Sabtu, 27 Mei 2017

ETERNAL HOSTILITY: EPILOG


Kilatan sinar yang terus memancar tanpa henti menyilaukan mata seluruh orang yang ada di situ. Tibalah saatnya cahaya merah-biru itu berubah menjadi cahaya putih seterang matahari. 


SRING!
***
Carlos membuka matanya perlahan. Yang ia lihat hanyalah suasana yang gelap gulita tanpa seberkas cahaya pun. Namun, telinganya bisa dengan jelas mendengar suara yang memekakkan telinga. Suara-suara jeritan, teriakan, pekikan, tangisan, tawa jahat, dan suara minta tolong terdengar jelas.

"Aahh!"

"Uwaahh!"

"Hiiaahh!"

"Huhuhu... tidak... huhuhu..."

"Hahahahahaha..."

"Tolong aku! Tolong! Tolong! Kumohon, siapapun tolonglah aku!"

Suara-suara itu berdengung di kepala Carlos dan seolah mengelilinginya. Segala ketakutan, kengerian, dan amarah bercampur menjadi satu di kepalanya. Carlos berjongkok sambil menutup telinganya.

"Aarrgghh! Hentikan ini! Kumohon hentikan! Aarrgghh!" jerit Carlos.

"Aarrgghh..........................................." 

Namun, suara erangan Carlos semakin tidak terdengar dan lama-lama hilang.
***
Pandangan Carlos kembali gelap. Kemudian, memancarlah cahaya yang sangat indah. Carlos melihat sekelilingnya. Ia berada dalam wujud serigalanya. Namun, ia begitu terkejut setelah mengetahui bahwa dirinya melayang di angkasa. Carlos berdiri di ruang angkasa. Tampak olehnya bintang-bintang yang indah dan tampak lebih besar dari di bumi. 

Rasi-rasi bintang...

Big Dipper, Leo, Cygnus...

Tampak pula olehnya benda besar yang membentang. Galaksi Bimasakti. Ia berada di pusat galaksi, namun, ia tidak tersedot lubang hitam.

"Siapa kau?" tanya Carlos begitu melihat seekor kelelawar besar di hadapannya.

"Kau tidak ingat siapa aku?" kelelawar itu menyeringai. Carlos melihat sekeliingnya lagi. Tampak seekor naga terkapar tak berdaya.

"Hei, Kelelawar! Ada apa dengan naga itu? Aku harus menolongnya!" seru Carlos. Namun, sang kelelawar mencengkeram punggung Carlos dengan cakarnya.

"Kau tidak perlu menolongnya." kata sang kelelawar.

"Memang kenapa?" serigala itu bertanya.

"Sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya. Ikuti saja aku..." kelelawar itu terbang menjauh diikuti oleh Carlos. Mereka berdua menjauh dari pusat Bimasakti. Namun, mereka tidak cukup cepat.

WUSH...

Sebuah lubang hitam masif muncul dan menyedot semua material yang ada di angkasa. Bintang-bintang yang dilihat Carlos pun ikut tersedot. Naga yang tak sadarkan diri itu juga tersedot masuk, begitu juga sang kelelawar.

"Tidak! Kelelawar! Tidak!" jerit Carlos. Ia berusaha menolong sang kelelawar. Namun, karena tindakannya tersebut, ia justru malah ikut tersedot masuk ke dalam lubang hitam.

"Tidak! Tidak! TIDAK...!!!"
***
Carlos membuka matanya. Ia masih berada di atas jalanan.

"Jadi... semua ini hanyalah ilusi?" Carlos masih tidak mengerti. "Aku tidak berada di galaksi. Aku hanya berkhayal..."

"Jadi, kau sudah sadar, hah?" Jay mendekati Carlos. 

"Ya, aku sudah sadar." sahut Carlos.

"Mau bertarung sekali lagi?"

"Tidak, terima kasih. Kurasa kau yang harus bertarung melawan polisi-polisi yang berusaha menangkapmu." sahut Carlos. Para polisi berusaha menangkapnya, namun sayangnya Jay membela diri. Tiba-tiba...

DOR! DOR!

Dua buah peluru melesat cepat dan bersarang di kaki Jay. Jay terjatuh terlentang. Ia melihat siapa yang menembaknya tersebut.

"Kau masih hidup?" Jay terbelalak tidak percaya. Sosok pria dengan tubuh berlumuran darah itu menyeringai.

"Tentu saja aku masih hidup! Aku akan segera menjebloskanmu ke dalam penjara! Dasar oknum polisi!" seru Draganold. Draganold masih hidup rupanya. Dengan keadaan kaki tertembak itu, para polisi meringkusnya. Jay tak bisa berkutik lagi. Ia dibawa masuk ke dalam mobil polisi.

Draganold kemudian jatuh. Ia tak bisa menahan luka-lukanya. Untung saja ia ditahan oleh Dixa.

"Kau bisa berjalan?" tanya Dixa sambil memapah Draganold.

"Sudahlah, aku baik-baik saja." sahut Draganold. Nelson kemudian mendekati Carlos.

"Hahaha... untunglah ingatanmu pulih kembali. Besok, kita akan memberitahukan hal ini kepada Ditani. Dia pasti sangat senang." kata Nelson sambil tersenyum.

"Dixa..." kata Draganold.

"Ada apa?" tanya Dixa.

"Kurasa... aku... butuh perawatan medis..."

"Oh, baiklah." kata Dixa. Ia mengeluarkan kotak P3K-nya dan mengobati luka-luka Draganold.

"Dixa, kau tahu? Aku punya firasat buruk tentang Jay. Kenapa aku tidak membunuhnya saja tadi? Kenapa saat aku pernah membunuhmu dulu aku harus membuat perjanjian untuk tidak membunuh lagi?" kata Draganold.

"Tidak, Drag. Kau telah melakukan hal yang benar, yakni tidak membunuhnya. Hmmh... mungkin ada cara lain yang lebih efektif untuk menghentikan Jay. Bagaimana jika kau memata-matainya selama 1 X 24 jam dalam kurun waktu sebulan? Kemudian, jika ada tindakan mencurigakan, kau bisa laporkan kepada Carlos ataupun kepada polisi." usul Dixa.
***
"Carlos, ini adalah kertas laporan yang berhasil kudapatkan dari memata-matai Jay selama sebulan. Entah apa tanggapanmu tentang ini, tapi, bacalah." kata Draganold sambil menyodorkan selembar kertas berisi laporan yang ditulis tangan olehnya. Carlos menerima kertas itu.

SEHARI

Carl, aku tak menemukan kejanggalan apapun. Sepertinya Jay sedang merenungi perbuatannya dibalik jeruji besi. Ia sedang meringkuk di atas kasurnya. Tidak ada yang aneh di kamera CCTV. Lihat, beberapa orang penjaga dan kepala sipir menghapirinya. Mereka menanyakan sesuatu. Sudah kuawasi 1 X 24 jam nonstop, tidak ada kejanggalan apapun.

TIGA HARI

Sudah tiga hari kuawasi, tidak ada keanehan apapun. Namun, Jay sepertinya mendambakan kebebasan. Sedari tadi, ia hanya menempelkan kepalanya di jeruji besi sambil melihat sekitar. Selain itu, tidak ada yang aneh. Para penjaga hanya bolak-balik mengantarkan kantong darah kepadanya. Wajahnya benar-benar poker face.

SEMINGGU

Kurasa Jay mulai bosan berada di dalam penjara. Ia mondar-mandir di dalam selnya dan mulai melongok-longok keluar jendela. Kurasa ini harus diwaspadai, tapi ia tak berani keluar lewat jendela.

TIGA MINGGU

Aku mulai muak dengan vampir keparat itu. Ia mondar-mandir selama dua jam, kemudian, ia menggedor-gedor jeruji besi. Aku akan mengawasinya lebih jauh lagi.

SEBULAN

Inilah puncaknya. Dia mulai menarik-narik seragam setiap penjaga yang lewat dan memohon untuk dikeluarkan dari penjara. Lalu, ia menatapku dari kamera CCTV-nya. What the fu*k?! Kemudian, ia mengeluarkan pistol yang disisipkannya dan ia menembak kamera CCTV.

"Selesai?" tanya Carlos.

"Ya, akhirnya benar-benar menggantung, bukan?" sahut Draganold. "Kurasa dia... melarikan diri dari penjara."

"Kurasa juga begitu." sahut Carlos.

"Carlos! Ada orang di belakangmu!" seru Draganold.

BUAK!

Carlos meninju orang tersebut.

"Cih, ternyata kau tidak ada kapok-kapoknya juga, ya? Jay?" kata Carlos.

"Pertarungan kita yang sesungguhnya akan dimulai, Carlos!" sahut Jay.

"Selamat datang kembali di era Permusuhan Abadi."

TAMAT

Selesai sudah spin-off ini. Ditunggu feedback-nya ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...