Minggu, 01 Januari 2017

D’ VIRUS WARS (PART 4): THE BATTLE

“GRAARRHH…” Deino tak ingin menyerah rupanya.
DOR-DOR-DOR!!!
Baku tembak kembali terjadi. Timah-timah panas itu terus menembus tubuh Deino tanpa henti, bagaikan titik-titik air hujan. Tak lama kemudian, Deino melarikan diri. Ia tak tahan dengan peluru yang terus menghujamnya. Biarpun ia tahan peluru, api, dan air, tapi tentu ia tak tahan dengan rasa sakit saat peluru-peluru itu menghujamnya.
SSHH…
“Ah, kenapa di sini panas sekali?” keluh Draganold. Ia melihat Dixa, Sebas, Rifle, dan dirinya dari dunia khayalan telah lari tunggang langgang. “Ada apa ini?” tanya Draganold. Naga itu menoleh keatas. Wajahnya menjadi sangat ketakutan. Draganold terbaring ketakutan melihatnya. Makhluk mengerikan itu kini berada 5 cm di depannya.
Keringat mengucur dari tubuh Draganold. Nafasnya terengah-engah. Mungkin, ini adalah terakhir kalinya ia melihat dunia. Draganold menutup matanya, biarlah makhluk itu menghabisinya. Tak ada lagi harapan untuk hidup. Dirinya dari dunia khayalan pasti tak ingin menolongnya. Pastinya, dirinya yang satu lagi akan membunuhnya.
Carlos menghilang entah kemana. Padahal, serigala itu adalah rekannya yang hebat. Namun, sekarang… entahlah apa yang terjadi padanya atau dirinya. Tiba-tiba…
DOR!
“NGAAKK!”
Draganold membuka matanya. Firedactyl yang hampir menghabisinya kini telah berlalu.
“Aku… aku selamat!” seru Draganold girang. Pasti ada yang menembak Firedactyl. Tapi, siapa? Draganold menoleh ke belakang. Seseorang bersembunyi di kolong mobil panzer. Moncong dari senapan laras panjang mencuat. Senapan itu masih berasap. Mungkin orang itulah yang menyelamatkan nyawanya. Orang itu memejamkan sebelah matanya.
Draganold berbinar. Ia begitu gembira. Orang itu keluar dari kolong panzer.
“Carlos!” jerit Draganold. Carlos telah menembak Firedactyl dan menyelamatkan Draganold. “Terima kasih, Carlos…”
“Sama-sama, Draggie. Yang penting, kau baik-baik saja,” sahut Carlos. Dixa dan lainnya telah kembali. Carlos kecil dan Sebas kecil mendekati Carlos.
“Diriku… aku tak punya tempat untuk berlindung. Aku dan Sebas tak bisa kemana-mana. Deino terus memburu kami,” kata Carlos kecil.
“Oke, akan kuajak kalian berlindung!” sahut Carlos yang dewasa. Ia mengajak mereka berdua menuju sebuah mobil pemadam kebakaran. Mobil dari tempatnya bekerja. Sebas kecil melirik sisi ban mobil itu. Ban itu bertuliskan:
“GANYMEDE”
Salah satu bulan dari planet Jupiter. Namun, itu bukanlah merk dari ban mobil tersebut. Carlos mengajak mereka berdua masuk ke dalamnya.
“Berlindunglah. Jika keadaan tidak memungkinkan, kalian harus membawa Ganymede ke tempat aman, oke?” kata Carlos.
“Tapi, kami tak bisa menyetir mobil. Kami… kami masih kecil, Carl,” kata Sebas.
“Tenanglah, Ganymede tidaklah sulit untuk dikendalikan,” sahut Carlos sambil berlalu pergi. Sebas dan Carlos kecil tidak mengerti. Carlos kecil iseng menekan tombol sirine.
NGUAANNGG…
Sirine berbunyi keras. Tiba-tiba, Firedactyl mendekat.
“Oh, tidak! Ganymede, lari!!!” jerit Carlos kecil. Ia keluar dari mobil dan bersembunyi di belakang. Sementara itu, Sebas kecil menyetirnya asal-asalan. Carlos kecil mengotak-ngatik tombol dan tuas yang ada di belakang. Firedactyl mengejarnya.
“Tidak!!!” jerit Sebas. GREEKK… SRAASSHH…
Firedactyl kewalahan. Tubuhnya basah kuyup, namun ia tetap mengejar. Ternyata, Carlos kecil tak sengaja telah menaikkan tangga dan menyalakan selangnya. Orang-orang yang melihatnya menjerti-jerit. Khawatir akan anak-anak polos yang tengah berada di dalam sebuah mobil. Firedactyl mengejar semakin kencang, dan suasana semakin tegang. Firedactyl kini ada di atas mobil itu, tapi ia menjauh. Raungan sirine yang keras memekakan telinganya. Tapi ia tetap mengejar.
“Aahh!” jerit Sebas dan Carlos kecil. Firedactyl terus mengejarnya.
NGEENNGG…
Suasana semakin tegang. Sebas tak mengerti, namun ia terus tancap gas. Jarum spidometer semakin naik.
80 km/h!!!
Mobil melaju semakin kencang dan menabrak segalanya yang ada di hadapannya. Dixa yang asli melihat kejadian itu. DUK! Ban belakang melindas sebuah batu kecil. SRIITT… mobil mengepot.
“Tidak!!!” jerit Sebas. Sebas tak bisa menghentikan laju mobil itu. Akan tetapi, sebuah panzer menghalangi jalannya.
DOR-DOR-DOR!
Dixa menembaki Firedactyl dan sebisa mungkin mencegahnya untuk mengejar Ganymede. BRAASSHH… percikan api keluar dari ban Ganymede. Gesekan dengan aspal membuatnya berapi. Tiba-tiba…
WUZZ…
Sebas dan Carlos kecil berada diatas tubuh seekor kuda hitam. Kuda itu lari sekencang-kencangnya. Oh, itu Ganymede! Ganymede berubah menjadi seekor kuda! Ganymede lari sekencang mungkin. Aparat keamanan kembali. Sebagian dari mereka menembaki Firedactyl.
NGAAKK! Hahaha… dasar kalian manusia-manusia bodoh… tidak tahu kalian sedang berhadapan dengan siapa… bodoh!” Firedactyl terlihat berbicara dengan suara komputernya. Tiba-tiba, keadaan sekitar memanas. Tubuh Firedactyl berasap.
“Rasakan ini, manusia-manusia bodoh! Hahaha… aku tak peduli! Apakah kalian anak-anak, wanita, atau apapun! Aku tak peduli! Kodratku bukan hanya menghancurkan komputer, tetapi juga umat manusia, bahkan hewan dan tumbuhan!” kata Firedactyl. “Aku akan memulainya dari anak-anak sialan itu,”
BWOSH!
Bola-bola api super panas ditembakan oleh Firedactyl. Sasaran pertamanya adalah Ganymede. Namun, kuda hitam itu dengan gesitnya menghindari segala serangan Firedactyl. Dixa berlari, berusaha mengejar Ganymede. Dixa dari dunia khayalan juga mengikutinya, tak peduli akan luka-luka yang dibuat oleh Draganold. Dua luka tusuk, dan satu luka tembak.
Ia kewalahan mengejar Ganymede. Ganymede melesat secepat mobil. Ia memang mobil sungguhan. Draganold khayalan itu memata-matai dua Dixa yang tengah berjuang mengejar Ganymede. Ganymede sendiri berusaha menyelamatkan joki cilik yang duduk diatas punggungnya. Sementara Firedactyl terus menembakan bola-bola api tak tentu arah, dan hampir membakar seluruh kota.
“Kita butuh bom!” seru Dixa yang asli. “Bom apa saja yang ada di sini?”
“Ada banyak. Bom Molotov, bom C4, bom dinamit, dan… bom nuklir,” sahut Rifle.
“Tidak ada bom nuklir!”
“Lihatlah naga merah itu. Kau pikir dia hanya hewan bodoh? Dia senjata, Dixa, dia senjata kita!” kata Rifle.
“Aku tak bisa tinggal diam. Jika begini, nyawaku juga akan terancam!” seru Draganold. Sesaat kemudian, Draganold berubah menjadi seekor naga. Ia membubung tinggi di langit dan menghadang Firedactyl.
“Apa yang kau lakukan di sini, Naga Merah?” tanya Firedactyl sengit.
“Huh, aku sebenarnya ada di pihakmu, yaitu pihak penjahat. Tapi jika kelakuanmu begini, lebih baik aku menjadi pahlawan saja!” seru Draganold. WUSH! BLAR! BLAR! BLAR!
Draganold melesat dengan kecepatan maksimum, 200 knot. Ia juga menyemburkan api nuklirnya kepada Firedactyl. Firedactyl tampak kesakitan menghadapi campuran uranium dan plutonium itu. Saat Firedactyl lengah, Draganold mencengkeram sayap Firedactyl.
“Aarrgghh! Hei, Naga Merah! Apa kau tak kepanasan? Lepaskan aku!” jerit Firedactyl.
“Aku menyesal kenapa aku tak menempelkan label fireproof di kulitku. Itulah aku, Draganold si naga yang tahan api!” kata Draganold.
“Hei, Draganold! Lepaskan bosku, atau kau akan menerima akibatnya!”  terdengar suara komputer yang berat dan mengerikan. Draganold melepaskan cengkeramannya dan menoleh. Itu suara Deino. “Aku sangat marah… sangat-sangat-sangat marah melihatmu menyakiti Bos!”
BLAR! Draganold tak peduli dan meledakan Deino dengan nuklirnya.
“Kurang ajar… kurang ajar, kurang ajar, kurang ajar!!!” seru Deino. Matanya bertambah merah saat ia bertambah marah.
“Draggie!!! Terbang menjauh! Menjauh dari Deino dan Firedactyl! Kau bisa terbunuh! Menjauhlah!!!” teriak Dixa sambil melambaikan tangannya. Draganold menurut, dan menjauh dari sana. Namun, Firedactyl berhasil mencengkeram ekor Draganold.
“Lepaskan aku!” jerit Draganold.
“Tidak akan!” sahut Firedactyl. Ia menarik Draganold ke belakang. Draganold kembali berubah menjadi manusia. Tubuhnya mulai merasa kepanasan.
“Aku… aku tak tahan lagi… ini super panas… lepaskan aku!” kata Draganold. Firedactyl membanting Draganold ke tanah. Punggungnya terbentur dinding sangat keras.
“Uhuk… uhuk…” Draganold terbatuk. Lengan kirinya patah. Kini, mulutnya telah basah oleh darah.
ooo0ooo
Dixa dari khayalan tengah berjalan. Ia memegangi tangan kirinya yang terluka akibat tusukan yang dibuat oleh Draganold dalam mimpi dirinya yang asli.
“Ah… lukaku semakin parah saja… ini… luka ini disebabkan oleh Draganold. Huh, Draganold? Draganold? Dimana Draganold? Aku harus mencarinya!” kata Dixa. Dixa berlari mencari Draganold. Tak lama kemudian, ia melihat Draganold yang terpojok di sebuah dinding toko. Untungnya, toko itu dilindungi bar. Kini, Deino tak lagi menghancurkannya. Dixa mendekati Draganold. Draganold samar-samar melihat Dixa.
Mungkin ia pernah melukai Dixa, tapi Dixa tak pernah merasa dendam kepada Draganold. Dixa tersenyum, walau ada rasa kekhawatiran dari raut wajahnya. Draganold berusaha membalas senyuman itu. Tapi, apalah daya. Wajahnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya… ia merasa seperti… batu.
“Drag… kau baik-baik saja? Kau sepertinya terluka sangat parah,” kata Dixa.
“Aku… aku… aku baik-baik… saja…” sahut Draganold dengan nafas terengah-engah.
“Ayolah, kita harus ke rumah sakit,”
“Aku baik-baik saja… sekarang… sekarang kita impas,”
“Impas apanya?”
“Aku mungkin pernah menyakitimu… tapi… kini aku yang tersakiti…”
“Kau luka, bukannya impas,”
“Tidak, tidak… ini impas, Sayang,”
“Kau… tidak… jangan tinggalkan aku,” kata Dixa. Wajahnya telah dibanjiri oleh air mata. Ia menggenggam erat-erat tangan Draganold. Seakan tak ingin kehilangan musuhnya itu. “Aku tak ingin kehilangan dirimu… aku tak ingin, jangan pergi, kumohon,” tangis Dixa.
“Aku tak akan meninggalkanmu… aku akan berusaha… bertahan…” sahut Draganold. Draganold mengelap darah di mulutnya. Ia berusaha bangkit.
“Jangan, kau masih sakit, Drag,” mohon Dixa.
“Aku akan baik-baik saja,” kata Draganold. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri. Draganold melongok keluar bar. Tampak Deino sedang mengamuk habis-habisan diluar sana. Meraung tanpa henti. Draganold mungkin masih bisa bertarung… dengan satu tangan. Ia menoleh ke belakang. Retakan tembok bekas hantaman tubuhnya. Ia meraih patahan tembok. TAK! Patahan itu dilemparkan kepada Deino. Deino marah dan mendekatinya. Firedactyl mendekatinya juga.
“Woo! Woo! Ayo, sini! Aku tak takut padamu! Jika kalian emosional, siapa yang bodoh, hah?!” ejek Draganold. Deino semakin marah. Carlos, Dixa, Sebas, dan Draganold yang asli mendekati mereka.
“Kalian melihat Sebas dan Carlos kecil?” tanya Dixa yang asli.
“Tidak, mungkin sebentar lagi mereka datang. Ganymede tak akan berani pergi terlalu jauh dari markas, bukan?” sahut Draganold dari khayalan.
“Tentu saja, Drag. Kecuali, Demon. Demon adalah mobil pemadam kebakaran dari markasku, dan bersifat seperti kuda liar. Dia pengelana dan suka pergi jauh-jauh. Susah dibujuk dan buas. Percayalah, menyetir Demon artinya bunuh diri,” sahut Carlos.
HIHEEE…
Terdengar suara ringkikan kuda. Itu Ganymede! Ganymede berlari ke arah Carlos. DOR! Suara tembakan juga terdengar. Deino dan Firedactyl teralihkan, dan mereka beruda mengejar yang menembaknya.
“Ganymede, Sebas dan Carlos kecil! Kalian selamat!” kata Dixa lega. “Kemana saja kalian?”
“Oh, Ganymede hanya mencari solar. Kami sempat pergi ke pom bensin. Tapi, pom bensin itu letaknya jauh dari sini, jadinya lama, deh. Selebihnya kami baik-baik saja, kok,” sahut Sebas kecil.
“Aku yakin api di kawasan tadi sudah padam. Teman-temanku pasti sudah kembali ke markas. Aku harus mengembalikan Ganymede,” kata Carlos. Ganymede kembali menjadi mobil.
“GRAARRHH…”
Suara raungan Deino terdengar lebih keras dan nyaring. Deino menampakan dirinya. Oh, Deino adalah virus yang temperamental, dan akan berubah saat amarah sudah mencapai puncaknya.
“Oh, tidak. Deino akan berubah. Dia akan berubah menjadi… Chimerus,” kata Dixa. Deino bersinar, dan setelah itu ia berubah. Kepala singa, kepala kambing, ekor ular. Chimera. Ia bertambah kuat dan bertambah sadis. Dan Deino telah berubah menjadi…
Chimerus.

BERSAMBUNG…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...