Jumat, 11 November 2016

DIXA’S JOURNEY: BATTLE IN PLANET MONSTERS (PART 6)

“Aarrgghh! Kau menginginkan apa dariku?” tanya Draganold.
“Aku ingin kau kalah,” sahut Dixa. Baju bagian belakang Draganold telah sobek oleh pisau. Dan jika baju itu sobek, maka tidak ada lagi kekebalan.
“ICE BLOCK!” kata Jason. Serangannya… Es dingin itu mengurung tubuh Draganold. Tapi, ekornya tidak membeku dalam es. Dengan tenaga yang lebih kuat dari ekor buaya, Draganold menggoyangkan ekornya ke atas dan menghancurkan bongkahan esnya. BRAAKK! Draganold bebas.
“Inilah pertarungan yang selalu aku nantikan,” kata Dixa. Petir-petir bercabang itu berusaha menjangkau tubuh Draganold. Tapi, ia begitu lincah. Dan dengan gesitnya ia menghindari petir-petir dengan kecepatan sekedip mata itu. Tak disangka, ternyata Draganold jauh lebih cepat dari mobil balap Formula 1.
Petir dari tangan Dixa berusaha menjangkau tubuh Draganold. Dan setelah itu… Sebuah petir menyetrum dirinya.
“Aahh! Kau belum puas menyiksaku?!” kata Draganold sambil berusaha bangun. Tubuhnya kejang-kejang dan sesekali keluar kilatan listrik.
“Kau jangan mengganguku lagi,” kata Dixa. Setelah bicara begitu, api yang hanya secepat kedipan mata itu meledak di hadapan Dixa. Energi nuklir lemah meledakkan tanah itu.
“Ah! Beraninya kau!” kata Dixa. Lalu… dari tubuhnya keluar kilatan petir yang menyambar-nyambar.
“RED N’ BLUE THUNDER…” jurus itu kembali dikeluarkannya. Petir merah-biru yang sifatnya berlawanan itu disatukan dan membentuk petir berwarna ungu yang sangat kuat.
Lalu, petir ungu itu terbelah dua, kemudian keluarlah sebuah pedang.
“Thundord!” kata Dixa. Pedang bernama Thundord itu terus mengeluarkan petir.
“Thundboy Evolution!” badan Dixa terbungkus oleh petir. Petir itu pun sirna, dan Dixa menjelma menjadi Thundboy, bocah berkostum keren dengan logo petir di dadanya.
“THUNDER BALL!”
“THUNDER ATTACK!”
“THUNDER IMPACT!”
Serangan petir bertubi-tubi terus menghujam tubuh Draganold. Ia hanya bisa meringkuk sambil menunggu ajal menjemputnya. Apakah Dixa akan membunuhnya? Sreett… Petir itu berhenti. Dixa berhenti menyerang.
“Aku masih memberi kesempatanmu untuk hidup dan bertobat, Drag. Aku tahu, jika kau sebenarnya sudah mengkhianati anak-anak buahmu. Kau punya geng kejahatan bernama Triple Murder,” kata Dixa.
“Darimana kau tahu, nak?” tanya Draganold.
“Karena di dalam jam tanganmu ada rahasia yang kau tulis. Jam itu bisa dipakai menjadi diary! Walaupun aku tak paham siapa yang menulisnya, aku telah membongkar seluruh rahasiamu. Dargon, Orca, Rattlesnake… Jangan percaya pada bos kalian, karena bos kalian ini sudah menjadi pengkhianat! Dia adalah ketua Triple Murder dengan nama samaran Daren Brown!”
“Itu tidak benar, Dargon! Jangan percayai Dixa! Dia sudah kehilangan akalnya!” Draganold berusaha membela dirinya. Anak-anak buahnya percaya pada kebohongan Draganold, tapi itu hanya sementara. Setelah itu…
“Dasar bos pengkhianat! Aku benci padamu! Aakkhh! Aku tidak bisa memaafkanmu!” kata Dargon.
“FIRE HAND!” serangan tangan api Dargon menyerang Draganold bertubi-tubi. Ia pun terkulai lemas. Dixa pun maju membela Dargon. CTAARR! Petir menyambar. Langit dipenuhi oleh awan hitam. Lalu, petir menyambar ke bawah.
“Thunderbird!” teriak Dixa. Setelah itu, dari petir, keluarlah sesosok burung dengan petir yang keluar dari cakarnya.
“Thunderbird-ku tidak pernah bisa memaafkan musuh kejam sepertimu. Ayo, Thundey!” kata Dixa seraya menaiki tubuh Thunderbird. Ia memegang Thundord di tangannya. Kemudian, ia menyambar Draganold.
“Aarrgghh!” Draganold mengerang kesakitan. Dixa masih belum puas. Ia kembali menyerang Draganold bertubi-tubi tanpa ampun, tanpa henti, tanpa belas kasihan.
“INVISIBLE THUNDBOY!” kata Dixa. Kali ini bukan serangan. Tubuhnya memang kelihatan oleh mata, tapi, tubuhnya dan tubuh Thunderbird jadi bisa menembus benda padat termasuk tubuh orang lain.
“SUPERIOR THUNDER ATTACK!” Dixa menyerang untuk terakhir kalinya. Semua serangan petirnya yang terkuat dikerahkan dalam satu kali serangan. Daaan… ZLEEBB… Tubuh Dixa dan tubuh Thunderbird langsung menembus jantung Draganold. Mata naga itu mendelik. Ia langsung terkulai lemas. Dixa kembali ke bentuk tubuhnya yang nyata dan turun dari Thunderbird. Lalu, kostum itu dan Thunderbird lenyap seketika.
Dixa kembali menjadi anak normal. Draganold masih bernafas.
“Kau… Kau anak yang… Errh… Anak payah…” bisik Draganold dengan nafas terengah-engah. Kemudian, matanya tertutup.
“Maaf, naga bengis. Aku mengembalikan jam tangan itu. Aku harus meninggalkanmu disini,” kata Dixa sambil berlalu pergi. Teman-temannya bersorak gembira. Ia pun berjalan menuju teman-temannya. Teman-temannya menepuk-nepuk punggung Dixa.
“Kau berhasil!” kata Rill.
“Aku bangga padamu, Dixa!” seru Miyako. Dixa hanya tersenyum kecil. Dargon pun mendekati Dixa.
“Dixa… Ah… Aku minta maaf atas kelakuanku tadi. Tapi ternyata, kau menyelamatkan Triple Spare,” kata Dargon. Orca dan Rattlesnake membungkukkan badannya.
“Baiklah… Tidak masalah, aku bukanlah pendendam,” kata Dixa.
“Oke, bro. Sebagai imbalannya, akan kuantar kalian pulang dengan kapalku,” kata Dargon.
“Yeey…” kata mereka serentak. Lalu, semuanya naik ke kapal Dargon. Kapal itu pun melesat dengan kecepatan tinggi, dan menuju Bumi dalam waktu 2 menit. Kapal itu mendarat di sekolah Dixa yang apinya sudah padam. Ternyata, hari sudah malam. Mereka semua keluar dan Dargon langsung kembali ke planet Monsters. Kapalnya pun berangkat.
“Terima kasih… Daahh…” kata Dixa dan teman-temannya serentak. Lalu, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan tenang. Namun, sesuatu akan terjadi empat sampai lima tahun kemudian yang membuat mereka tidak tenang.

TAMAT

Kamis, 10 November 2016

DIXA’S JOURNEY: BATTLE IN PLANET MONSTERS (PART 5)

Cakar itu kembali diayunkan. Draganold menyerang anak itu tanpa rasa belas kasihan. Tapi…
“ICE SHIELD…” suara Jason terdengar dingin. Seketika, sebuah perisai es sekeras baja terbentang di depan wajah Draganold. Cakar besarnya tersangkut di es itu. Dixa pun selamat dari serangan cakar maut.
“Ja… Jason? Kau punya… Kekuatan?” tanya Dixa tebata-bata.
“Tentu saja aku punya. Sama sepertimu. Hanya saja, kau tidak mengetahui kekuatan apa yang ada dalam dirimu itu. Aku memiliki kekuatan es, kau petir. Yuri memiliki kekuatan api. Rill memiliki kekuatan hipnotis,” kata Jason. Draganold berusaha menarik tangannya yang terperangkap di dalam es.
CTAASS! PRAANNGG! Sebuah ekor terayun, dan es itu pecah berkeping-keping. Ujung ekor Rattlesnake berhasil menebas es tersebut dengan mudah. Lalu, Orca menahan anak-anak itu dalam gelembung. Dargon pun maju ke hadapan Draganold.
“Apa yang kau mau?” tanya Draganold.
“Bos… Boleh aku minta… Kenaikan gaji?” tanya Dargon.
“Apa?! Kenaikan gaji?! Memangnya ini kantor, apa? Dasar anak monyet angkasa! Kau tidak tahu diri! Memberikan gaji saja aku tidak pernah, dan sekarang kau malah minta kenaikan gaji?!” sahut Draganold. Ia begitu marah. PLAAKK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Dargon.
Darah menetes-netes.
“Kau kejam,” kata Dargon.
“Apa kau lupa, Dargon? Sebenarnya, nama Dargon itu adalah ejekan yang diberikan oleh rekanku. Kata itu diambil dari kamus bahasa planet Monsters yang asli! Arti Dargon sendiri adalah lugu. Kau hanyalah bocah lugu dan polos,”
“Aku tidaklah selugu yang kau kira. Nama asliku adalah Bill Dragon!” teriak Dargon.
“Aku Draganold Bruno. Apa kabar, Bill? Sepertinya, kau punya banyak tagihan, ya?” Draganold meledek Dargon.
“Kalau begitu… Rrrrgggghhhh… Raaaawwwwrrrr! BIG DRAGON MODE!” seketika, tubuh Dargon berubah menjadi sebesar gajah jantan dewasa. Mode itu hanya bisa dipakai sekali saja.
“Aku akan menghajarmu!” Dargon menyemburkan apinya kepada Draganold.
“Ugh… Seharusnya, dulu aku tidak pernah memungutmu! Kau adalah anak naga umur 16 tahun yang biadab! Aku membencimu!” teriaknya. Draganold pun mengeluarkan semburannya. Hanya sekilas, dan akurat. Semburan nuklir itu membuat Dargon kembali menjadi kecil.
“Aku tidak akan membiarkanmu!” seru Dixa. Dixa langsung melompat dan mengeluarkan serangannya.
“Hiiyyaahh… RED N’ BLUE THUNDER!”
CTAARR! Petir merah dan biru itu keluar dari tangan Dixa dan menyambar Draganold. Tapi anehnya, naga itu seperti kebal terhadap serangan. Ia bangkit kembali.
“Huh! Petirmu itu sama sekali tidak beguna untukku,” katanya.
            “LIGHT LASER!” teriak Miyako. Dari kedua tangannya, terpancarlah sebuah cahaya terang benderang mirip laser dan menembus jantungnya.
“Aahh… Hehehe, tetap saja, kalian semua lemah!” Draganold kembali bangkit. Setelah itu…
“FIRE ATTACK!” suara Yuri terdengar begitu keras. Api sepanas 500 derajat Celsius itu sudah pasti akan menghanguskan Draganold. Api terus menyembur dari tangan Yuri.
“Tak akan kuampuni! Kau telah menyakiti temanku!” kata Yuri sambil terus mengeluarkan apinya. Lalu, Yuri berhenti. Apinya padam di tangannya. Draganold menghilang entah kemana. Tapi, dari dalam cekungan tanah yang hangus terlihatlah sepasang tangan bercakar panjang.
Lalu, kepala bulat dengan kuping berbentuk petir itu keluar juga.
“Kau pikir, seranganmu itu bisa menghanguskanku? Dasar anak payah! Kau tidak bisa mengalahkanku! Hahaha!” ups, ternyata Draganold masih hidup. Tubuhnya hanya memerah saja.
“Aku bisa bertahan di dalam lahar panas selama lima menit!” katanya.
“HYPNOTISM…” kata Rill. Lalu, mata Draganold mengarah kepada Rill.
“Pergilah dari sini… Pergilah dari sini…”
“Hah! Kekuatan hipnotismu itu tidak akan berguna bagiku, gadis kecil!” kata Draganold. Ia benar-benar kebal terhadap serangan apapun, termasuk hipnotis.
“GIGA MEGA OMEGA TSUNAMI!” Orca mengeluarkan serangannya. Segera, padang yang tadinya gersang itu berubah menjadi basah. Sangat sangat basah. Berombak. Ombak raksasa alias tsunami mulai mendekat ke Draganold. Dixa dan lainnya lari tunggang langgang.
“Orca, apa yang kau lakukkan?! Kau membunuh kami semua!” jerit Rattlesnake sambil melata.
“Sebenarnya, aku menyelamatkan kalian dari bos yang kejam ini! Cepat atau lambat, dia pasti juga akan menyakiti kita! Jangan pikirkan anak-anak itu, pikirkan kita yang akan segera dikhianati! Pergilah sebelum kalian tersapu ombak!” sahut Orca. Tsunami semakin mengganas. Draganold sudah tersapu ombak. Kini, ia tenggelam di air, dan berusaha untuk berenang.
Tapi, usahanya sia-sia saja. Ombak itu memutar-mutar tubuhnya di dalam air.
“Kau sudah menerima akibatnyaaaa!” suara Orca menggelegar.
“Aku tidak akan mengampunimu, Orca! Uuhh… Uwaaaahhhh!” kata Draganold. Tapi, paus pembunuh itu tidak menghiraukannya. Ia menyaksikan bosnya yang perlahan-lahan kehabisan tenaga. Ia kembali tersapu oleh ombak. Sama seperti tadi, itu sia-sia saja. Dan kini, tubuh Draganold terkulai lemas di dalam air. Sementara air itu terus saja menyapunya.
“Haah… Baiklah, kali ini kau kuampuni, bos pengkhianat…” kata Orca. Kemudian, ombak ganas itu mengering seketika. Padang pasir itu kembali gersang, seperti sedia kala. Terlihatlah Draganold dengan tubuh basah kuyup tergeletak di tengah padang pasir.
“Bos, apakah kau merasa nyaman dihajar oleh anak buah?” tanya Orca. Naga itu mungkin sudah mati. Tapi, perlahan ia berkedip dan bangkit kembali.
“Aku lebih kebal terhadap serangan karena baju yang kupakai ini. Baju ini benar-benar membuatku kebal,” katanya. Dixa kembali. Di tangannya, ia memegang sebilah pisau. Anak itu mendekat ke Draganold dengan tatapan penuh amarah. Dixa mendekati Draganold dari belakang tanpa diketahuinya.
“Ini adalah satu-satunya peluangku untuk… Menghabisimu… Heeaahh!” suara Dixa terdengar lirih, namun agak parau. Seperti suara kakak sepupunya. Draganold menoleh ke belakang. SREEKK… Pisau itu merobek sesuatu.

BERSAMBUNG… 

DIXA’S JOURNEY: BATTLE IN PLANET MONSTERS (PART 4)

“Aku masih hidup…” kata Dixa.
“RED N’ BLUE THUNDER!” serangan petir Dixa berhasil menyetrum Orca. Ia bangkit kembali, sedangkan Dargon masuk ke dalam kapalnya. Di ruang kendali, ia menekan sebuah tombol dan membuat Dixa, Miyako, Jason, Yuri, dan Rill lenyap.
Paus orca dan ular derik itu langsung masuk ke dalam kapal. Dixa dan lainnya terkurung di dalam sebuah ruangan yang pengap, dan hanya sedikit udara masuk. Dargon rupanya menekan tombol teleportasi barusan. Ia memandang Dixa dari layarnya.
“Hehehe… Bagaimana rasanya dikurung?”
“Pengap. Di sini pengap! Kau kejam!” sahut Dixa.
“Jangan sewot dulu. Ini belum seberapa. Bosku lebih kejam lagi!”
“Aku tidak peduli dengan semua ini! Keluarkan aku!”
“Santai saja, bro. Perjalanan ke planet Monsters hanya dua menit. Setelah itu, kau boleh turun, dan hiruplah gas nitrogen bercampur ammonia sebanyak-banyaknya!” kata Dargon.
“Tidaaaakkkk! Lepaskan aku! Aku mau pulang!” Dixa berontak. Dargon mengendalikan kapal itu. Mesin menderu keras, dan kapal itu mulai melayang meninggalkan Bumi.
“Tenang saja… Kau akan segera mati di planetku,” kata si kopilot, Orca. Pilotnya sedang sibuk tertawa. Sementara itu…
ooo0ooo
Seekor naga merah dengan cakar sepanjang penggaris dan telinga berbentuk petir sedang berbicara di laptop dengan naga bertelinga panah.
“Hai, Dargon. Kau sudah ambil jam itu?” tanyanya.
“Tentu saja sudah. Aku juga sudah membawa anak ini. Ia telah mengembalikannya atas keinginannya sendiri, tapi, aku sudah tidak bisa menahan diri untuk menculiknya bersama kakaknya dan teman-temannya,” sahut lawan bicaranya yang wajahnya terpampang di layar laptop.
“Oh, bagus. Akan kubunuh anak itu ketika sudah sampai di sini,” ia pun bicara, dan menutup laptopnya.
“Hehehe… Anak itu tidak akan menyangka, jika dia harus kehilangan nyawanya sekarang juga. Satu menit dari sekarang, dia akan pergi ke alam Baka,”
ooo0ooo
“Semenit dari sekarang, kita akan mendarat di sektor satu, Galactic Home, kota Technotry bagian Timur di padang Eufhal Field…” suara rekaman wanita dari dalam ruang kendali terdengar nyaring. Semenit kemudian, deru mesin terdengar di Eufhal Field.
Draganold, yang tadi bicara di laptop telah menunggu. Dixa dan lainnya sudah bersiap dengan helm oksigen. Pintu kapal terbuka lebar.
“Hai, bos! Kali ini, kami bawa tawanan yang ingin liburan kematian di sini!” kata Dargon sambil menenteng Dixa. Draganold mendekatinya.
“Oh, jadi, ini dia anak yang mengambil jamku?” kata Draganold.
“Maafkan aku…” kata Dixa.
“Baiklah. Kalau kau memang menyukai jam tanganku itu, tidak apa-apa, kok. Tapi, segala sesuatu ada resikonya, Nak. Termasuk memakai jam itu! OMEGA CLAWS!” Draganold segera mencakar tangan Dixa.
“Aarrgghh! Sakit! Apa yang kau lakukkan?!” kata Dixa sambil mengerang.
“Tuh, kan. Lihat, bosku itu lebih kejam dan bengis,” kata Orca.
“Aku akan membunuhmu. Sekarang juga…” kata Draganold. Dixa menitikkan sedikit air mata.
“Kumohon… Jangan… Hiks-hiks…” Dixa tak bisa berkutik. Tangannya sudah benar-benar sakit. Mata Draganold menyiratkan kemarahan. Seringainya begitu bengis, dan posisinya mengancam. Setelah itu… Aaaahhhh!

BERSAMBUNG…

Selasa, 08 November 2016

DIXA’S JOURNEY: BATTLE IN PLANET MONSTERS (PART 3)

Suasana semakin memanas. Dargon mengancam dengan segala cara. Ia berbohong. Katanya, ia tidak ingin menyerang Bumi, tapi sebenarnya ya. Ia ingin agar anak-anak sekolah itu tahu kekuatan dari planet Monsters. Peradabannya lebih maju dari Bumi yang sekarang.
“Hei, jika kau tidak mau menyerahkannya, aku benar-benar akan membunuhmu dan seluruh temanmu! Aku sudah tidak tahan lagi denganmu!” kata Dargon.
“Dargon! Aku ingin jika kau pergi dari planet kami! Bilang pada bosmu, jika aku ingin meminjam jam tangan ini!” kata Dixa.
“Berapa lama akan kau pinjam? Selamanya? Tidak! Aku maunya kau mengembalikan itu sekarang! Paham, tidak?!”
“Terserah kau! Kau dan bosmu memang pelit!” bantah Dixa. Ia berlalu pergi.
“Orca, serang anak itu,” suruh Dargon.
“Baik, sobat!” sahutnya.
“Sepertinya, kau harus merasakan ini. Aku sudah tidak tahan lagi dengan bocah sialan sepertimu… WATER BULLET!” kata Orca. Ia mengeluarkan serangannya. Segera, peluru air yang berukuran sebesar tubuh manusia itu menghujam Dixa. Peluru itu tidak menembus tubuhnya, tapi, berhasil melumpuhkannya.
“Aarrgghh! Hah? Kau? Dasar kau paus orca melayang tidak tahu diri!” kata Dixa. Miyako maju menantang.
“Apa yang kau lakukkan padanya, hah?”
“Tidak ada. Hanya hukuman kecil untuk bocah sialan kecil. Rattlesnake, tunjukkan kemampuanmu!” kata Orca. Rattlesnake, si ular derik kerempeng itu maju.
“ZIG-ZAG SPEED!” ia mengeluarkan jurusnya. Gaya berjalan zig-zag ala ular derik itu dikeluarkannya. Tapi, kecepatannya mencapai 100 knot, membuat Miyako kesulitan membedakannya. Lama-lama, ular itu melompat ke hadapannya.
“Hiiyyaahh! POISONS BITE!” Rattlesnake melompat, dan hendak menggigit Miyako. BETT… Dixa menarik tubuh kakaknya secepat kilat, membuat gigi ular itu bertabrakan dengan tanah.
“Aakkhh… Kau membuat gigiku goyang! Hiiss… Lihat saja. Temanku akan menghabisimu! Dargon, serang diaaaa…” kata Rattlesnake. Dargon mengganguk, dan secepat kilat ia menuju Dixa. Miyako mati kutu. Ia tak bisa lagi melindungi adiknya, dan itu sudah pasti. Dixa akan mati.
“FIRE CLAWS!”
“Jangan harap kau bisa menghabisiku dengan mudah!” Dixa menghindar dengan gesit, dan menendang perut Dargon dengan keras. Tendangan keras itu berhasil. Dargon terlumpuhkan sementara. Tapi, ia belum menyerah.
“Huh! Kau pikir, tendanganmu itu bisa mempengaruhiku, ya? Jangan salah sangka…”
“Aku tentu bisa mengalahkanmu. Sebelum kau menyerah dan pergi dari Bumi, aku belum menyerah. Kalau kau mau, ambil jam tangan ini!” kata Dixa. Ia pun melemparkan jam itu kepada Dargon.
“Terima kasih. Kau sudah mengembalikan ini. Tapi, naga berenergi matahari sepertiku bukanlah naga yang mudah menyerah. Kau sudah berbuat kasar, maka, kau harus siap bertarung walaupun jam ini sudah kau kembalikan!”
“Terimalah… SUPERIOR IMPACT!” Dargon mengeluarkan semburannya. Semburan yang secepat laser itu langsung melubangi gedung sekolah. Baju Dixa terbakar sedikit.
“Aku belum puas sampai kau hangus. FLAME BLOWS!” pertarungan semakin sengit. Dargon menyemburkan api. Api itu berupa ledakan. Kebakaran melanda seluruh sekolah. Dargon merasa puas telah membunuh anak itu. Tubuh Dixa terlempar ke dalam teras sekolah, meringkuk lemas dikelilingi api. Sudah dipastikan ia mati.
“Hahaha… Rasakan itu!” kata Dargon. Sirine terdengar semakin dekat. Belasan unit mobil pemadam kebakaran dan empat unit mobil polisi tiba di lokasi. Mereka mengevakuasi seluruh orang yang ada di sekitar. Dargon bersembunyi di balik kapalnya.
Para pemadam kebakaran menemukan tubuh Dixa. Mereka meraba-raba tubuh Dixa. Tubuhnya hangat, dan tidak dingin, bahkan tidak kaku.
“Ayo, angkat dia!”
“Dia belum hangus. Sebaiknya cepat angkat,” kata salah seorang dari mereka. Mereka hendak mengangkat “jasad” Dixa. Akan tetapi…
“Jangan menganggapku enteng, Dargon!” suara Dixa terdengar. Tiba-tiba, anak itu bangun. Orang-orang yang hendak mengangkatnya menyingkir. Petir yang bercabang-cabang keluar dari tubuh Dixa. Wajahnya tampak benar-benar marah, dan sepertinya, akan keluar sesuatu yang luar biasa dari dirinya. Kekuatan super.
“Aku belum mati…”

BERSAMBUNG…

Senin, 07 November 2016

DIXA’S JOURNEY: BATTLE IN PLANET MONSTERS (PART 2)

DRRRR… Baling-baling helikopter terdengar nyaring menembus deru angina badai salju. Helikopter itu terbang menuju pantai tempat kapal pemecah es itu berlabuh. Helikopter itu mendarat di lapangan helipad yang ada di atas kapal tersebut. Dixa dan Miyako turun. Pilot helikopter itu keheranan.
“Hei. Kemana saja kalian berdua? Untunglah kalian segera menghubungi kami. Entah kenapa di tempat seperti ini ada sinyal yang bagus. Motor salju itu juga menghilang, pantas saja kalian tersesat,” katanya. Miyako hanya mengangguk. Lalu, kapal itu memutar balik arahnya dan berjalan. Mereka pun berlabuh di kota metropolitan yang bernama Machine City.
Di sebelah Machine City, ada kota bernama Scoop City. Biasanya, para kaum urban akan berpindah ke antara dua kota tersebut. Kota ini adalah sebuah pulau yang dijadikan kota, dan merupakan kota tempat tinggal Dixa dan Miyako. Setelah turun, Dixa dan Miyako menaiki taksi dan menuju rumah mereka yang berada di Komplek Orchid.
Begitu membuka pintunya, Dixa begitu senang.
“Ah… Home Sweet Home…” katanya lirih. Orang tua Dixa sudah lama tidak ada karena sewaktu Dixa berusia empat tahun, orang tuanya diculik sebuah robot jahat dan dibawa menuju dunia lain yang katanya portalnya ada di dunia manusia, namun tersembunyi. Meninggalkan kedua kakak-beradik yang tinggal dua kilometer dari pusat kota.
Pusat kota Machine City ditandai dengan gedung pencakar langit yang sebenarnya markas Non-Evil Company dengan tinggi 627 meter.
“Jika saja Ibu dan Ayah di sini,” kata Miyako.
“Padahal, Ayah kita adalah manajer dari perusahaan Non-Evil Company yang membasmi kejahatan,”
“Ya, kita hidup di sini… Sendirian,” kata Dixa.
“Tapi yang penting, aku punya jam tangan canggih ini. Jam tangan yang jadi trending topic di medsos maupun acara TV. Nanti aku pamer, ah, ke teman-temanku,”
“Jangan terlalu pamer begitu. Nanti kamu malah jadi sombong, Dixie,” ucap Miyako.
“Hehehe… Asyik! Jam baru, jam baru. Jam canggih, jam canggih! Asyik!” kata Dixa seraya bernyanyi riang.
ooo0ooo
Sebuah planet eksotis di luar tata surya yang bahkan belum terjamah oleh manusia sedang menyimpan empat ekor makhluk hidup yang marah. Seekor naga-alien duduk di depan layar transparan sambil melihat Dixa yang ada di Bumi.
“Jam tanganku… Sebulan yang lalu, aku datang untuk menjelajahi planet Bumi. Karena kehilangan GPS, aku tersesat di sebuah tempat bernama Antartika. Jauh di ujung selatan Bumi. Aku memakai jam tangan rakitanku yang canggih itu. Tapi, aku tidak sadar jika jamku jatuh dan tertimbun salju,” kata naga itu.
“Bos Draganold, sepertinya anak kecil itu senang sekali memakai jam tangan milik bos. Apakah bos akan membiarkan anak itu memakainya?” anak buahnya berkata.
“Tentu saja aku tidak akan membiarkannya! Kalau perlu, aku akan mengutusmu dan teman-temanmu untuk merampasnya kembali dari anak itu. Kalau perlu secara paksa!”
“Siap, bos!”
“Aku mengutus kau, Dargon. Kau, Orca, dan Rattlesnake. Triple Spare akan berangkat besok,” katanya. Naga bernama Draganold itu mengutus anak buahnya yang juga seekor naga bernama Dargon. Dargon memiliki teman bernama Orca dan Rattlesnake dengan tim bernama Triple Spare. Oh, rupanya, jam tangan yang dipakai Dixa adalah milik Draganold.
Kembali ke Dixa, Dixa sedang bersenang-senang dengan jam barunya. Keesokan harinya, ia harus berangkat ke sekolah. Dixa bersekolah di SD Rocky, yang berada tak jauh dari rumahnya. Dixa memamerkan jamnya itu kepada temannya, Jason Blue, anak pindahan dari Amerika.
“Hei, Jason. Lihatlah ini. Aku punya jam baru canggih. Jam yang jadi trending topic itu, lho,” kata Dixa.
“Wah… Keren, Dixa. Kudengar, jam itu bisa melakukkan apa saja. Ya, termasuk membuat bon hasil belanja,” sahut Jason. Lalu, ia berpindah pada Yuri Kuzenkov, anak berambut marun pindahan dari Rusia.
“Yuri… Lihat ini,” kata Dixa sambil mengacungkan tangan kirinya.
“Jam yang ada di medsos! Keren! Ini jam serba bisa itu, kan? Kudengar, kau bisa mengendalikan hewan buas dengan jam ini!” sahut Yuri antusias.
“Tentu saja,” kata Dixa. Dixa menuju kepada anak perempuan bernama Mirna Rill, anak asli dari Machine City yang tinggal bertetangga dengan Dixa.
“Rill, lihat ini. Kau kenal jam ini?” tanya Dixa.
“Dixa… Aku sangat terkesan. Jam yang sedang hangat dibicarakan…” kata Rill. Saat pulang sekolah, Dixa dijemput oleh Miyako yang sudah SMP di SMP Hydra. Dixa sudah memamerkannya ke seluruh penjuru sekolah. Ia pulang diikuti dengan Jason, Yuri, dan Rill di belakangnya.
“Ayo, kita pulang,” ajak Miyako. Tiba-tiba, langit menjadi gelap. Tanah jadi bergetar, dan suara mesin turbo menderu keras. Anak-anak yang semula berhamburan keluar kelas, kini memilih bersembunyi dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada saksi yang berani melihatnya. Benda besar berwarna merah membuat langit tertutup. Lalu, benda itu mendarat di lapangan sekolah.
Ternyata, itu adalah sebuah kapal alien. Pintu kapal terbuka, dan keluarlah seekor naga, paus orca yang melayang, dan seekor ular derik yang sangat kurus.
“Hah? Sejak kapan ada ikan melayang?” komentar Yuri.
“Setahuku, ular derik itu tubuhnya berisi, tidak kurang gizi begini,” komentar Jason.
“Kapal yang keren, tapi, aku merasa terganggu dengan naga yang bertelinga panjang seperti panah itu,” komentar Rill. Lalu, naga itu turun. Ternyata, itu adalah Dargon dan Triple Spare.
“Halo, para penduduk Bumi. Aku kemari bukannya untuk menyerang planet indah kalian. Aku kemari bukannya untuk merenggut nyawa yang tidak berdosa. Bukan itu tujuanku. Aku kemari untuk mengambil benda kesayangan milik bos yang mengutusku kemari,” kata Dargon.
“Kalau kalian selalu mengikuti berita-berita hangat yang sering dibahas akhir-akhir ini, berarti kalian hebat. Kalian tidak ketinggalkan jaman. Jika kalian bukanlah manusia yang ketinggalan jaman, pastinya kalian tahu tentang jam tangan serba bisa yang tertimbun salju di Antartika,”
“Berita tentang jam tangan itu sudah merebak ke seluruh dunia. Jam tangan itu berteknologi canggih. Banyak keributan dan desas-desus muncul jika jam itu bukanlah berasal dari Bumi, dan terdapat tulisan: “MADE BY DRAGANOLD”. Kalian benar, jika jam itu adalah buatan alien. Bosku adalah pembuat jam itu,”
“Aku tinggal di sebuah planet yang berjarak 18 tahun cahaya dari sini, yaitu planet Monsters. Planet yang dihuni oleh alien berwujud monster. Katanya, jam itu sudah dipakai oleh salah seorang siswa di sekolah ini. Dan aku minta anak itu untuk mengembalikannya, atau…” perkataan Dargon terputus.
“Kau akan menyerang kami, begitu?” celetuk Dixa sambil menyembunyikan jam tangannya.
“Ya. Sebaiknya anak itu segera mengembalikannya, atau terpaksa aku akan menyerang kalian, ha ha ha!” katanya. Anak-anak langsung membisu ketakutan. Dixa menunjuk Dargon dengan tangan kirinya.
“Hei, kepala panah, telinga panah, pergilah dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi! Jangan ganggu kami!” suruh Dixa. Dargon melihat jam tangan itu di tangan kiri Dixa.
“Aha! Ini dia! Kau adalah anak yang menemukan jam tangan itu di Antartika, dan memakainya. Kembalikan jam tangan itu!” kata Dargon.
“Tidak mau! Aku tidak mau diancam dengan keras. Aku hanya mau diajak bicara halus, dan aku akan mengembalikan jam tangan ini,” kata Dixa.
“Baiklah, rasakan serangan dari kami, Triple Spare!”
“Dixa… Apa yang telah kau lakukkan?” tanya Jason ketakutan.

BERSAMBUNG…

Minggu, 06 November 2016

DIXA'S JOURNEY: BATTLE IN PLANET MONSTERS (PART 1)

            Ishida Dixa adalah nama seorang bocah lelaki usia 10 tahun. Ia sedang bersama kakak 
perempuannya yang bernama Miyako Katanede. Mereka berdua sedang berjalan di tengah ganasnya badai salju. Kedua kakak beradik itu sama-sama ketakutan berada dalam amukan badai salju di Antartika.

“Kakak… Kalau ini bukan karena idemu, aku pasti tidak akan berada di sini. Kau benar-benar menyusahkanku. Apa niatmu yang sebenarnya? Membunuhku?” protes Dixa.
“Hey, dengarkan aku! Kita berada di sini karena dirimu, bukan? Helikopter pemantau kehilangan kontak dengan kita, kapal pemecah es terparkir di tepi pantai yang jaraknya ratusan kilometer dari sini, dan kita kehilangan motor saljunya!” balas Miyako.
“Apa salahku?”
“Jelas ini gara-gara kau! Saat kita turun dari kapal, kita naik helikopter. Lalu, tak lama kemudian, kau kelaparan dan minta diturunkan di tengah es untuk membuat lubang dan memancing ikan. Tiba-tiba, badai salju datang dan helikopter itu pergi. Ini gara-gara kau!”
“Apa?! Gara-gara aku?! Ulahmu lebih parah lagi! Kau kabur karena melihat anjing laut yang muncul dari permukaan dan meninggalkan motor salju kita! Padahal, itu adalah satu-satunya transportasi untuk keluar dari sini!”
“Siapa peduli terhadap motor salju? Lagipula, aku tidak bisa mengendarainya. Apa gunanya motor salju bagiku?”
“Tapi, itu berguna untukku, Kakak! Aku kan, bisa mengendarai motor salju, dan bisa membebaskan kita dari sini!” bantah Dixa. Ia pun berjalan meninggalkan kakaknya. Miyako hanya mengikuti adiknya yang berjalan semakin ke arah selatan itu. Akan tetapi, Dixa tidak tahu, jika ia telah sampai di tumpukan es permanen Antartika.
“Tuh, kan! Gara-gara kau, kita jadi terjebak di es permanen!” kata Miyako. Dixa tak bisa berkata apa-apa lagi. Sesungguhnya, yang dikatakan oleh Miyako itu kenyataan. Dixa hanya ingin memancing ikan. Tapi, niat Dixa sebenarnya hanya ingin melihat keberadaan ikan unik, bukannya untuk memakan ikan itu.
“Baiklah, Kak. Aku menyesali perbuatanku. Aku minta maaf. Aku yang telah membawa kita kemari. Maafkan aku, Kak. Kuharap, ada keajaiban yang bisa menyelamatkan kita dari sini,” kata Dixa. Miyako memaafkan adiknya itu. PIP-PIP-PIP… Terdengarlah suara seperti antena radar dari dalam tumpukan salju. Suara itu hanya terdengar samar-samar, karena tertumpuk salju.
“Hei, Kak. Kau dengar itu? Suara “PIP” itu sepertinya berasal dari bawah tumpukan salju ini. Mungkin saja itu radar, atau radio pemancar yang terkubur di bawah sini. Siapa tahu itu masih berfungsi!” kata Dixa bersemangat.
“Iya! Kau benar! Suara itu berasal dari tumpukan salju di bawah kakimu. Gali saja! Siapa tahu, benda itu bisa menolong kita!” sahut Miyako. Dixa pun langsung menggali tumpukan salju di bawah kakinya. Ia menggali salju sampai sedalam satu meter dan menemukan sebuah karet silikon berwarna hitam.
“Wah, aku menemukan silikon,” kata Dixa. Ia menarik benda itu. Dan apa yang didapatkannya? Sebuah jam tangan digital.
“Ah… Kau sudah capek-capek menggali, ternyata hanya dapat jam tangan,” kata Miyako kecewa. Tapi, Dixa merasa ada keberuntungan dari jam tangan tersebut.
“Kak, lihat jam ini! Ini adalah jam tangan yang terkubur di bawah salju satu meter Antartika! Ini adalah jam tangan digital yang sedang jadi trending topic. Jam ini berteknologi canggih, dan dipastikan bukan dari Bumi,” katanya. Dixa melihat sisi jam tersebut.
Di situ tertulis “MADE BY DRAGANOLD”. Siapa itu Draganold? Dixa memeriksanya lagi. Ternyata, jam itu benar-benar canggih. Ada radio pemancar, jaringan nirkabel 4G, bertenaga nuklir, radar, sonar, penerjemah bahasa, detector, dan juga penghipnotis. Benar-benar bukan dari Bumi. Di layar jam itu tertulis: LIFE DETECTED. Kehidupan terdeteksi.
Itulah asal bunyi “PIP” tadi. Sampai sekarang, bunyi “PIP” itu masih terdengar. Dixa menekan tombol ALARM yang ada di sisi jam. Lalu, bunyi tersebut berhenti. Dixa kembali memeriksanya, ternyata, ada GPS-nya juga. Dixa memakai jam itu, dan menyalakan GPS-nya. Lalu, ia menyalakan radio pemancar. Dixa memakai radio pemancar itu dan memanggil helikopternya.
Satu jam kemudian… DRRRR… Suara baling-baling helikopter terdengar jelas. Dixa melongok ke atas. Ia dan Miyako melambai-lambaikan tangannya.
“Hei! Hei! Hei! Kami di sini!” kata mereka serempak.
BERSAMBUNG…


7 MAKHLUK MITOLOGI

1. Phoenix

Phoenix adalah makhluk mitologi dari Mesir. Makhluk ini digambarkan sebagai burung api. Bulu-bulunya berwarna merah keemas-emasan. Phoenix dapat hidup sangat lama, yakni sampai ribuan tahun. Ketika sudah saatnya, Phoenix akan membakar dirinya sendiri menjadi abu. Dan dari abu tersebut, terlahirlah burung Phoenix yang baru.

2. Cerberus
Cerberus adalah anjing besar dengan tiga kepala dalam mitologi Yunani. Merupakan hewan peliharaan dari Hades dan bertugas menjaga pintu dunia roh. Cerberus akan menjaga roh yang ingin keluar, dan jika ada yang keluar, maka Cerberus akan melacaknya.

3. Griffin
Griffin adalah makhluk mitologi dengan sayap, kepala, dan kaki berwujud burung elang. Tapi, bagian belakang, yakni kaki dan ekor berwujud singa. Dan ini adalah gabungan dari dua penguasa. Elang sang penguasa langit, dan singa sang penguasa daratan. Griffin biasanya tinggal di gunung-gunung.

4. Werewolf
Werewolf adalah makhluk mitologi yang sudah melegenda. Sebenarnya, makhluk ini adalah manusia biasa saat siang hari. Manusia bisa berubah menjadi Werewolf jika digigit oleh Werewolf lain, bisa juga karena kutukan. Pada malam hari, khususnya bulan purnama, manusia akan berubah menjadi serigala dan mulai mencari manusia lain untuk dimangsa.

5. Pegasus
Pegasus adalah makhluk mitologi yang berasal dari Yunani. Makhluk ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Pegasus digambarkan sebagai kuda dengan sayap dan berwarna putih maupun hitam. Dia terlahir dari darah Medusa, dan Pegasus juga adalah penerbang handal. Dia ditunggangi oleh Bellerophon saat Bellerophon melawan Chimera.

6. Dragon
Dragon adalah makhluk mitologi yang sudah melegenda juga. Padahal, orang kerap keliru menyebut naga adalah Dragon, tapi nyatanya kedua makhluk itu berbeda. Dragon memiliki tubuh berwujud kadal atau ular dan memiliki sayap kelelawar, juga bisa menyemburkan api. Dia sering digambarkan sebagai makhluk yang jahat dan kejam.

7. Hydra
Hydra adalah makhluk mitologi yang digambarkan sebagai ular laut raksasa yang memiliki kepala banyak. Hydra sulit dibunuh, kepalanya yang dipenggal akan muncul kepala yang baru. Racunnya sangat ampuh dan kuat. Bahkan, darah Hydra juga beracun. Tapi pada akhirnya, Hydra berhasil dibunuh oleh Hercules.  

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...