Minggu, 01 Januari 2017

D’ VIRUS WARS (PART 3): WELCOME TO THE REAL WORLD

Dixa khayalan itu melambaikan tangannya kepada dirinya sendiri dari dunia nyata.
“Sayang sekali aku berasal dari alam mimpi,” katanya.
“Yeah, sayang sekali kau harus mati sekarang,” terdengar suara lelaki yang sangat dikenalinya. Dixa khayalan itu menoleh. Terlihat Draganold dari khayalannya tengah memegang pistol. Ia menyeringai bengis. “Hahaha… silahkan saja rasakan bagaimana peluru ini bertamu ke jantungmu,”
“Tidak! Jangan lakukan itu!” jerit Dixa.
“Kau pikir aku akan mengasihanimu, hah? Tidak akan!” sahut Draganold. Ia mengacungkan pistolnya ke dagu Dixa. Rifle perlahan bangun. Ia masih mengingat tujuan sebenarnya. Menangkap sipir bengis itu dan tugasnya selesai. Ia mendekati Draganold yang asli.
“Kau yakin itu dirimu? Jahat sekali, bro,” kata Rifle.
“Aku tak tahu. Itu aku dari dunia khayalan,” sahut Draganold. Dixa yang asli mendekati Draganold.
“Aha, aku tahu! Saatnya aku berakting, Drag,” kata Dixa. Ia melangkah ke depan dan melindungi Dixa dari khayalan di kepalanya. Dengan beraninya ia berdiri di hadapan Draganold. “Maaf, tolong berhenti, Tuan! Kau tahu tidak, penderitaan yang dirasakan olehnya?!” bentak Dixa.
“Aku sudah tak punya rasa peduli,” sahut Draganold.
“Jangan sekali-kali kau menyakiti dia lagi! Kalau kau ketahuan menyakitinya hanya untuk bersenang-senang, awas saja! Jika aku melihatmu menyakitinya, maka aku akan menyetrum dirimu sampai mati!” teriak Dixa. Tubuh Dixa mengkilat sesaat dan tiba-tiba seluruh listrik di kantor itu padam. “Uwaahh!” erang Dixa. Lalu, semua listrik kembali menyala.
“Woo! Akting yang bagus, Ishida!” puji Carlos.
“Memangnya aku peduli apa?” kata Draganold. Dixa merasa marah. Carlos mendekatinya. Seketika matanya berubah menjadi merah dan sepasang telinga serigala berdiri diatas kepalanya.
“Berani-beraninya kau menyakiti sepupuku. Jika kau menyakitinya sekali lagi, maka aku akan mencabik-cabik dagingmu dan memangsamu mentah-mentah. Karena… aku adalah werewolf… hahaha, kau mau merasakannya?” kata Carlos dengan suara yang mengerikan. Draganold membisu ketakutan.
“Aku bisa saja memasukan peluru perak ke dalam sini dan menembakmu dengan mudah,” kata Draganold. Oh, rupanya dia masih berani. Carlos menarik sesuatu di belakangnya.
“Aku bisa menghindari semua senjata dengan samurai brutalium ini. Wolf Blade. Ini bisa memotong berlian, peluru, bahkan bisa memotong kepalamu sekaligus jika kau tak menjaga ucapanmu, Kadal Bersayap,” ancam Carlos. “Samurai ini gaib dan hanya terlihat jika aku mengeluarkannya. Sangat mematikan, akurat, dan memiliki sifat seperti bumerang. Tak pernah ada di dunia ini,” kata Carlos lagi. Kali ini, Draganold menjadi sangat ketakutan.
Setelah itu, Carlos menjadi normal kembali. Ia berbalik dan meninggalkan Draganold. Mereka merasa tugasnya sudah selesai dan tidak ada virus yang keluar. Akan tetapi…
“Isi komputer anda akan beralih wujud ke dunia nyata dalam lima hitungan. Lima… empat… tiga… dua… satu… isi komputer akan segera beralih,” terdengar suara operator wanita dari komputer itu.
“GRAARRHH…”
“Kita… kita harus lari dari sini! Mungkin itu virus yang akan beralih wujud! Lari!” teriak Dixa. Dixa yang asli. Mereka semua berlari keluar, menghindari virus-virus yang akan segera mengamuk. Namun, Carlos kecil dari khayalan tetap berdiri di depan komputer.
“Aku ingin melihat wujud virus itu,” katanya. Dan dirinya yang dewasa segera mencegahnya.
“Diriku, kita harus pergi dari sini! Kau tak bisa melihat wujud virus itu, atau kau akan mati! Ayo, lari!” ajak Carlos. Ia menggendong dirinya tersebut. Ia berusaha berlari menuju lift. Namun, di belakangnya tak ada ledakan, hanya kilatan cahaya sesaat.
“GRAARRHH…”
Carlos menuruni lift dan akhirnya ia sampai di lantai bawah.
“Carlos, kau baik-baik saja!” kata Sebas.
“Ya, aku baik-baik saja, tapi virus itu…” sahut Carlos. Semuanya memperhatikan gedung itu. PRAANNGG! Seluruh kaca pecah, dan pintu utama jebol begitu besar. Terlihatlah monster sebesar Tyrannosaurus Rex. Berbulu serigala dan bertanduk naga.
“GRAARRHH… ROAARRHH…” ia meraung. Monster itu berjalan dan membuat sekitarnya jadi bergetar.
“Itu Deino!!!” teriak Dixa dari khayalan. Ia begitu ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Mereka semua melarikan diri. Deino tak ingin mangsanya lari begitu saja. Ia membentangkan sayap elangnya. Dan ia pun terbang. Kini, Deino berdiri diatas pencakar langit.
“GRAARRHH…”
“Aakkhh! Tidak! Jangan bunuh aku! Jangan bunuh… aku…” kata Dixa. Ia pingsan begitu saja. Deino meraung tanpa henti. Seluruh warga yang ada di sana lari tunggang langgang. Berusaha menyelamatkan diri mereka dan menghindari Deino.
“Draganold! Bawa Dixa ke tempat aman!” suruh Rifle. Draganold dari khayalan itu dengan terpaksa membawa tubuh Dixa ke teras sebuah ruko. Deino pasti tak akan menemukannya. Namun, naga itu salah. Deino tak akan melepaskan mangsanya begitu saja. Ia bisa melacak mangsanya dimanapun.
BRAK!
Deino menghancurkan bar ruko itu. Dixa siuman tiba-tiba.
“Uwaahh!” jerit Dixa. DUG! Dixa menendang moncong Deino begitu keras. Draganold terpojok sementara Dixa sendirian bertarung dengan Deino. Setelah itu, Deino kabur. Dixa dan Draganold kembali ke depan gedung itu dan menemui diri mereka yang asli.
Tiba-tiba…
Dari kaca gedung itu terlihat cahaya berwarna oranye, begitu juga dengan pintu depan. Semua orang yang ada di dalam melarikan diri keluar. BRUAK! PRANG! Jendela lantai ketiga dan keempat jebol. Seekor monster mengerikan keluar. Pterodactyl raksasa dengan tubuh diselimuti api keluar dari dalam gedung. Ia memekik.
“Itu… itu adalah virus paling berbahaya seantero dunia…” kata Sebas. Ia membisu ketakutan.
“Bukan lagi seantero dunia, tapi… sejagat raya dan bahkan bisa… membunuhmu, sobat…” sahut Carlos.
“Itu… itu… itu… itu adalah… Firedactyl!!!” jerit Dixa yang asli. “Ya, ya! Dia yang meneror mimpiku! Di penghujung mimpi, dia membakar hutan dan membuatku terjebak di dalamnya!”
“Kita harus mengalahkan Deino dan Firedactyl sebelum mereka mengalahkan kita!” teriak Sebas. “Eh, tapi kita membutuhkan anti-virus yang sangat kuat untuk mengalahkan mereka!”
“Sudahlah, Sebas! Lebih baik kita lawan mereka dulu sebisa kita!” suruh Dixa. Tak lama kemudian, aparat keamanan datang. Polisi dan tentara. Mereka sibuk menembaki Deino. Suara desing peluru terdengar nyaring, memecah keramaian. Perang Dunia kembali terjadi. Namun, ini adalah perang melawan virus. Jika mereka tak segera dihentikan, maka dunia ini akan hancur oleh virus.
Akan tetapi…
Warga yang berlari ke arah barat kembali ke arah timur. Ada apa? Cahaya oranye terlihat sangat terang dan makin lama makin mendekat. Cahaya ini juga panas.
“KEBAKARAN!!!” jerit para warga. Mereka semua menoleh. Firedactyl terbang membentangkan sayap apinya. Sayap itu membakar segalanya yang ada di sekitar. Kebakaran hebat telah terjadi.
“Astaga… Carl, kau bisa mengatasi ini?” tanya Dixa.
“Entahlah. Aku tak bisa mengatasinya sendiri. Aku memerlukan bantuan,” sahut Carlos.
“Tapi, Carl. Kau itu kan, pemadam kebakaran!”
“Iya, aku memang pemadam kebakaran, tapi setidaknya aku butuh bantuan! Pos pemadam kebakaran terdekat, dimana itu? Atau, aku bisa memanggil petugas dari pos tempatku bekerja!” kata Carlos. Dixa segera memanggil petugas pemadam kebakaran. Tak lama kemudian, raungan sirine terdengar keras. Warga menyingkir.
Mobil-mobil pemadam kebakaran telah tiba di tempat. Salah seorang petugas turun dari mobilnya. Tidak, itu bukan petugas. Pelatih. Ia mendekati Carlos.
“Carl, kau harus ambil bagian dalam tugas ini,” suruhnya.
“Aku harap aku bisa, Finn. Tapi sepertinya, ini akan jauh lebih sulit. Kau, aku, dan lainnya akan menjadi… The Virusfighter. Bukannya The Firefighter,” sahut Carlos.
“Baiklah, terserah kau saja,” kata Finn. Ia meninggalkan Carlos. Carlos berharap, andai saja ada yang bisa menyelamatkannya. Ia tahu, tanpa jaket anti-api, ia akan mati terpanggang oleh Firedactyl.
DOR!
Firedactyl tampak kewalahan. Sebutir peluru telah menembus tubuhnya. Terbangnya jadi tidak stabil. Tapi setelah itu, ia kembali stabil. Carlos berhasil mengelak. Hampir saja ia terkena peluru. Namun, siapa yang menembak reptil terbang itu? Carlos menoleh.
“Draganold?” Carlos kaget. Draganold yang asli itu tersenyum.
“Aku akan mengalahkan Firedactyl. Daripada kau kebingungan ambil bagian untuk memadamkan api, lebih baik kau ambil bagian dalam hal ini, Carl,” kata Draganold.
“Oke, Drag. Kau punya pistol?”
“Tentu saja aku punya!” sahut Draganold. Ia melemparkan sepucuk pistol kepada Carlos. Carlos mengacungkan pistolnya dan mengedipkan sebelah mata.
DOR-DOR-DOR!
Baku tembak yang seru terjadi. Kedua lelaki keren itu terus menembaki Firedactyl. Firedactyl sepertinya sudah tidak tahan. Ia kabur.
“GRAARRHH…” sepertinya Deino belum menyerah.
“Deino masih hidup, Carl, Drag!” kata Dixa. Para aparat yang menembakinya tampak kewalahan. Deino kembali bangkit. Ia membentangkan sayapnya. Terlihatlah sekujur tubuhnya yang berlubang dengan ratusan peluru bersarang di dalamnya. Tiba-tiba…
DOR-DOR-DOR-DOR-DOR!!!
Peluru-peluru itu kembali dipantulkan olehnya. Beberapa aparat gugur dalam hal ini. Sementara Deino belum puas dan tetap memantulkan peluru. Draganold dan Carlos menembakinya, tapi percuma. Peluru itu terus memantul. Akhirnya, Dixa mengajak mereka berdua untuk berlindung. Tak lama kemudian, serangan peluru berhenti.
Sepertinya Deino kehabisan peluru untuk dipantulkan. Dixa dan lainnya berlindung dalam mobil polisi bersama Rifle dan petugas polisi yang lain.
“Ayolah, teman-teman. Kita tidak bisa menyerah begitu saja. Deino dan Firedactyl memang kuat, tetapi mungkin saja kita bisa merobohkan mereka. Aku tahu titik-titik lemahnya dan bisa dihantam dengan peluru,” kata Dixa.
“Dimana titik lemahnya?” tanya Rifle.
“Di bagian ekor, mulut, dan kantung mata. Ayo, kita tembaki lagi Deino!” sahut Dixa. “Tapi, kita butuh pakaian khusus. Sepatu, rompi anti peluru, dan helm,”
“Ya, kita butuh itu,” kata Rifle. Rifle meminjam semua keperluan dari polisi di sekitarnya. Mereka pun memakai itu semua di dalam mobil polisi. Tak lama kemudian…
“Hei, Deino!” panggil Dixa. Deino menoleh. Tampak olehnya Dixa dan lainnya, baik yang khayalan maupun yang asli telah memakai perlengkapan khusus. Mereka membawa pistol dan senapan. Memakai sepatu khusus, rompi anti peluru, dan helm.
CREK…
“Menyerahlah, Deino,”

BERSAMBUNG…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...