk hidup… hiks, hiks…” kata Dixa sambil menangis. “Aku tak tahu bagaimana caranya menghindar dari kejaranmu. Tapi, apa gunanya juga aku hidup jika kau terus mengejarku? Silahkan, bunuh aku jika kau mau,” kata Dixa lagi sambil menyerahkan pisau Draganold yang sudah berlumuran darah Dixa.
Tapi, Draganold tak peduli dengan keadaan Dixa. Ia melarikan diri dengan pisaunya. Malam harinya, Dixa tidur di tempat itu. Draganold kembali, tapi ia tak tahu jika Dixa ada di sampingnya. Dixa pun tidak kaget dan terus berusaha menyalakan api unggun.
ooo0ooo
KREK… KREK…
Suara api unggun terdengar jelas. Malam hari… malam bulan purnama. Lalu…
“Aku ingin sayapku kembali agar bisa keluar dari sini,” gumam Draganold. “Oh, ya, untuk apa berharap? Tidur saja. Aku tak peduli,”
“Aku masih peduli dengan masa depanku,” sahut Dixa. Tak lama kemudian, Draganold tertidur pulas. “Maaf, Drag. Ini terdengar seperti perampasan senjata, tapi aku harus melakukan ini,” gumam Dixa. Ia mendekati Draganold dan mengambil semua senjatanya.
Pistolnya, pelurunya, dan juga tongkatnya. Kenapa Dixa melakukan itu? Seperti berburu sesuatu.
“Banyak orang bilang jika ada satu monster yang menguasai hutan ini. Tapi, itu bukan monster. Itu virus. Dia beralih menjadi wujud nyata. Dan wujudnya adalah… dinosaurus berbulu serigala dan bersayap elang. Mereka memanggilnya Deino. Akan kubunuh monster Deino sebelum ia menyakiti kita semua,” kata Dixa sambil melangkah pergi. KREK… Dixa memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol.
Tiba-tiba…
“GRAARRHH… ROAARRAARRHH…” terdengar suara raungan yang amat keras.
“Deino. Dia ada di sini,” gumam Dixa. DRAP-DRAP-DRAP…
“GRAARRHH…”
“Waaaa!” jerit Dixa. Ternyata benar. Dia berwujud seperti seekor Tyrannosaurus Rex. Berbulu serigala dan bersayap elang. Tubuhnya berwarna biru. Dan di kepalanya ada sepasang tanduk naga. Dixa menembaki Deino. DOR-DOR-DOR! Namun, virus itu seolah tak peduli dengan peluru-peluru yang bersarang di tubuhnya.
Deino tidak membunuh Dixa. Namun, ia menarik perban yang melilit di tangan kiri Dixa dan membawanya pergi.
“Tolong! Tidak! Jangan! Jangan!” jerit Dixa.
ooo0ooo
PLAAKK!
“Bangun! Kau ditahan!” terdengar suara seseorang. Draganold membuka mata merahnya perlahan-lahan. Seorang polisi sedang mengacungkan pistol.
“Ada apa ini, Pak?” tanya Draganold sambil berusaha bangkit. Dia adalah polisi yang kemarin.
“Kau ditahan karena menyiksa seorang remaja bernama Ishida Dixa. Dan ini pisaumu. Lihat, darah Dixa masih terlukis disini,” katanya. Namun, Draganold seolah tak peduli. Ia melihat nametag yang terpasang di dada polisi itu.
“Rifle? Itulah namamu? Hehehe, nama yang keren. Seharusnya, kau menjadi sniper saja agar cocok dengan nama itu,” kata Draganold.
“Kau ditahan!” tegas Rifle. Ia memborgol tangan Draganold dan menggiringnya keluar hutan walau tak berhasil.
“Jangan! Aku harus menemukan Dixa! Dan juga, kau dan aku harus bertahan hidup dari Deino-Virus. Dimana senjataku? Anak payah itu pasti yang merampasnya,” kata Draganold.
“Kau tak butuh lagi senjata di penjara, Draggie,” kata Rifle. Dan…
“ROAARRAARRHH…” Deino meraung. DRAP-DRAP-DRAP… suara langkah kaki monster itu terdengar jelas. Dan dari balik pohon, muncul Deino yang menenteng Dixa.
“Aaaah!” Dixa menjerit. DOR-DOR-DOR! Dixa terus menembaki Deino.
“Jangan kabur! Aku harus melawan Deino! Aku tak punya pilihan selain bertahan hidup! Let’s survival!” teriak Rifle. Ia mengambil pistolnya dan menembaki Deino. Deino mengibaskan ekornya, dan mengenai borgol yang melingkar di tangan Draganold. Borgol itu lepas. Dixa turun dan mendekati Draganold.
“Syukurlah kau selamat! Kau dan Rifle mencariku kemari?” kata Dixa.
“Tidak, dia hendak menangkapku. Dan apa yang kau lakukan?! Kau merampas semua senjataku hanya untuk membunuh monster itu? Dasar tak tahu balas budi! Lagipula, untuk apa aku kasihan padamu jika kau begini?!” bentak Draganold.
“Maafkan aku, Drag. Aku hanya mencoba membunuh Deino agar dia tak menyerang kita,”
“Kalau begitu… berarti kau juga pembunuh. Kau ingin membunuh Deino tanpa alasan yang jelas dan mengorbankan dirimu hanya untuk sebuah pembunuhan konyol? Kau akan menerima akibatnya, Dix,” kata Draganold. “Dan kau juga terlibat kasus pencurian senjata,”
“Jangan!” jerit Dixa. Draganold mengacungkan pisaunya. “Pergi kau! Rifle! Draganold ingin membunuhku!”
“Astaga, Drag! Kau sudah benar-benar keterlaluan!” teriak Rifle. Ia bingung ingin menembak yang mana.
“Sudahlah, polisi! Jika kau keberatan untuk merelakan nyawamu, maka aku akan membantumu!” sahut Draganold. Ia melirik. Di dekat pohon, kebetulan ada sebuah senapan teronggok. Ia mengambilnya dan mengisikannya peluru.
DRRRR…
Ia menembaki Deino. Dixa juga melihat adanya sesuatu yang teronggok. Ia mengambilnya. Menurutmu itu senapan? Bukan. Itu adalah penyembur api.
GROOOOSSSSHHHH…
Api terus menyembur dari mulutnya seperti seekor naga. Namun, Deino seolah tak mempan. Banyak senjata teronggok di sini, dan tengkorak manusia yang berserakan. Di sebuah pohon sequoia besar, tertulis sesuatu.
“DEINO’S NEST”
Sarang Deino. Ini adalah sarangnya, dan pastinya semua adalah milik orang-orang yang datang kemari untuk membunuh Deino. Namun, justru mereka yang terbunuh dan dimangsa oleh monster itu.
Baku tembak terus terjadi. Tak lama kemudian, gas dalam penyembur api itu habis. Dixa menjatuhkannya dan mengambil sebuah shotgun. Akan tetapi, biar ditembak bagaimanapun, Deino tetap tidak mempan terhadap seluruh serangan. Di sisi tubuhnya, tertulis sesuatu.
“BULLETPROOF”
“FIREPROOF”
“WATERPROOF”
Ia tahan terhadap peluru, api, dan air. Benar-benar luar biasa.
“Sekarang, kita tak bisa berbuat apa-apa lagi,” kata Dixa. Mereka bertiga menjatuhkan senjatanya. Deino mendekat selangkah, dan menarik kaki kanan Rifle.
“Tidak! Jangan!” jerit Rifle. Deino terus menyeret kaki Rifle ke belakang. Namun, ia berhasil membela diri dan melepaskan gigitan Deino. Deino meraung dan mendekati mereka. Mereka bertiga terpojok di sebuah pohon sequoia raksasa. Rifle bersandar di tubuh Draganold.
“Jangan bunuh aku,” gumam Rifle.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dixa.
“Entahlah. Mati di sini?” sahut Rifle. Draganold melepaskan Dixa.
“Tidak, bukan. Yang kita bisa hanyalah… LARI!” jerit Draganold. Ia berlari diikuti Rifle dan Dixa. Sementara itu, Deino mengejarnya. Tiba-tiba, mereka merasa panas. Hutan belantara itu terbakar secara misterius. Apakah mereka akan terpanggang, atau selamat. Dari kejauhan, terlihatlah sesuatu.
Seekor pterodactyl besar dengan tubuh yang diselimuti api. Sayapnya membentang dan membakar seluruh hutan tersebut. Ia juga mengejar-ngejar mereka. Kali ini, dua monster mengerikan memburu mereka. Dan tak akan berhenti sebelum mendapatkan mereka bertiga.

BERSAMBUNG…

*oh, ya. Kalo ini fotonya si Rifle

DIXA’S BATTLE STORIES

Halo! Aku ada serial cerita baru buat kalian! Ini dia, Dixa’s Battle Stories! Lho, kok battle, sih? Iyalah, ini kan, beda sama Dixa’s Journey yang ceritanya lebih berfokus pada petualangan. Sekarang, cerita ini lebih bergenre action dan fantasi. Wah, pasti penasaran, kan? Ada tiga cerita yang masuk dalam serial Dixa’s Battle Stories, yakni:
1.    D’ Virus Wars: Adalah cerita tentang Dixa, Draganold, dan seorang polisi yang mimpinya dimasuki oleh sistem virus. Karena bingung, mereka mencari tahu apa penyebabnya dan mendapatkan alasan logis yang mengerikan. Mereka akan segera diserang virus yang beralih wujud ke dunia nyata dan berniat menyerang Machine City. Pertarungan antara hidup dan mati dengan virus pecah.

2.    Robots Attack!: Adalah cerita tentang Dixa yang mendapati sebuah pesan e-mail misterius dari sebuah robot. Robot ini tergabung dalam kelompok Robotz Warrior, sekelompok robot teroris yang berbahaya. Akhirnya, Dixa pun menciptakan sebuah robot humanoid yang memiliki kekuatan listrik untuk mengalahkannya. Pertarungan hebat pun terjadi!

3.    The Nest of Death: Adalah cerita tentang Dixa yang kembali berjalan-jalan di planet Monsters. Namun, ia penasaran pada sebuah lubang dalam dan memasukinya dengan pakaian yang aman. Akan tetapi, Dixa tahu jika itu adalah sarang dari Nuclear Dragons, spesies dari Draganold yang berbahaya. Dixa pun harus bertahan hidup dari mereka dan tempat yang penuh radiasi nuklir itu. Nah, seru kan, sinopsisnya? Bagaimana, udah nggak sabar, kan? Ditunggu, ya!

IT IS MY WORK FACEBOOK FANSPAGE!

Halo, semua! Udah sering baca postinganku, kan? Pasti udah, dong, aku yakin. Nah, sekarang, aku mau kasih info ke kalian, nih. Bagi kalian yang udah punya Facebook, atau pinjam akun siapa gitu, kek, ada berita gembira, lho! It Is My Work udah ada fanspage-nya di Facebook! Yo, silahkan dibuka. Eh, jangan lupa nge-like fanspage-nya, ya. Tapi maaf, aku nggak pasang iklan di Facebook. Jadinya, kalian harus buka di kolom “cari orang”. Nah, udah gitu, kalian cari aja tulisan It Is My Work. Belum jelas?

*Nih, admin kasih foto profilnya.

Kalo udah ketemu, langsung aja di-like. Oke, udah puas infonya? Apa? Belum juga, belum tahu foto sampulnya?

*Ini foto sampulnya.


Lihat sendiri di Facebook, bro. Silahkan dibuka, ya. Oh, ya. Satu lagi. Kalo udah kalian like, nanti kasih kabar ke aku di kolom comment. Comment di blog ini, lho. Comment di Facebook juga bisa, kok. Jangan lupa, ya!

Sabtu, 24 Desember 2016

DAFTAR KARAKTER CREEPYPASTA PALING TERKENAL


Karakter Creepypasta? Apaan tuh, Creepypasta? Creepypasta adalah plesetan dari copypasta menjadi Creepypasta yang bercerita tentang cerita seram. Nah, sekarang ini aku mau membahas soal karakter-karakter Creepypasta terkenal yang tentunya juga favoritku. Let's check it out!

1. Jeff The Killer
Hayo, siapa yang nggak kenal sama karakter yang satu ini? Yup, siapa lagi kalau bukan Jeff The Killer? Dia itu karakter favoritku. Nama aslinya adalah Jeffrey Woods. Dan saat sudah menjadi pembunuh, kalian tahu lah, ciri-cirinya Jeff itu gimana. Si Jeff bersenjatakan pisau, selalu memakai jumper putih, selalu tersenyum dan matanya besar. Memang bibirnya robek, sih, terus nggak punya kelopak mata. Hii, serem.

2. Slenderman
Nih apalagi. Yang nggak kenal kebangetan! Inilah dia, si Slenderman. Slenderman itu artinya pria kurus/jangkung. Nggak punya mata, hidung, atau mulut, mukanya datar. Tentakelnya banyak, dan punya anak buah. Yakni, Ticci Toby, Masky, dan Hoodie.

3. Homicidal Liu
Homicidal Liu adalah kakaknya Jeff The Killer. Penampilannya: Selalu memakai syal, jaket, dan matanya hijau. Senjatanya sih, pisau juga kayak Jeff. 

4. Ticci Toby
Ticci Toby. Hmmh... mungkin kalian agak asing dengan dia. Ticci Toby adalah anak buahnya Slenderman juga. Selalu ingatlah penampilannya. Pakai jaket, tudung, kacamata kuning, dan senjatanya kapak. 

5. Eyeless Jack
Eyeless Jack ini mudah dikenali. Topeng biru, mata bolong. Iyalah, kan Eyeless. Oh, ya. Eyeless Jack ini bukan hanya sekedar pembunuh, lho. Biasanya, setelah membunuh korbannya, Eyeless Jack bakal memakan ginjal korbannya. Seram...

6. Laughing Jack
Laughing Jack ini adalah badut. Lihat aja bajunya. Kerjaannya pastilah ketawa. Laughing kan, tertawa. Nuansanya hitam putih dan hidung runcing. Dan saat membunuh dia itu punya modus. Menawarkan permen kepada anak-anak kecil. Kalo si anak tertarik, ya tau sendiri, kan? Entahlah dia senjatanya apa.

7. Ben Drowned
Ben Drowned ini adalah karakter yang ada di dalam game The Legend of Zelda: Majora Mask. Aku sih, pernah mainin karakter Ben di game apa gitulah, pokoknya pertarungan karakter nintendo sama karakter anime juga gabung. Tapi mukanya nggak serem gini. Oh, ya. Drowned artinya tenggelam, lho.

Bagaimana? Puas kan, dengan info Creepypasta-nya? Kalau aku juga punya karakter sadis, tapi bukan Creepypasta. Mighty Wolf. Lho, itu kan, nama blog aku. Iya, itu juga nama penaku. Mighty Wolf itu adalah versi gelap dari Carlos Casena, kakak sepupunya Dixa. Werewolf, kanibal, senjatanya samurai. Weh, kalau sudah puas, okelah, bye-bye!

Jumat, 23 Desember 2016

FEELINGS (PART 6): WHEN EVERYTHING HAS END


“Kenapa Karin harus dipenjara begitu, sih? Kasihan, kan? Siapa yang melakukan ini, maka akan mendapat balasannya dariku!” teriak Haruka.
“Sudahlah, Haruka. Pengganggu itu memang sudah berubah.Dia bukan lagi Karin yang kau kenal dulu.Di dalam dirinya, ia memang selalu ingin tinggal di penjara,” celetuk Koto.
“Apa katamu?!”
“Dia memang seharusnya di sana, Haruka,”
“Aku akan datang ke sana nanti!” kata Haruka.Ia pun berbalik meninggalkan Koto.
ooo0ooo
“Tidurlah, Karin. Aku yakin, kau akan segera bertemu Shiro nantinya. Tenanglah, Shiro ada di sini,” kata Harada dengan lembut.Ia membelai rambut cokelat Karin.
“Aku tak bisa tidur, Harada,” sahut Karin.
“Tenang saja.Biar aku yang mengurus semuanya.Kau tak usah panik, sis. Aku bisa mengurus semua keperluanmu,”
“Aku tidak mengantuk!” bentak Karin.Harada menghilang begitu saja.
TOK-TOK-TOK…
“Karin, kau belum bisa tidur?” terdengar suara seorang lelaki.
Yuichi.
“Yuichi?Kau di sini?Iya, aku belum bisa tidur, nih,” sahut Karin.“Kenapa aku selalu dilayani olehmu?Dan hanya kaulah sipir penjara yang mau berbaik hati pada tahanan sepertiku.Dan juga hanya akulah yang kau perhatikan? Kenapa?” tanya Karin. Yuichi membuka jeruji besinya.Karin pun keluar.
“Karin… aku melakukan itu karena aku… aku me…” kata Yuichi tergagap. DEG! Jantung Karin berdegup kencang.
“Aku benar-benar me…”
“Aahh… kurasa, kau tak perlu menjelaskannya padaku,” kata Karin sambil mengernyitkan dahinya.
“Tidak, tidak, Karin.Aku bisa menjelaskannya.Itu karena aku benar-benar me… aku benar-benar mengenalimu,” kata Yuichi.
“Tentu saja kau mengenaliku. Aku kan, sudah lama berada di sini. Dan kau juga berbohong.Itu bukan sebenarnya yang ingin kau katakan padaku,” sahut Karin sambil berbalik. TEPP… Yuichi menggandeng tangan Karin.
“Jangan… kau harus rileks dulu.Ayo, ikut aku.Jangan emosi dulu, kau akan melihat sesuatu yang tak pernah kau lihat seumur hidupmu, Karin-chan,” kata Yuichi.Ia mengajaknya keluar. Lapangan tahanan. Yuichi membawanya ke sana. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya.Bulan purnama bersinar terang.
Rambut cokelat Karin berkibar perlahan.Ia melongok keatas.
Rasi bintang Taurus.
Rasi bintang Leo.
ooo0ooo
Dahulu, mereka saling merayakan ulang tahun bersama.Namun sayang, mereka sudah meninggal.
ooo0ooo
“Akh!” jerit Karin.
“Ada apa?” tanya Yuichi.
“Aku mengingat sesuatu. Sesuatu yang tak pernah kualami seumur hidupku, tapi aku merasa seperti pernah mengalaminya,”
“Teruskan,”
ooo0ooo
Dahulu, mereka saling menyuapi makanan satu sama lain. Namun sayang, mereka sudah meninggal.
ooo0ooo
“Takoyaki.Dia pernah menyuapiku takoyaki.Aku menyuapinya sushi,” kata Karin.
“Teruskan,” suruh Yuichi.
ooo0ooo
Dahulu, mereka pernah berpelukan erat.Namun sayang, mereka sudah meninggal.
ooo0ooo
“Aku mengerti semua ini!” jerit Karin.“Aku pernah mengalaminya.Aku pernah mengalaminya dulu sekali.20 tahun yang lalu. Namun sayang, tak lama kemudian aku meninggal,”
“Aku juga mengingatnya.Aku mengalami hal sama denganmu,” sahut Yuichi. “Berarti… aku pernah hidup sebagai orang yang berbeda,”
ooo0ooo
Pagi itu, Haruka rajin sekali sudah menyiapkan segalanya.Makanan, botol minum, dan sepucuk pistol beserta 10 butir peluru.
“Haruka… kau mau kemana pagi-pagi buta begini?” tanya kakaknya.
“Bukan urusanmu.Aku akan mengunjungi sahabatku,” sahut Haruka.
“Ya, ya. Kau akan mengunjungi sahabatmu. Tapi kenapa kau membawa pistol, sih? Kau akan membunuhnya, ya?”
“Sejak kapan aku membunuh? Aku akan berjaga-jaga jika ada orang jahat. Tempat sahabatku itu dihuni oleh ratusan orang jahat yang siap menyerangku kapan saja,” sahut Haruka sambil melangkah keluar kamarnya.Namun, sang Kakak tahu apa yang ingin dilakukan oleh adiknya.
Mengunjungi Karin di penjara.
“Ketahuan kau, Haruka.Kau bersahabat dengan tahanan itu. Dan kau juga akrab dengan sipir penjara itu, sama seperti sahabatmu. Tahanan itu akan segera mati. Dan sipir penjara itu juga akan mati,” gumam kakaknya.Ia menyeringai. “Tapi sesungguhnya, aku bukanlah kakakmu. Kakakmu tidur di dalam peti mati untuk selamanya,”
Sosok lelaki itu membuka wig-nya yang berwarna hitam, dan mencopot soft lens-nya yang berwarna kelabu.Terlihatlah mata kuningnya yang terang.Ia memakai topeng scream-nya dan membuntuti Haruka.
SRING!
Ia mengeluarkan pisau putih transparan. Senjata dari masa depan.
“Entah kenapa aku bisa berada di zaman ini.Padahal, ini sudah 142 tahun yang lalu,” gumamnya.“Oh, ya.Aku ingat sekarang.Aku kembali ke zaman ini karena alasan yang tidak logis bagi sebagian orang. Membunuh,”
ooo0ooo
“Hooaahhmm…” Karin menguap dan menggeliat.Ia melihat sekelilingnya. Para tahanan yang lain lenyap. Seorang penjaga datang.
“Nona, ada tamu untukmu,” katanya.Ia membuka jeruji besinya. Masuklah seorang gadis remaja seumurannya dengan rambut pink yang mencolok.
“Haruka?”Karin terkejut.
“Karin?” Haruka membalas.Kedua sahabat itu saling berpelukan.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Karin.
“Aku hanya rindu kepadamu.Ini, kau sudah sarapan, belum?Aku bawakan takoyaki kesukaanmu.Aku yang memasaknya sendiri, lho,” kata Haruka.Ia menyodorkan sebuah kotak makan berisi takoyaki yang masih hangat. Karin menghirup aroma enak dari takoyaki tersebut.Ia memakannya perlahan, lalu habis.
TOK-TOK-TOK!
Sebuah tongkat dipukulkan pada jeruji besi.Karin menoleh. Senyum manis merekah dari bibir lelaki itu.
“Ayo, Karin. Kita keluar,” katanya.Karin mengangguk.
“Yuichi, biar kuperkenalkan sahabatku. Ini Haruka. Beri salam, Yuichi,” kata Karin.
“Tak perlu, Rin.Aku sudah mengenal Yuichi sejak lama sekali.Bahkan jauh sebelum aku mengenalmu.Aku sahabatnya sejak kami masih berusia 10 tahun,” sahut Haruka.Karin tersenyum. Kemudian, ia bangun dari kasurnya dan melangkah keluar.
“Si Karin ada?”
“Oh, dia baru saja keluar. Tapi, aku tak tahu dia dimana sekarang,”
“Jadi… kau tak ingin memberitahukannya padaku?Ya sudah. Bersiaplah untuk… mati,”
CROT!
“Aakkhh!”
“Ada apa di sana?” tanya Yuichi pada dirinya sendiri. Ia menoleh ke belakang diikuti Karin dan Haruka. Penjaga itu telah tewas berlumuran darah. Sementara itu, tampak sekelebat bayangan melesat cepat dari kejauhan.
“Pembunuh!!!!!!” jerit Karin.
“Biar kukejar dia. Kalian tunggu saja di sini!” tegas Yuichi.Ia melangkah ke depan. NGEK… Karin menarik tangannya.
“Jangan.Pokoknya jangan.Kau bisa terbunuh olehnya,” rayu Karin.
“Tidak, Karin. Jika aku tak segera bertindak, maka akan ada lebih banyak korban,” sahut Yuichi.Ia melepaskan pegangan tangan Karin dan melesat cepat mengejar pembunuh kejam itu. Sayangnya, para penjaga tak ada yang datang mengejarnya. Mereka tidak tahu jika teman mereka sudah tewas. Dan akhirnya, Yuichi juga yang harus turun tangan.
“Haruka, ayo. Kita harus memperingatkan para penjaga dan tahanan yang lain untuk mencari pembunuh itu,” ajak Karin.
“Ya, kita harus cepat!” sahut Haruka.Mereka berdua berlari menuju lapangan tahanan. Karin berhenti di depan. Sepertinya, mereka tak tahu jika bahaya sedang mengintai mereka.
“Semuanya!!! Kalian harus waspada!!! Ada pembunuh di penjara ini!!! Dia telah membunuh seorang penjaga!!! Waspadalah!!!” teriak Karin.
“Apakah kami akan mempercayaimu, Nak?Tentu tidak, hahahaha!” sahut seorang penjaga.
“Sial, mereka tidak mau mendengar. Di mana Yuichi?” tanya Karin.
“Awas kau!Kembali!” terdengar suara Yuichi.Semua orang yang ada di lapangan menoleh.Yuichi mengejar pembunuh bertopeng itu sampai ke lapangan. Sepertinya, ia sangat berbahaya. Pembunuh itu mengacungkan pisau transparan miliknya.Namun, Yuichi berhasil memojokannya dan dikelilingi oleh para penjaga.
“Kau tak bisa kemana-mana lagi sekarang,” kata salah seorang penjaga.
“Kalian siap? Para tahanan! Bantu kami! Sekarang, kalian dianggap sebagai pembantu, oke?!Kalahkan sialan ini!” suruh Yuichi. CREK…
Haruka mengisi pistolnya dengan peluru.
“Inilah kenapa aku membawa pistol.Jika dia berusaha membunuhku, maka aku akan membunuhnya,” kata Haruka. Para tahanan yang lain mengambil senjata seadanya. Mereka mengambil batu koral besar. “Kau punya senjata?” tanya Haruka.
“Tidak,” sahut Karin.
“Baiklah, kurasa kau akan punya ide bagus untuk mengalahkannya tanpa senjata,” kata Haruka. DOR! Suara tembakan pistol memecah keramaian, membuat semua orang terdiam.
“Jangan biarkan pembunuh itu lari!” teriak Haruka.
“Hajar dia!!!” teriak Yuichi. BAK-BUK-BAK-BUK! Semua orang yang tampak di sana terus memukulinya dan melemparinya dengan batu. KRAK… topeng scream yang dikenakannya retak dan jatuh.Ia menutupi wajahnya dengan tudung. CREK… ia mengeluarkan senjatanya. Sebuah senapan modern nan futuristik kini ada di tangannya. SYAT! SYAT! SYAT!
Senapan itu menembakan laser yang hanya sekedip mata, dan membunuh sebagian dari mereka.Satu persatu mayat bergelimpangan dengan lubang di dadanya. DOR-DOR-DOR! Haruka menembaki pembunuh itu.Namun, ikat pinggang yang dikenakannya melindunginya.Medan magnet kembali memantulkan peluru-peluru itu.Haruka tidak menyerah menembakinya.Medan magnet itu pun menghilang, dan dia merebut pistol dari tangan Haruka.
DOR! DOR! DOR!
“Aarrgghh!”Yuichi mengerang kesakitan.Sebuah peluru masuk ke dalam betisnya, pinggangnya, dan lengan kiri atasnya.Seragamnya basah oleh darah.
“Yuichi, kau baik-baik saja?” tanya Haruka.
“Aku baik… jangan biarkan dia lolos… kau harus menelpon polisi, cepat!” suruh Yuichi.Haruka mengambil ponselnya dan menelpon polisi.Tak lama kemudian, polisi datang.Helikopter juga datang dan mendarat di lapangan.Polisi menerobos masuk ke dalam pagar dan memasuki lapangan.
“Berhenti!Jangan ada yang bergerak!” teriak seorang polisi.SYAT! SYAT! Dua orang polisi tewas. Bahkan Kevlar yang mereka pakai tak mampu melindungi tubuh mereka dari kilatan laser.
“Dia berbahaya… Kevlar pun tak mampu melindungi tubuh.Berarti… aku harus mengalahkan pembunuh itu… sendirian,” kata Yuichi.Ia bangkit dan mengambil tongkatnya. “Kau adalah calon tahanan di sini, bro,”
“Oh, ya?Kurasa tidak,” sahutnya.Ia menyingkap tudungnya. Karin, Haruka, dan Yuichi terbelalak kaget. “Akhirnya kalian ingat juga,”
“Koto?!” seru mereka bertiga.Ternyata, itu adalah Koto.Benar-benar mengerikan.
“Kedatanganku sudah diramalkan oleh sepupumu yang telah bunuh diri, Karin.Takeda.Takeda meramalkanku lewat short film berjudul The Time Traveler.Aku memang seorang berandalan yang akhirnya menjadi psikopat.Koto.Aku berasal dari tahun 2158, 142 tahun dari sekarang,” kata Koto.
“Aku adalah sosok dibalik semua ini, Karin!Aku pernah membunuhmu.Harada.Shiro.Mereka sudah pernah kubunuh. Tapi ternyata, aku menemukan Harada lagi dan ingin kubunuh saja dia. Aku memfitnahnya, aku yang mencuri tas wanita itu. Aku yang membunuh pria itu.Aku yang menyuap hakim agar dia menolak mentah-mentah omonganmu dan kau masuk ke dalam penjara!”
“Tidak mungkin…” kata Karin.Ia mulai mengingat sebagian memori dalam kehidupan lamanya sebagai Harada. Ia mengingat bagaimana Shiro melindunginya. Dan ia merasakan keberadaan Shiro di sini. Bereinkarnasi sebagai seorang lelaki.
Yuichi bangkit.Ia menyeringai dan mengangkat tongkatnya. Ia memukuli Koto habis-habisan dan Koto berusaha menembaknya. Namun, Yuichi dengan gesitnya menghindar.Ia berhasil melumpuhkan Koto.
“Kenapa kau sangat ingin bertarung denganku? Padahal kau bukanlah target utamanya. Target utamanya adalah Karin!” kata Koto.
“Itu karena aku tak ingin Karin jadi targetnya! Biarlah aku yang jadi targetnya!” sahut Yuichi.
“Kau ditahan, Nak,” kata seseorang.Polisi itu meringkus Koto.Ia menjerit sejadi-jadinya saat dipaksa masuk ke dalam mobil polisi. Para polisi berlalu begitu saja, dan penjara kembali seperti sedia kala.Para tahanan dan penjaga kembali bersantai di lapangan.
“Shiro ada di dekatmu,” terdengar suara Harada.Karin kini tahu siapa Shiro.SRASH… hujan mulai turun.Karin mendekati Yuichi.Semua tahanan dan penjaga menoleh untuk menonton Karin dan Yuichi.
KRIK…
“Yuichi… terima kasih telah melindungiku,” kata Karin.
“Tak apa, Harada,” sahut Yuichi.
“Akhirnya kau ingat siapa aku.Aku pun ingat siapa kau.Shiro?Kau adalah reinkarnasi dari Shiro.Kini aku tahu kenapa kau selalu mengistimewakanku.Karena jiwamu,” kata Karin.Yuichi tersenyum.Karin mulai menangis. “Kini aku telah menemukanmu… aku menemukanmu… aku menemukanmu di kehidupan yang lain. Aku sangat merindukanmu.Hiks, hiks,” kata Karin.Ia mendekatkan kepalanya di tubuh Yuichi. Yuichi memeluk Karin erat-erat.
Haruka tersenyum.Karin menangis di dalam pelukan Yuichi.Semua yang ada di lapangan itu berbinar-binar melihat mereka berdua.
“Cieeee…” kata mereka.
“Aku juga telah menemukanmu, Karin,” kata Yuichi.
ooo0ooo
Malam berhujan itu, Karin dibebaskan dari penjara. Liburan 2 bulan sudah habis, dan besok ia harus bersekolah. Keesokan harinya…
Karin memarkir sepedanya.Ia berjalan di lapangan sekolah dan menuju kelasnya.
“Karin!” jerit Haruka.Ia melambaikan tangannya pada Karin. Koto tidak ada di sini.Sora dan Kai telah berhenti mengikuti Koto dan berhenti menjadi berandalan. Kini, ia berteman dengan Haruka dan sang ketua kelas. Haruka memeluk Karin.Ia melepaskan pelukannya dan duduk di kursinya.
“Oh, ya. Kau kan, belum pernah mengenal sang ketua kelas, bukan?”
“Aku tak pernah dapat kesempatan untuk mengenalnya,” sahut Karin.
“Kemarilah, kau pasti mengenalinya,” kata Haruka.Karin berjalan menunduk.Ia menemukan sang ketua kelas dan berjabat tangan dengannya. Tangannya begitu dingin, seperti tangan Yuichi.
“Hai, aku Karin,” kata Karin.
“Hei, jangan hanya menengok ke bawah.Menengoklah keatas,” suruh Haruka.Karin menengok ke atas.
“Kenapa kau tak pernah bilang?Kenapa aku tak pernah mengenalmu di sekolah ini?Yuichi?”Karin begitu kaget.
“Yeah, tentu saja ini aku.Kan, sudah kubilang, aku masih 17 tahun.Pastinya aku masih sekolah,” sahut Yuichi. KRIK…
Deritan jam tangan Yuichi yang dipakai Karin berbunyi. Sekarang Karin mengerti kenapa jam itu berderit. Jam itu berderit ketika pemakainya merasakan sebuah perasaan. Baik itu marah ataupun senang.

“Well, kau tahu? Kini aku telah mengerti kenapa aku begitu kesulitan sepanjang hidupku.Karena Koto yang berhasil meluapkan perasaan marahku.Kenapa aku begitu senang sekarang.Karena Yuichi berhasil meluapkan perasaan senangku.Dan semua perasaan itu kini teraduk menjadi satu berkat mereka yang telah meluapkan perasaanku.So much feelings in my life!”
TAMAT

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...