Malam itu, seorang gadis kecil sedang
berada di dalam mobil bersama orang tuanya. Mobil terus melaju, menuruti
rambu-rambu lalu lintas. Kedua orang tuanya berada di jok depan mobil,
sedangkan gadis kecil itu berada di jok belakang sambil bermain handphone.
Tiba-tiba… DUAK! Mobil merosot ke kiri.
Jalannya melambat. Kaca spion kanan pecah dan patah. Sang ayah melongok keluar.
Ternyata, seorang pengendara mobil sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil ini.
Pengendara iseng di depan itu memutar
balik mobilnya, menabrakkannya berkali-kali kepada mobil ini. Mobil ini sudah
benar-benar ringsek. Pengendara itu melaju cepat, mengarah ke moncong mobil ini.
Mengebut dengan sengaja, dan… BRUAK! Kedua mobil sama-sama ringsek. Gadis kecil
itu menutup matanya. Begitu membuka matanya…
“Ibu! Ayah! Tidak… huahaaaa…” gadis itu
menangis tersedu-sedu melihat kedua orang tuanya yang telah tertidur selamanya
dengan berlumuran darah. Pengendara jahat itu masih hidup. Ia telah menabrakkan
mobilnya dan telah berhasil membunuh target. Ia tertawa puas.
“Hahaha… kau sudah tamat, gadis kecil!
Tinggal kau yang jadi targetku!” kata pengendara itu. Gadis itu menelpon polisi
dengan panik. Tak lama kemudian, polisi datang dan berusaha mengejar pengendara
mobil itu. Ia lari, dan akhirnya lenyap dari pandangan. Gadis itu diantar
pulang oleh polisi, sementara ia melihat ambulans datang dan menggendong jasad
kedua orang tuanya.
“Ibu… ayah…” tangisnya.
ooo0ooo
“Pesan
satu kopi vanilla latte!”
“Baik,
segera diantarkan!” sahut seseorang. Ia segera berjalan ke belakang. Tak lama
kemudian, ia kembali sambil membawa baki berisi segelas kopi vanilla latte. Ia memberikannya kepada
orang yang memesan itu.
“Pelayan!
Tolong, satu cupcake cokelat dan es krim stroberi dengan astor dan taburan
meises!” kata seseorang.
“Oke,
Bu. Saya akan segera mengantarkannya,” sahutnya. Gadis remaja berpakaian
pelayan itu berlalu ke belakang. Ia semakin sibuk mengantarkan pesanan bersama
dengan empat pelayan lainnya. Kafe itu semakin penuh saja. Memang, hari Minggu
ini, kafe selalu dibanjiri pengunjung.
Remaja
cantik bermata hijau itu memang sudah bekerja di sini sejak lama sekali. Ia
juga tinggal di sini. Semenjak kematian orang tuanya karena ditabrak mobil saat
masih 8 tahun, gadis itu diantarkan polisi ke rumahnya. Kemudian, ia dibawa ke
panti asuhan. Dan tak lama kemudian, seorang wanita mengadopsinya. Kini, gadis
Jepang berdarah Inggris itu dijadikan pelayan sejak usianya menginjak 12 tahun.
Tante
Tara, begitulah ia memanggilnya. Wanita paruh baya itulah yang sudah memberinya
tempat tinggal yang layak dan pekerjaan. Tiba-tiba, dari pintu masuk, masuklah
seorang gadis remaja seumurannya. Ia duduk di kursi yang masih kosong. Gadis
berambut pendek warna pink itu tersenyum kepada si pelayan. Pelayan itu
mendekatinya.
“Hai,
siapa namamu?” tanya pengunjung itu.
“Karin,”
sahut si pelayan.
“Karin,
perkenalkan, namaku adalah Haruka. Jadi, kau pelayan di sini?” sahut Haruka.
Karin mengangguk.
“Kapan
kau istirahat, sih?” tanya Haruka lagi.
“Ah,
iya. Aku istirahat sekarang. Memangnya ada apa, Haruka?” sahut Karin.
“Aku
ingin berteman denganmu. Aku ingin mengajakmu ngobrol di taman,” kata Haruka.
Karin tersenyum, kemudian berbalik ke belakang. Ia menghampiri seorang wanita.
“Tante
Tara, aku istirahat dulu, ya. Aku ingin keluar,” izin Karin.
“Baiklah.
Hati-hati diluar sana!” kata Tante Tara. Karin mengangguk, kemudian,
menanggalkan celemeknya di meja. Ia pun menggandeng tangan Haruka keluar.
Mereka berjalan menuju taman yang tak jauh dari kafe milik Tante Tara, My Café.
“Jadi,
kau sekolah dimana, Rin?” tanya Haruka.
“Di
SMA Dreamland. Aku kelas 2B,” sahut Karin.
“Wah,
sama dong, denganku! Aku kan, murid baru di kelas 2B. Aku mengenalimu dari
teman-teman di kelas. Kata mereka, kau itu pemalu dan kurang pergaulan. Kata
mereka, kau belum mengenal seorang murid sama sekali,” kata Haruka. Karin
tersenyum. Haruka pun berlari meninggalkan Karin.
“Selamat
tinggal, Karin! Sampai ketemu besok!” lambai Haruka.
ooo0ooo
“Ketua kelas adalah segalanya di kelas.
Ketua kelas adalah penengah masalah di kelas. Ketua kelas adalah pelindung di
kelas. Ketua kelas harus siap menghadapi anak-anak berbahaya. Ketua kelas harus
siap bertarung” tulisan itu adalah poster yang terpampang di
setiap ruangan kelas.
Sebenarnya,
poster itu menimbulkan kontroversi, karena ketua kelas selalu merasa direpotkan
dan seperti dipaksa untuk menjadi pelindung di kelas. Sementara Karin tidak
mengenali ketua kelas di kelasnya. Haruka sudah benar-benar akrab dengan sang
ketua kelas. Katanya, ketua kelas adalah lelaki tampan yang selalu digandrungi.
Karin memang kurang pergaulan. Ia hanya mengenali seorang lelaki yang selalu
mem-bully-nya.
Namanya
Koto. Ia bersama geng kecilnya, Koto’s Gang, melakukkan berbagai macam
kenakalan. Ia memiliki dua anak buah bernama Sora dan Kai. Mereka sangat
menyebalkan dan selalu melakukkan bullying pada Karin.
KRIIIINNNNGGGG….
Bel
istirahat berbunyi keras. Bu Rumi, guru kelas Karin, menyuruh anak-anak untuk
keluar. Karin berjalan berdua menuju kantin bersama Haruka.
“Jadi
kau akan kerja kelompok di rumahku nanti?” tanya Haruka.
“Ya,
bolehlah. Hari Senin pengunjung di kafe Tante Tara tidak begitu banyak. Jadi,
aku bisa santai. Nanti aku tinggal minta izin,” sahut Karin. Tiba-tiba, seorang
anak lelaki berkuncir dengan rambut putih menghalangi Karin.
“Hei,
Karin! Aku minta uang, dong!” katanya.
“Uang
apa-apaan? Tidak mau! Bukankah kantongmu tebal?” sahut Karin ketus.
“Wah,
wah, wah. Jadi perempuan berani juga, ya? Tak ada ampun bagimu, Rin!” kata anak
itu.
“Tidak,
Koto! Jangan begitu!” cegah Haruka. Koto menendang tubuh Karin sampai
terpental. Kemudian, Sora dan Kai datang dan menghajar Karin habis-habisan.
“Koto!”
bentak seorang lelaki. Sang ketua kelas. Ia datang menengahi mereka. Koto tidak
terima dan bertengkar dengan sang ketua kelas. Setelah itu, guru BP datang dan
membawa Koto ke kantornya. Koto memang sudah menjadi anak langganannya guru BP.
“Karin,
kau baik-baik saja?” kata lelaki tersebut.
“Ya,
aku baik-baik saja,” sahut Karin. Lelaki itu tersenyum dan meninggalkannya.
“Oh,
aku harus pergi, Rin. Selamat tinggal,” kata lelaki itu sambil berlalu
meninggalkannya.
ooo0ooo
Sore
itu, Karin mendatangi rumah Haruka untuk kerja kelompok bersama.
“Kenapa,
sih, soal PR saja harus kerja kelompok?” protes Karin.
“Ya,
dalam rangka mempererat tali persahabatan kita, dong,” sahut Haruka dengan nada
bercanda. Karin tersenyum kecil. Mereka pun mengerjakan PR bersama.
“Rin,
memangnya, PR-nya apa saja, sih?” tanya Haruka.
“Lho,
masa kau tidak tahu? Kau yang memaksaku datang kemari, kau juga yang menanyakan
PR-nya. PR-nya itu Matematika dan Bahasa Jepang,” sahut Karin.
“Oke,
oke. Kita kerjakan bersama-sama,” kata Haruka. Ternyata, kedua PR itu tak
semudah perkiraan mereka. Jadi, Karin terpaksa harus pulang pukul sepuluh
malam.
“Haruka,
terima kasih sudah mengizinkanku singgah sebentar,” kata Karin.
“Baiklah,
Rin! Sampai ketemu besok!” sahut Haruka sambil tersenyum.
“Kalau
aku masuk sekolah, lho,” kata Karin. Karin pun melangkah keluar dan meraih
sandalnya. SLEP… Haruka menggeser pintunya. Ia mengintip bayangan Karin dari
dalam pintu kertasnya.
“Hehehe…
sahabat yang baik,” gumam Haruka. Angin sepoi-sepoi diluar menggerakkan rambut
cokelat Karin perlahan. Jambul kecilnya bergoyang.
“Tolooong!”
terdengar suara wanita. Karin menoleh, berusaha mencari sumber suara tersebut.
Ia pun berbalik dan melesat cepat, melewati rumah Haruka. Haruka menggeser
pintunya.
“Karin?”
Haruka bingung melihat sahabat barunya itu lari terbirit-birit. Ia seperti
dikejar setan. Haruka meraih sandalnya dan berusaha mengejar Karin.
“Hei,
Karin! Jangan ngacir, dong!” panggil Haruka. Namun, Karin tidak
menghiraukannya. Akan tetapi, Haruka tak secepat Karin sehingga ia ketinggalan
jauh. Rumah warga kebanyakan sudah dimatikan lampunya. Haruka kehilangan jejak
Karin, sementara Karin terus berlari di dalam kegelapan. Ia pun berhenti
melihat jalan buntu di depannya.
“Ah!
Tolong aku! Jambret! Dia berusaha menjambret tasku!” teriak seorang wanita. Tampak
seorang pria berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng scream berusaha merebut tas tenteng wanita itu. Tapi sayang, si
wanita tak melihat keberadaan Karin karena kegelapan yang menyelimutinya.
Karin
maju ke depan dan menarik tangan pria penjambret itu untuk membela si wanita.
Karin juga memakai baju gelap, jadi si wanita tak tahu Karin membelanya dan
malah mengira Karin adalah orang yang berusaha menjambret tasnya. Karin gagal
membela wanita itu. Si pria kabur membawa tas tentengnya, sementara Karin telah
dijatuhkan oleh pria tadi.
“Hei,
tunggu!” teriak wanita itu. Dari kantong celananya, ia mengeluarkan handphone.
ooo0ooo
Suara
sirine mobil polisi bergema dalam kesunyian. Cahayanya menerangi kegelapan. 4
unit mobil polisi datang menghampiri wanita korban jambret itu. Ia telah
menelpon polisi.
“Ada
apa, Bu? Anda dijambret?” tanya seorang polisi.
“Ya,
tas saya dijambret. Dan anda juga akan kesulitan menemukan pelakunya, sebab ia
memakai topeng dan beraksi dalam kegelapan. Entah dia wanita atau pria,” sahut
wanita itu. Tiba-tiba, seorang remaja lelaki menerobos kerumunan sambil
menggandeng tangan gadis remaja.
“Pak,
dialah pelakunya. Aku berusaha membela wanita itu tadi, tapi aku malah
dilempar. Dia memakai pakaian serba hitam dan topeng scream, dan ini tas wanita itu yang dijambretnya. Ah, ini Bu, tas
anda,” kata remaja lelaki itu sambil menyerahkan tasnya. Wanita itu tersenyum.
“Tidak!
Kau bohong! Pak polisi, dia menuduhku! Jangan! Jangan!” teriak Karin.
“Kau
harus diperiksa polisi, Nak,” kata polisi itu sambil meringkus Karin dan
membawanya ke dalam mobil polisi. Karin mengintip dari jendela belakang.
Wajahnya basah oleh air mata.
“Tidak…”
gumam Karin.
BERSAMBUNG…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar