Senin, 01 April 2019

REVIEW BUKU: ABSOLUTE JUSTICE BY AKIYOSHI RIKAKO


Judul: Absolute Justice
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Genre: mystery, thriller, drama
Rating: 4.7/5

Salah satu buku terbaik yang pernah gue baca. Kenapa? GILA INI CERITA, BIKIN GUE GONDOK SETENGAH MATI SAMA NORIKO. Siapa itu Noriko? Izinkan gue mengupasnya satu per satu. Dan seperti biasa––kayak kalian nggak tau kebiasaan gue aja wkwkwk––gue selalu mengawalinya dengan curhatan gaje.

Awalnya, gue iseng buka akun bookstagrammer favorit gue di Instagram. Jalan-jalan melihat review buku, ternyata gue nemu salah satu buku berjudul Absolute Justice. Katanya rating-nya bagus dan ceritanya seru. Gue sebetulnya juga dari dulu berniat untuk mengoleksi buku-buku terjemahan terbitan Haru wkwkwk. Akhirnya, karena tertarik, gue pun memutuskan untuk membelinya.

Sebetulnya, gue dibuat bingung di toko buku. Gue mesti beli Absolute Justice atau The Dead Returns, ya? Sama-sama novelnya Akiyoshi-sensei, dan udah pasti bagus. Tapi, berhubung Absolute Justice emang murah, jadi gue beli aja. Gue pun langsung membabat novel itu sampai habis.

Gue dibikin tertarik dengan judulnya yang “agak” berat dan menarik. Cover-nya juga cantik sekaligus menakutkan. Kesannya suram gitu. Bahkan, gue aja ampe nggak berani tidur sendirian malem-malem gara-gara melototin cover-nya mulu wkwkwk. Sumpah, gue benci banget sama blurb di belakang bukunya.

Seharusnya monster itu sudah mati….

Blurb-nya segini doang? Kan taik. Akhirnya, karena penasaran, gue beli juga tuh buku. Blurb apa blurb ini, pelit amat wkwkwk.

Dan ternyata?

Gue speechless.

Oke, sekarang kita akan lanjut mengupas satu per satu ceritanya, mulai dari plot hingga review.
.
.
.
.
.
Diawali dengan Kazuki yang merupakan penulis buku non fiksi, mendapat undangan berwarna ungu. Begitu melihat nama sang pengirim, Kazuki terkejut karena yang mengirimnya adalah Takaki Noriko, sahabatnya yang sudah ia bunuh lima tahun silam. Kenapa Noriko bisa mengirim undangan ini, padahal Noriko sendiri sudah mati?

Bercerita tentang geng remaja di sebuah sekolah yang terdiri atas empat orang cewek, yakni Kazuki, Yumiko, Riho, dan Reika. Hingga pada suatu hari, sekolah mereka kedatangan murid baru bernama Takaki Noriko. Noriko memang bukanlah anak yang suka bersosialisasi. Dia pendiam dan suka menyendiri.

Pada akhirnya, keempat cewek itu pun mencoba berteman dengan Noriko. Awalnya, Noriko adalah anak baik yang mematuhi peraturan. Noriko pernah menolong Kazuki yang menjadi korban pelecehan seksual dalam bus. Namun, lama kelamaan, mereka menyadari ada yang tidak beres dengan Noriko.

Saat mereka beranjak dewasa, Noriko mulai mencampuri urusan pribadi mereka. Yang awalnya “menolong”, pada akhirnya berubah menjadi teror yang menakutkan. Gue membaca buku ini dengan kekesalan memuncak disertai keinginan untuk mencabik-cabik Noriko si monster kebenaran.

Di Absolute Justice, Noriko digambarkan sebagai perempuan pendiam yang mencintai kebenaran dan peraturan. Baginya, kebenaran adalah hal terpenting di dunia ini. Maka, ia menghalalkan segala cara demi tercapainya kebenaran. Tadinya, gue mikir bahwa Noriko adalah orang baik, sementara Kazuki adalah orang jahat wkwkwk. Gimana nggak baik? Noriko sudah menegakkan keadilan dengan berbagai cara. Otomatis, dia dianggap sebagai pahlawan.

Namun, apakah Noriko harus kaku seperti itu? Dari awal hingga akhir cerita, gue nggak menemukan secercah perasaan yang berada dalam diri Noriko. Yang ada di pikiran Noriko hanyalah “benar” dan “salah”, tidak ada sedikit pun perasaan. Ngeselin, kan?

Btw apa cuman gue di sini yang langsung ngetes kepribadian MBTI-nya Noriko selama membaca? Wkwkwk. Menurut gue––nggak tau MBTI-nya bener apa salah, ini cuman cocoklogi aja––Noriko adalah seorang ISTJ. Itu menurut gue doang ya, kalo menurut kalian? Tapi, ISTJ di dunia nyata nggak segininya juga kali. Pokoknya, dia tuh bener-bener monster kebenaran.

//btw, ISTJ adalah kepribadiannya Carlos Casena, si abang dingin yang sering nampang di blog ini. Inget dia? Wkwkwk//

Balik lagi ke plot. Setelah menerima undangan itu, Kazuki dan kawan-kawan langsung mengadakan pertemuan. Ternyata, ketiga temannya juga menerima undangan itu. Bagaimana bisa? Noriko, kan, sudah mereka bunuh bersama-sama saat mereka pergi ke gunung dengan mobil. Usai membunuh Noriko, mayat Noriko diletakkan dalam mobil dan mobil itu dibuang ke jurang. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk mendatangi tempat yang menjadi lokasi acara itu.

Alasan mereka membunuh Noriko adalah, mereka lelah dengan kebenaran yang sempurna dari si Noriko. Ya iyalah, gimana nggak kesel coba. Seandainya gue jadi temen gengnya Kazuki, Yumiko, Riho, dan Reika, mungkin gue bakal menghancurkan Noriko saat itu juga.
Dan, tempatnya adalah gunung di mana Noriko dibunuh di sana.

Selesai ngegosipin Noriko dan membahas plot, sekarang biar gue me-review-nya.
.
.
.
.
.
Gue salut dengan gaya penulisan Akiyoshi-sensei yang teramat rapi. Selain itu, terjemahan dari si penerjemah terbilang bagus dan nggak kaku atau berbelit-belit. Pokoknya, terjemahannya mengalir dan enak aja gitu dibacanya. Bahasanya juga mudah dipahami kok. Jadi, buat kalian yang mau baca novel misteri yang bahasanya ringan, Absolute Justice ini patut dicoba.

Alur cerita ini maju mundur, tapi nggak bikin pusing, kok. Malahan menarik. Saya kira seluruh buku ini hanyalah memuat flashback-nya Kazuki––secara, karena dia adalah orang yang pertama muncul dalam opening cerita––tapi ternyata gue salah. Ada empat bab dalam buku ini, dan masing-masing bab menceritakan sudut pandang dari keempat sahabat satu geng itu. Bab satu memuat sudut pandang Kazuki, lalu kedua Yumiko, ketiga Riho, dan keempat Reika.

Pribadi gue emang paling kasihan sama Riho sih. Dan, kisahnya si Riho ini emang paling ngena di hati gue.

Noriko bahkan mendukung temannya melakukan aborsi, karena aborsi itu nggak melanggar hukum di Jepang. Meski nggak melanggar hukum, tapi apakah dia setega itu menyarankan temannya untuk membunuh bayi kecil? BENER-BENER EMANG SI NORIKO INI, BIKIN ICEMOSHI!

Plot twist-nya memang diberikan oleh Akiyoshi-sensei, tapi nggak ngejreng banget. Nggak bener-bener nusuk jantung seperti plot twist-nya Agatha Christie. Tapi, plot twist-nya menegaskan alur cerita dan membuat gue sadar kalo semua yang disajikan di novel ini hanyalah TIPUAN. Percaya nggak percaya, gue merasa bahwa cover bukunya juga merupakan tipuan. Cover buku di mana Noriko menggenggam bunga gentian.

Dan yang bikin gue kagum adalah kesimpulan cerita ini. Akiyoshi-sensei berhasil memberikan pertanyaan yang memunculkan dilema bagi pembacanya.

Apakah kita harus senantiasa menegakkan kebenaran dan peraturan atau kita bisa memaklumi beberapa kesalahan kecil demi perasaan orang lain?

Karena gue ini tipe orang yang rebel alias pemberontak, jelas gue nggak setuju sama Noriko, tapi nggak bisa ngebantah juga.

Selama membaca, muncul beberapa argumen di otak gue untuk melawan Noriko. Namun, percayalah, kalian bakalan mati kutu dan nggak memiliki argumen sama sekali untuk melawannya. Karena, sialnya yang dilakukan Noriko itu selalu benar. Kalau kalian ngelawan dia, berarti kalian salah. Ngeselin, kan?

Bagi kalian yang mencari plot twist mengerikan dan bikin nusuk jantung, sebenernya gue kurang merekomendasikan buku ini. Karena, plot twist-nya nggak terlalu “wah”, hanya untuk menegaskan cerita. Namun, buku ini SANGAT-SANGAT-SANGAT DIREKOMENDASIKAN bagi kalian pecinta misteri tanpa memedulikan apakah plot twist-nya ngejreng apa kagak.

Btw, gue mau ngomong. Bagi kalian yang membenci Noriko, itu nggak salah. Tapi, apakah gue membencinya? Ya. Apakah gue menyukainya juga? YA. Walaupun gue benci, tapi karakter Noriko yang unik dan dibuat sedemikian rupa oleh Akiyoshi-sensei memang membuat gue speechless. Noriko memang menakutkan, tapi gue suka karakternya karena dia keren.

Noriko adalah tokoh antagonis favorit gue. Bahkan, gue lebih menyukai Takaki Noriko ketimbang Amon a.k.a Noatak dari Avatar Korra yang pernah jadi antagonis favorit gue sepanjang masa wkwkwk. Noriko adalah antagonis favorit kedua setelah Johan si psikopat dari serial Johan karya Lexie Xu yang kece badai.

Sehabis membaca buku ini, gue bener-bener merinding. Gue jadi takut dengan orang-orang sekitar gue. Gue jadi mengkhawatirkan segala hal. Dan sebenernya, semua ketakutan itu adalah karena gue takut bila orang seperti Noriko benar-benar ada di dunia nyata dan masuk ke kehidupan gue keesokan harinya. Nggak ada yang tau apa yang bakal terjadi besok. Siapa tau, orang seperti Noriko bakal beneran ada di kehidupan gue keesokan harinya. Keren sumpah novel ini, bikin gue jadi merinding sendiri. Gimana seandainya orang macam Noriko ada dalam kehidupan nyata? Mampus aja kalian wkwkwk.

Oke, kesimpulannya, kebenaran memang bagus. Tapi, kalo berlebihan, jadi serem juga. Gue yakin, sekalipun orang yang amat mencintai kebenaran dan keadilan pastinya nggak setuju dengan Noriko. Siapa juga yang mau mendukung monster kebenaran yang hanya peduli “benar” dan “salah” tanpa hati?

Orang paling rasional dan mengandalkan logika juga nggak sedingin Noriko. Mereka juga punya perasaan. But, Noriko? Orang paling adil dan mencintai kebenaran pun juga nggak kaku banget kayak Noriko. Bener, kan?

Buku ini sangat recommended bagi pecinta misteri. Dijamin kalian nggak bakal nyesel. Dan, yang ingin mengetahui betapa mengerikannya “kebenaran yang berlebihan” itu, kalian bisa langsung cek buku ini.

Inilah mengapa gue memberikan rating 4.7/5 ya. Bagus, kan, bukunya? Makanya, buruan beli! Nyesel loh kalo nggak baca wkwkwk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...