Rabu, 28 Desember 2016

D’ VIRUS WAR (PART 1): FIREFIGHT AT THE DREAM

Malam itu, Dixa sedang bermain PS di ruang keluarga.
“Hiyyaahh! Terus! Terus! Woo, aku paling suka ini! Firefight!” seru Dixa yang sedang berada dalam “baku tembak” bersama para tentara jahat. Game tembak-tembakan. Ia sedang memainkannya sekarang.
“Kau sepertinya serius sekali bermain game. Aku memainkan game balap mobil, tapi tidak heboh sepertimu,” terdengar suara lelaki yang sedang tiduran di atas sofa.
“Oh, tentu. Aku kan, heboh, bro,” sahut Dixa. Suara itu sangat dikenali Dixa. Suara musuhnya dulu. Lelaki itu turun dari sofa dan melipat tangannya di dada. Memperhatikan game yang dimainkan oleh Dixa. “Jangan terlalu serius, nanti kepalamu pusing,”
“Diam kau. Aku sedang menembaki mereka!” sahut Dixa. Lelaki itu tersenyum. Usianya sudah 27 tahun, tapi fisik dan wajahnya seperti remaja 17 tahun. Ia memakai kaos oblong berwarna putih dengan celana panjang longgar berwarna hitam. Rambutnya berwarna merah terang, begitupun dengan matanya.
Alami, bukannya disemir. Di atas kepalanya, berdirilah sepasang tanduk berbentuk petir. Tentulah kau tahu siapa dia.
Draganold Bruno.
“Kau mau main sampai larut malam, terserah. Aku sudah ngantuk,” kata Draganold. Ia melihat arlojinya. Sebuah tulisan terpampang di sisi arloji tersebut.
“MADE BY DRAGANOLD”
Arloji yang ditemukan Dixa di Antartika. Lalu, Draganold naik keatas tangga, dan tidur di kamar Dixa. Tak lama kemudian, Dixa merasa bosan dengan game. Ia pun mematikannya dan naik keatas untuk tidur.
“Drag… kenapa kau tidur di lantai?” tanya Dixa.
“Oh, sengaja. Kau ingin tidur di kasur, kan?” sahut Draganold.
“Maksudku, temani aku. Sepi…” kata Dixa. Draganold mengangguk dan tidur bersama Dixa diatas kasur. Sekarang, mereka seakrab ini. Naga itu sudah berubah drastis. Dixa memasang earphone di telinganya untuk mendengarkan lagu. Lalu, kesadaran mereka berdua hilang.
“Zzzzz…”
ooo0ooo
“Angkat tangan!” terdengar suara seorang lelaki.
“Kubilang, angkat tanganmu!” lelaki itu membentak. Dixa membuka matanya perlahan. Ia melihat sahabatnya, Draganold, sedang mengacungkan sepucuk pistol di dagunya. “Kalau tidak… aku akan menembakmu, bro…”
“Apa yang terjadi? Bukankah kita sahabat?” kata Dixa kebingungan.
“Sahabat? Mimpi saja kau! Sejak kapan kita bersahabat? Huh, kali ini, aku tak akan melepaskanmu. Akan kubunuh kau. Jika saja kau kabur, maka aku akan mengejarmu sampai dapat!” sahut Draganold. Dixa mundur selangkah melihat Draganold kembali seperti dulu. Ia mengenakan seragam sipir penjara dan membawa banyak peluru.
“Tidak mau… tidak… mau…” kata Dixa. Ia melihat sebuah hutan belantara di sampingnya. Sementara itu, suara sirine mobil polisi semakin mendekat. Dixa menoleh. Mobil itu berhenti, dan seorang petugas polisi keluar dari dalam mobil dan mengacungkan pistol.
“Berhenti kau, naga bengis! Kemari!” katanya.
“Diaaaam!” bentak Draganold. DOR! Ia menembak kaki polisi itu.
“Aw! Jangan coba-coba…” polisi itu berusaha bangkit. Sementara Dixa ketakutan dan lari masuk ke dalam hutan.
“Hei, jangan lari! Akan kubunuh kau! Tunggu, anak ingusan!” teriak Draganold sambil mengejar Dixa. Sementara Dixa terus lari ke dalam hutan. DOR-DOR-DOR! Draganold juga terus menembak tak tentu arah. Lama kelamaan, ia kelelahan mengejar Dixa. Dixa menghilang.
“Hah… hah… tunggu saja kau! Hah… hah… aku akan… mem… bu… nuh… mu…!!!” kata Draganold. Dixa tak lagi mendengarnya, namun ia dapat mendengar gema suaranya dari kejauhan.
“Oh, semoga saja aku tak bertemu dengannya lagi,” gumam Dixa. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak, menunggu buah-buahan yang masak jatuh dari pohonnya. DUG! Sebuah apel jatuh tepat di bawah kaki Dixa.
“Wah… untung ada rezeki,” kata Dixa. Ia pun memakan apel itu sampai habis. “Lumayanlah bisa makan apel. Ini bisa mengganjal lapar,” kata Dixa. Ia mulai memakan daun mint satu persatu.
DOR!
Suara pistol menggema dan memecah kesunyian.
“Kemari kau, anak ingusan!” kata Draganold. Dixa mendelik kaget. Ia melihat Draganold dari kejauhan. “Di situ kau rupanya… hehehe, aku tak bisa menahan nafsu membunuhku lagi, Dixie!” kata Draganold. Ia melihat Dixa dan berusaha menembaknya.
Sayang, Dixa tak cukup cepat sehingga kini Draganold tepat di belakangnya. DOR-DOR-DOR! Pistol terus ditembakkan tak tentu arah. DOR! Lengan atas Dixa terkena timah panas itu.
“Aarrgghh!” erang Dixa. Draganold mencabut pisau di pinggangnya. CROT! Ia menusuk kaki kanan Dixa, lalu tangan kirinya juga ditusuk. SRIT! Pipi Dixa juga tak luput dari goresan pisau.
“Tidak!” jerit Dixa. Ia kembali berlari, sementara darahnya mengucur sepanjang jalan. Ia menuruni jalan landai, dan berhenti di sebuah batang pohon. Dixa memutuskan untuk duduk sebentar.
“Semoga Draganold tak menemukanku,” gumam Dixa.
“Aku tentu menemukanmu, Sayang,” Draganold sudah ada di samping Dixa.
“Tidak! Jangan bunuh aku… tolong… aku masih punya harapan untuk hidup… hiks, hiks…” kata Dixa sambil menangis. “Aku tak tahu bagaimana caranya menghindar dari kejaranmu. Tapi, apa gunanya juga aku hidup jika kau terus mengejarku? Silahkan, bunuh aku jika kau mau,” kata Dixa lagi sambil menyerahkan pisau Draganold yang sudah berlumuran darah Dixa.
Tapi, Draganold tak peduli dengan keadaan Dixa. Ia melarikan diri dengan pisaunya. Malam harinya, Dixa tidur di tempat itu. Draganold kembali, tapi ia tak tahu jika Dixa ada di sampingnya. Dixa pun tidak kaget dan terus berusaha menyalakan api unggun.
ooo0ooo
KREK… KREK…
Suara api unggun terdengar jelas. Malam hari… malam bulan purnama. Lalu…
“Aku ingin sayapku kembali agar bisa keluar dari sini,” gumam Draganold. “Oh, ya, untuk apa berharap? Tidur saja. Aku tak peduli,”
“Aku masih peduli dengan masa depanku,” sahut Dixa. Tak lama kemudian, Draganold tertidur pulas. “Maaf, Drag. Ini terdengar seperti perampasan senjata, tapi aku harus melakukan ini,” gumam Dixa. Ia mendekati Draganold dan mengambil semua senjatanya.
Pistolnya, pelurunya, dan juga tongkatnya. Kenapa Dixa melakukan itu? Seperti berburu sesuatu.
“Banyak orang bilang jika ada satu monster yang menguasai hutan ini. Tapi, itu bukan monster. Itu virus. Dia beralih menjadi wujud nyata. Dan wujudnya adalah… dinosaurus berbulu serigala dan bersayap elang. Mereka memanggilnya Deino. Akan kubunuh monster Deino sebelum ia menyakiti kita semua,” kata Dixa sambil melangkah pergi. KREK… Dixa memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol.
Tiba-tiba…
“GRAARRHH… ROAARRAARRHH…” terdengar suara raungan yang amat keras.
“Deino. Dia ada di sini,” gumam Dixa. DRAP-DRAP-DRAP…
“GRAARRHH…”
“Waaaa!” jerit Dixa. Ternyata benar. Dia berwujud seperti seekor Tyrannosaurus Rex. Berbulu serigala dan bersayap elang. Tubuhnya berwarna biru. Dan di kepalanya ada sepasang tanduk naga. Dixa menembaki Deino. DOR-DOR-DOR! Namun, virus itu seolah tak peduli dengan peluru-peluru yang bersarang di tubuhnya.
Deino tidak membunuh Dixa. Namun, ia menarik perban yang melilit di tangan kiri Dixa dan membawanya pergi.
“Tolong! Tidak! Jangan! Jangan!” jerit Dixa.
ooo0ooo
PLAAKK!
“Bangun! Kau ditahan!” terdengar suara seseorang. Draganold membuka mata merahnya perlahan-lahan. Seorang polisi sedang mengacungkan pistol.
“Ada apa ini, Pak?” tanya Draganold sambil berusaha bangkit. Dia adalah polisi yang kemarin.
“Kau ditahan karena menyiksa seorang remaja bernama Ishida Dixa. Dan ini pisaumu. Lihat, darah Dixa masih terlukis disini,” katanya. Namun, Draganold seolah tak peduli. Ia melihat nametag yang terpasang di dada polisi itu.
“Rifle? Itulah namamu? Hehehe, nama yang keren. Seharusnya, kau menjadi sniper saja agar cocok dengan nama itu,” kata Draganold.
“Kau ditahan!” tegas Rifle. Ia memborgol tangan Draganold dan menggiringnya keluar hutan walau tak berhasil.
“Jangan! Aku harus menemukan Dixa! Dan juga, kau dan aku harus bertahan hidup dari Deino-Virus. Dimana senjataku? Anak payah itu pasti yang merampasnya,” kata Draganold.
“Kau tak butuh lagi senjata di penjara, Draggie,” kata Rifle. Dan…
“ROAARRAARRHH…” Deino meraung. DRAP-DRAP-DRAP… suara langkah kaki monster itu terdengar jelas. Dan dari balik pohon, muncul Deino yang menenteng Dixa.
“Aaaah!” Dixa menjerit. DOR-DOR-DOR! Dixa terus menembaki Deino.
“Jangan kabur! Aku harus melawan Deino! Aku tak punya pilihan selain bertahan hidup! Let’s survival!” teriak Rifle. Ia mengambil pistolnya dan menembaki Deino. Deino mengibaskan ekornya, dan mengenai borgol yang melingkar di tangan Draganold. Borgol itu lepas. Dixa turun dan mendekati Draganold.
“Syukurlah kau selamat! Kau dan Rifle mencariku kemari?” kata Dixa.
“Tidak, dia hendak menangkapku. Dan apa yang kau lakukan?! Kau merampas semua senjataku hanya untuk membunuh monster itu? Dasar tak tahu balas budi! Lagipula, untuk apa aku kasihan padamu jika kau begini?!” bentak Draganold.
“Maafkan aku, Drag. Aku hanya mencoba membunuh Deino agar dia tak menyerang kita,”
“Kalau begitu… berarti kau juga pembunuh. Kau ingin membunuh Deino tanpa alasan yang jelas dan mengorbankan dirimu hanya untuk sebuah pembunuhan konyol? Kau akan menerima akibatnya, Dix,” kata Draganold. “Dan kau juga terlibat kasus pencurian senjata,”
“Jangan!” jerit Dixa. Draganold mengacungkan pisaunya. “Pergi kau! Rifle! Draganold ingin membunuhku!”
“Astaga, Drag! Kau sudah benar-benar keterlaluan!” teriak Rifle. Ia bingung ingin menembak yang mana.
“Sudahlah, polisi! Jika kau keberatan untuk merelakan nyawamu, maka aku akan membantumu!” sahut Draganold. Ia melirik. Di dekat pohon, kebetulan ada sebuah senapan teronggok. Ia mengambilnya dan mengisikannya peluru.
DRRRR…
Ia menembaki Deino. Dixa juga melihat adanya sesuatu yang teronggok. Ia mengambilnya. Menurutmu itu senapan? Bukan. Itu adalah penyembur api.
GROOOOSSSSHHHH…
Api terus menyembur dari mulutnya seperti seekor naga. Namun, Deino seolah tak mempan. Banyak senjata teronggok di sini, dan tengkorak manusia yang berserakan. Di sebuah pohon sequoia besar, tertulis sesuatu.
“DEINO’S NEST”
Sarang Deino. Ini adalah sarangnya, dan pastinya semua adalah milik orang-orang yang datang kemari untuk membunuh Deino. Namun, justru mereka yang terbunuh dan dimangsa oleh monster itu.
Baku tembak terus terjadi. Tak lama kemudian, gas dalam penyembur api itu habis. Dixa menjatuhkannya dan mengambil sebuah shotgun. Akan tetapi, biar ditembak bagaimanapun, Deino tetap tidak mempan terhadap seluruh serangan. Di sisi tubuhnya, tertulis sesuatu.
“BULLETPROOF”
“FIREPROOF”
“WATERPROOF”
Ia tahan terhadap peluru, api, dan air. Benar-benar luar biasa.
“Sekarang, kita tak bisa berbuat apa-apa lagi,” kata Dixa. Mereka bertiga menjatuhkan senjatanya. Deino mendekat selangkah, dan menarik kaki kanan Rifle.
“Tidak! Jangan!” jerit Rifle. Deino terus menyeret kaki Rifle ke belakang. Namun, ia berhasil membela diri dan melepaskan gigitan Deino. Deino meraung dan mendekati mereka. Mereka bertiga terpojok di sebuah pohon sequoia raksasa. Rifle bersandar di tubuh Draganold.
“Jangan bunuh aku,” gumam Rifle.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Dixa.
“Entahlah. Mati di sini?” sahut Rifle. Draganold melepaskan Dixa.
“Tidak, bukan. Yang kita bisa hanyalah… LARI!” jerit Draganold. Ia berlari diikuti Rifle dan Dixa. Sementara itu, Deino mengejarnya. Tiba-tiba, mereka merasa panas. Hutan belantara itu terbakar secara misterius. Apakah mereka akan terpanggang, atau selamat. Dari kejauhan, terlihatlah sesuatu.
Seekor pterodactyl besar dengan tubuh yang diselimuti api. Sayapnya membentang dan membakar seluruh hutan tersebut. Ia juga mengejar-ngejar mereka. Kali ini, dua monster mengerikan memburu mereka. Dan tak akan berhenti sebelum mendapatkan mereka bertiga.

BERSAMBUNG…

*oh, ya. Kalo ini fotonya si Rifle

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...