Sabtu, 21 Januari 2017

7 HEWAN KARNIVORA TERBESAR

Hewan karnivora terbesar? Pasti terbayang di pikiran kalian itu beruang. Beruang memang akan kumasukan ke dalam list ini. Eits, tapi masih ada hewan karnivora besar yang pastinya sudah kalian kenal juga. Oke, lihat ini!

1. Beruang kutub

Siapa yang tak kenal dengan hewan karnivora berbadan bongsor berbulu putih ini? Dibalik penampilannya yang manis, tenang dan imut-imut, beruang kutub adalah hewan karnivora yang sangat rakus, bengis, dan keliahatan besar. Beruang kutub bahkan lebih besar dari beruang grizzly. Beruang kutub memiliki berat satu ton dan panjang tubuh tiga meter. Rupanya, beruang kutub adalah predator daratan terbesar di dunia.

2. Serigala kelabu
Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku hanya memasukan serigala kelabu ke list ini. Yup, dibandingkan jenis serigala-serigala lainnya, serigala kelabu adalah yang terbesar. Tingginya mencapai satu meter, kira-kira setinggi pinggang orang dewasa. Beratnya mencapai 60 kg. Dan serigala merupakan hewan predator terbesar kedua di dunia setelah beruang kutub.

3. Paus orca
Pernah menonton film Free Willy atau memainkan game Feeding Frenzy? Inilah paus yang menjadi tokohnya. Paus orca sering disebut sebagai paus pembunuh. Paus orca masih berkerabat dengan lumba-lumba dan bukanlah paus sejati. Panjangnya mencapai 10 meter dan bahkan bisa lebih besar dari seekor hiu. Paus orca sangat gemar memangsa bayi anjing laut.

4. Hiu putih
Hiu putih adalah salah satu dari spesies hiu yang paling berbahaya, kejam, dan besar. Hiu putih dikenal sering memangsa manusia bersama dengan hiu macan. Hiu putih juga adalah spesies hiu yang paling besar. Tapi, tetap saja besar itu kalah dari leluhur hiu, Megalodon, dan tetap kalah dari paus orca yang bisa memangsa hiu sekalipun.

5. Singa
Singa yang digambarkan sebagai "Raja Hutan" bersama harimau ini memang sangat besar. Lebih besar dari serigala dan jauh lebih panjang dari serigala. Singa ini hidup di Afrika dan makanan favoritnya biasanya zebra dan rusa. Berat singa jantan dewasa mencapai 120 kg, lebih ringan daripada harimau. Namun, tingginya mencapai 1,2 meter, sedikit lebih tinggi dari serigala.

6. Harimau
Harimau adalah salah satu hewan karnivora besar yang juga hidup di Indonesia. Lebih besar juga daripada serigala dan berburu sendirian. Namun, ukurannya agak lebih kecil daripada singa. Akan tetapi, berat harimau jantan dewasa mencapai 310 kg.

7. Buaya air asin
Buaya air asin adalah salah satu dari spesies buaya dan inilah yang terbesar. Buaya air asin adalah jenis buaya yang sudah sejak lama meresahkan warga. Panjang buaya jantan mencapai 5 meter, dan beratnya mencapai satu ton. Lebih berat dari sapi Limosin.

Bagaimana dengan ketujuh list hewan karnivora terbesar diatas? It's so creepy, huh? Kalian bayangkan saja, bagaimana jika salah satu hewan diatas ada di hadapan kalian dengan keadaan lapar, sedangkan kalian tidak bawa senjata apapun. Hiih, seram, ya?

sumber gambar: google.co.id

 

Minggu, 08 Januari 2017

CHASE FEELING COMICS!

Halo, kali ini aku buat postingan yang sedikit berbeda, lho. Bukannya tulisan, tapi komik. Hah, komik? Emang admin bisa ya, bikin komik? Bisa sih, sedikit-sedikit. Komik berjudul Chase Feeling ini bergenre romance, itu udah pasti. Sstt, ini bukannya Feelings, lho. Ini bukannya cerita tentang si Karin dan pacarnya, Yuichi.

By the way, kalian akan bertemu dengan tokoh Ishida Dixa di sini! Ya, sebenarnya ini komik Dixa dan karakter lainnya bisa kalian jumpai. Ada karakter baru di sini, yakni Ditani Miyuki, Tiara Avery, dan Lena Splendid (udah tau, ada di D’ Virus Wars), dan Nelson Robert. Komik ini bercerita tentang Dixa yang menyatakan perasaannya kepada Rill secara diam-diam. Namun siapa sangka, hal ini justru diketahui oleh kedua orang tuanya dan juga Miyako. Miyako pun mengolok-ngolok Dixa, tapi dia sendiri sebenarnya memiliki perasaan terpendam kepada Draganold. Lalu, seorang gadis bernama Ditani juga menyukai Carlos dan berusaha menyatakan perasaannya. Dan terakhir, Sebastian bertemu dengan penggemar beratnya sejak masih SMP, Tiara dan Tiara menyukai Sebastian.


Berhasilkah mereka menyatakan perasaan terpendam mereka? Hihihi, udah nggak sabar, kan? Ditunggu, yach!

Rabu, 04 Januari 2017

D’ VIRUS WARS (PART 5): WE ARE THE VIRUSFIGHTERS

Warga yang semula berkumpul dan merasa aman kini berlari tunggang langgang. Evolusi Deino menjadi Chimerus benar-benar berbahaya. Chimerus jauh lebih berbahaya dan lebih agresif.
“GRAARRHH…”
Suara raungan singa itu dikeluarkannya. Dixa terdiam. Sebas menunjuk Firedactyl. Reptil itu juga ikut berevolusi. Tubuhnya bertambah besar dan bertambah panas.
“Jika saja ada seekor Phoenix ataupun naga yang cukup kuat, aku tantang dia. Dijamin kalah! Apalagi kalian, umat manusia!” sombong Firedactyl. SSHH… suasana kembali memanas. Tubuh Firedactyl semakin terang. BLAR! Ia menembakan api besarnya dan membakar apapun yang ada di depan matanya. Kalau begini terus, Machine City akan bisa hancur terpanggang.
Sementara Dixa dan yang lainnya sudah mati kutu. Mereka sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tiba-tiba, Carlos teringat akan tetangganya, Lena Splendid. Lena adalah reinkarnasi dari seorang profesor bernama Match yang telah menciptakan Robo-World, robot-robot, dan termasuk anti-virus terkuat sejagat.
“Aku… aku akan berkonsultasi dengan Lena! Kau, Draganold, carilah Dogzer! Dia juga bisa membantu kita!” kata Carlos. Ia berlalu pergi meninggalkan mereka. Draganold yang asli segera pergi ke sebuah penjara. Ia ingin bertemu dengan Dogzer dan memintanya untuk melawan virus-virus itu juga. Dogzer pernah menjadi kepala sipir di D’ Prison dan pernah berlaku tidak adil kepada Kenny dalam waktu lama.
Setidaknya itu sebelum Dogzer lengser akibat Draganold. Kini, ia bekerja dalam penjara di Machine City. Dan orang-orang awam pasti menduga Dogzer adalah pria biasa. Namun, sebenarnya Dogzer adalah robot anjing German Shepherd ciptaan profesor Match. Bertemu dengannya adalah hal berbahaya, karena Dogzer yang tidak punya air liur itu dipercaya mengidap rabies.
Draganold berjalan santai menuju kantor Dogzer. Ia menuju ruangan kepala sipir dan menemukan Dogzer di sana. Ia tampak sedang menggigiti boneka tulang yang berdecit.
“Hai, Dogzer. Sepertinya aku butuh bantuanmu sekarang,” kata Draganold. Dogzer tampak memakai seragam sipir khas Machine City, namun bentuknya seperti seragam anjing pelacak. Ia memakai kain merah di lehernya. Dogzer menatap kosong Draganold, saingannya dulu yang menyebabkan dirinya jadi pengangguran sementara.
“GUK! GUK! GUK! GUK! Mau apa kau?! GUK! GUK! GUK! Apa yang kau lakukan di sini, Draggie?!” bentak Dogzer. Ia kemudian berdiri diatas mejanya dan menggigiti berkas-berkasnya. Dasar robot rabies.
“Aku butuh bantuanmu untuk mengalahkan virus-virus diluar. Bersediakah kau membantuku? Tentu saja itu ada imbalannya, Doggie. Setelah semua ini selesai, aku akan membelikanmu boneka tulang berdecit yang baru,” bujuk Draganold.
“Aha, imbalan yang menarik! GUK! GUK! Tapi, aku belum selesai menggigiti seisi ruangan!” sahut Dogzer. Draganold mengikat lehernya dan menyeret Dogzer keluar. “Aku belum selesai menggigit! GUK! GUK! Tunggu, ikatan ini terlalu kencang! Uweehh… uhuk-uhuk!”
Draganold membawanya keluar ruangan.
ooo0ooo
Carlos menuju ke rumah Lena dan segera berkonsultasi dengannya.
“Aku tahu anti-virus yang kau butuhkan, Carl. Ini dia, Emperor Anti-Virus. Jauh lebih baik daripada anti-virus manapun. Masukan ini ke laptopmu, kemudian kau bisa menyuruh para ahli komputer untuk memindahkan anti-virus itu ke tubuh mereka dan itu akan membunuhnya,” kata Lena.
“Baiklah, Lena,” sahut Carlos. Setelah mentransfer, Carlos pun pergi ke suatu tempat.
Ke markas pemadam kebakaran tempatnya bekerja.
Ia harus mengurus sesuatu. Tapi sebelum itu, Carlos ke rumahnya sementara untuk mengambil perlengkapan. Ia datang ke markasnya sambil menyeret karung berat berisi sesuatu. Sampai di sana, ia bertemu dengan montirnya.
“Hai, bolehkah aku meminjam Demon?” tanya Carlos.
“Oh, boleh saja. Untuk apa? Dan kenapa kau memakai sepatu khusus dan rompi anti peluru, sih, Carl? Ada masalah?” sahut sang montir.
“Nyalakan televisinya, dong. Ada peperangan di pusat kota. Sekarang, izinkanlah aku untuk memasang perlengkapan ini pada Demon,” kata Carlos. Montir itu mengizinkannya. Carlos mengambil isi karungnya. Ia mendekati sebuah mobil pemadam kebakaran yang terparkir. Ia memasangkan isi karungnya di sekeliling bodi mobilnya. Setelah itu, ia memasangkan sesuatu di knalpot.
Selesai itu, Carlos menyambungkan kabel-kabelnya dengan mesin dalam mobil. Hanya sebentar, kok. Lalu, selesailah sudah. Mobil pemadam kebakaran yang dipanggil “Demon” oleh para petugas yang ada di sana itu kini telah tampil beda. Carlos menaikinya.
“Santai saja, Demon. Oke, selamat tinggal! Saatnya masuk ke kokpit!” seru Carlos.
“Kokpit? Ah, terserah kau saja, Carl. Selamat tinggal!” lambai montir itu. Carlos menjalankan Demon dan menyalakan sirine.
ooo0ooo
Baku tembak dan baku hantam kembali terjadi antara warga, aparat, petugas medis, petugas pemadam kebakaran, dan Dixa juga lainnya. Dixa dari khayalan menunggangi Draganold khayalannya yang kembali menjadi naga dan menembaki Chimerus juga Firedactyl. Draganold yang asli sudah datang bersama Dogzer.
Dogzer menyumbangkan gonggongannya untuk menakut-nakuti virus-virus itu.
NGUAANNGG…
Raungan sirine terdengar dari kejauhan. Cahaya merah-biru melesat di setiap sudut. Lampu depan menerangi jalanan.
TOT-TOT!
Suara klakson dibunyikan. Sebuah mobil pemadam kebakaran tiba di tempat. Seorang pemuda mengendarainya dengan menggunakan gaya mobil rally. Mengepot dan mencoba segala macam gaya rally. SRIT… mobil itu mengepot.
Carlos keluar dari dalam. Ia membawa laptopnya kepada Sebas yang sekarang.
“Sebas, bawa ini pada pekerja gedung komputer! Beritahu jika ada anti-virusnya!” suruh Carlos. Sebas menurut dan membawa laptop itu kepada mereka, para pekerja.
“Hei, Carl! Kenapa ada tali yang membelit Demon?” tanya Dixa.
“Kau akan melihatnya sendiri. Ayo, masuk ke kokpit. Buka dulu rompi dan helm itu,” suruh Carlos. Dixa menurut dan membuka rompi dan helmnya. Lalu, ia mengikuti Carlos.
“Bawa senapan ini. Oh, ya. Kau akan membutuhkan jet pack,” kata Carlos. Carlos membuka tempat penyimpanan pada Demon. Isinya? Selang, tabung pemadam api, dan sebagainya. Carlos mengambil sebuah tabung pemadam api dan mengambil tali. Ia mengikatkan tabung itu di punggung Dixa.
“Hei, ini bukan jet pack! Ini pemadam api! Ini berat sekali! Lepaskan aku!” Dixa berontak. Carlos menenangkannya.
“Kubilang, masuk ke kokpit, Ishi-Dix…” kata Carlos. Ia mengajak Dixa masuk. Carlos mengendarai Demon secepat mungkin.
NGEENNGG…
Spidometer menunjukan angka kecepatan yang menakutkan.
100 km/h!!!
“TIDAK!!!” jerit Dixa. Semua orang yang ada di situ menyingkir. Carlos mengaktifkan wiper jendela, tapi, saat wiper itu bergerak, mencuat juga sesuatu. Dari alat yang dipasang Carlos tadi pada bodi Demon mencuatlah sepasang sayap. Dari knalpot dan alat yang dipasangnya keluarlah api. Turbo. WUSH… mobil mulai melayang perlahan.
“Oke, Demon, bersiaplah untuk pertarungan yang sesungguhnya!!!” seru Carlos. Ia mengeluarkan Wolf Blade dari belakangnya.
WUZZ…
Demon berubah. Ia berubah menjadi kuda, seperti Ganymede. Tapi, Demon adalah kuda putih. Dan yang lebih hebat, sayap itu juga menambahkannya keperluan tambahan. Sayap sungguhan. Makhluk mitologi legendaris bersayap itu telah muncul.
Makhluk yang terlahir dari darah Medusa.
Makhluk yang sekian lama menjadi pelayan Dewa Zeus untuk membawakan petir.
Makhluk yang menjadi tunggangan Bellerophon saat membunuh Chimera. Kini, Demon adalah seekor…
Pegasus.
“Woo!!! Dixa, tarik pemicunya! Lalu, semburkan busa seperti kau memadamkan api! Dan… TERJUN BEBAS!” kata Carlos. Dixa menurut. Ia menggunakan pemadam api itu dan terjun bebas. Ini seperti jet pack sungguhan. Carlos kini akan berhadapan dengan Chimerus. Sementara Draganold dan Dixa khayalan berhadapan dengan Firedactyl.
“Hei, lihat itu! Ada Pegasus!” tunjuk seorang warga. Mereka bersorak girang melihat seekor Pegasus tengah membubung tinggi di angkasa.
“Draganold! Alihkan perhatian Firedactyl, oke?!” kata Carlos sambil mengacungkan jempolnya.
“Oke, akan berusaha kualihkan!” sahut Draganold. Dixa menunggangi Draganold. Sementara Dixa yang asli melanggar peraturan Carlos. Ia dan jet pack-nya melayang ke langit.
“Diriku! Genggam tanganku!” kata Dixa yang asli. Dixa khayalan itu menggenggam tangan dirinya yang asli. Dixa pun membuang pemadam api itu dan menumpang pada Draganold. HYUSH… Draganold melesat pada kecepatan 200 knot dan kedua Dixa itu menembaki Firedactyl. Carlos menghadapi Chimerus dengan semangat berapi-api.
“Aku tahu Bellerophon pernah membunuh Chimera sambil menunggangi Pegasus. Dan sekarang, kejadian itu terulang kembali!” seru Carlos. Ia mengangkat Wolf Blade-nya dan menghujamkan samurai itu ke tubuh Chimerus. Satu… dua… tiga… Carlos telah sukses melukai Chimerus. Ia tak punya resistensi terhadap senjata seperti dirinya dulu, Deino. Ia tak ingin membunuh Chimerus langsung. Ia ingin menikmati pertarungan ini. Carlos berusaha melukai ekor ularnya, namun, kepala kambingnya membela. Kepala singa itu berusaha menggigit Demon.
Demon mengelak. SRING! Carlos menggores wajah singanya. Darah mengucur deras, namun Chimerus tak mati.
“GRAARRHH…” Chimerus meraung. “Sialan kau! Kemari kau, Anak Jelek!” seru Chimerus. BLAR! Draganold menyemburkan apinya ke tubuh Chimerus. Ia meraung kesakitan, namun sepertinya ia tak peduli dengan semburan api nuklir itu. Pertarungan berlangsung selama setengah jam, namun Sebas tak kunjung datang.
“Ayo, Draganold! Tunjukan kemampuanmu!” seru Dixa khayalan. Draganold terdiam. Ia membubung tinggi ke langit, lebih tinggi dari sini. “Tunggu, apa yang kau lakukan?! Ingat, aku punya asma! Jangan!”
“Tenang saja!” sahut Draganold. Ia membubung semakin tinggi. Oksigen semakin tipis diatas sana. Draganold berhenti di lapisan mesosfer. Kedua Dixa itu tak bisa bernafas.
“Akh… Drag, kau berusaha… membunuh… kami… akh…” kata Dixa yang asli dengan nafas tersengal-sengal. Draganold punya kemampuan istimewa, ia bisa bertahan di ruang angkasa. Lalu, Draganold menukik cepat ke bawah. Lebih cepat dari elang peregrine.
“Whoaaa… TIDAK!!! DRAGANOLD, APA YANG KAU LAKUKAN?! INI MENGERIKAN!!!” jerit kedua Dixa itu. Draganold menukik sangat cepat sampai moncongnya berapi karena bergesekan dengan atmosfer. Ia sampai ke kota dan melihat Chimerus dan Firedactyl yang berdempetan.
BLAR!
Energi besar dikeluarkannya, membuat mereka berdua terpental jauh, namun tidak mati.
“Kau belum melihat kekuatan sesungguhnya dari Draganold dan Carlos, huh? Rasakan ini!!!” seru Draganold. BWOOSSHH… Draganold menyemburkan laser nuklirnya. Chimerus dan Firedactyl berteriak kesakitan merasakan panasnya api dan radiasi nuklir membakar kulit mereka.
“Woo! Ini hebat, Drag!” seru kedua Dixa. Draganold berseru.
“Carlos! Tunjukan kemampuanmu!” seru Draganold. Carlos mengangguk. Sesaat kemudian, Chimerus mengerang kesakitan merasakan cakar besar tengah menyangkut di tubuhnya. Seekor serigala kelabu sedang mencakar dirinya. “Kerja bagus, Carl! Alihkan perhatian mereka! Akan kulihat keadaan para pekerja!”
“AUUU…” Carlos melolong. Tunggu dulu, Carlos? Ya, serigala itu Carlos. Draganold berbicara dengan para pekerja dan Sebas yang katanya akan menggunakan anti-virus itu.
“Hei, para virus! Lihatlah ini!” terdengar suara Sebas. Ia tengah mengendarai sebuah alat dengan moncong senjata yang mencuat. “Perkenalkan senjata buatan Computer Office! Senjata ini sudah dibuat sejak dua tahun lalu dan kami tinggal memasukkan anti virus ke dalamnya! Inilah dia, Emperor AV-8472!” seru Sebas.
Carlos menggenggam erat-erat Wolf Blade. Draganold sudah ancang-ancang mengeluarkan semburan terkuatnya. Sebas mengarahkan senjata itu sampai tepat kepada mereka berdua.
“Kalian! Persiapkan senapan dan pistol kalian!” seru Sebas. Para aparat memasang ancang-ancang untuk menembak Chimerus dan Firedactyl.
“Satu… dua… tiga… FIRE!” seru Sebas lagi. BWOSH! Laser raksasa berwarna putih itu langsung melesat cepat menuju kedua virus itu. Carlos menyambit samurainya. Draganold meledakkan mereka berdua. Aparat menembaki mereka.
BLAARR!
Semuanya telah meledak. Chimerus dan Firedactyl lenyap dari pandangan. Wolf Blade kembali ke tangan Carlos. Mereka semua turun ke tanah. Semua warga bertepuk tangan dan bersorak kegirangan. Draganold yang asli juga bersorak. Dogzer menggonggong.
“GUK-GUK-GUK! AUUU…” gonggongnya. Draganold khayalan berubah menjadi manusia. Rifle mendekatinya. Ia menepuk pundaknya.
“Tidak buruk, Nak. Kau lumayan hebat diatas sana. Aku sangat mengagumimu,” puji Rifle.
“Ya, terima kasih, Pak. Maaf aku telah menembak kakimu. Lain kali aku akan berhati-hati saat membela diri,” kata Draganold.
“Tidak apa-apa. Kalau bela diri, lebih baik pakai seni bela diri saja. Kudengar, kau itu jago krav maga dan karate,” kata Rifle. Mereka berjabat tangan. Draganold yang asli tersenyum melihat dirinya yang khayalan itu. Dogzer terdiam.
“Oh, ya. Sesuai janjiku, aku membelikanmu ini,” kata Draganold sambil melemparkan boneka tulang berdecit kepada Dogzer. Dogzer langsung menggigitinya.
“Lihat anak-anak itu! Ada yang menunggangi naga, ada yang menunggangi Pegasus!” kata seorang warga. Demon meringkik dan memamerkan sayapnya yang indah. Warga terkagum-kagum melihat pemandangan tak biasa itu. Seekor Pegasus tengah meringkik dan berdiri dengan dua kaki dengan gagahnya. Setelah itu, Draganold, Carlos, dan Sebas khayalan menjadi berbayang.
“Kami akan menghilang lagi ke alam khayalan. Ini atas pilihan kami sendiri. Dixa, kau ikut?” tanya Sebas. Dixa khayalan itu menggeleng.
“Aku akan masuk dan menyatu dengan diriku yang asli,” sahutnya. “Dari dulu, aku ingin sekali memiliki kepercayaan kepada orang lain. Dan sekarang, aku punya satu orang yang bisa kupercayai,” kata Dixa. Ia mendekati Draganold dan tersenyum kepadanya.
“Terima kasih telah mempercayaiku. Maafkan aku, Dix,” kata Draganold.
“Aku tak pernah dendam kepadamu,” sahut Dixa. Ia mendekati Draganold dan memeluknya erat-erat. “Selamat tinggal, Drag,”
“Selamat tinggal, Dixa,” kata Draganold. Kemudian, sosok-sosok khayalan itu lenyap. Dixa khayalan menembus tubuh Dixa yang asli dan menyatu dengannya. Semua orang di Machine City benar-benar bahagia hari itu. Carlos datang kepada Demon dan menarik tali kekang di mulutnya.
“Ayo, kita kembali ke markas dan mencopot seluruh perlengkapan terbangmu. Kau mobil, bukan pesawat. Kau minum solar, bukan avtur,” kata Carlos. “By the way, aku akan mentraktirmu solar setelah bahan bakarmu habis saat terbang,” kata Carlos lagi. Ia pun menunggangi Demon dan kembali ke markasnya. Dixa tersenyum gembira karena telah berhasil menyelamatkan orang-orang.
ooo0ooo
Di sebuah tempat…
Sebuah markas berisi robot-robot teroris. Bos mereka sedang duduk di ujung ruangan. Pembantunya melangkah dan mendekati bosnya.
“Bos, aku mengumpulkan data-data orang terkuat di Machine City. Mereka telah berhasil mengalahkan virus. Takutnya mereka akan mengalahkan bos juga. Apa yang akan bos lakukan?” tanya pembantunya.
“Aku akan…” kata bosnya.
“Membunuh mereka,”

TAMAT

Minggu, 01 Januari 2017

D’ VIRUS WARS (PART 4): THE BATTLE

“GRAARRHH…” Deino tak ingin menyerah rupanya.
DOR-DOR-DOR!!!
Baku tembak kembali terjadi. Timah-timah panas itu terus menembus tubuh Deino tanpa henti, bagaikan titik-titik air hujan. Tak lama kemudian, Deino melarikan diri. Ia tak tahan dengan peluru yang terus menghujamnya. Biarpun ia tahan peluru, api, dan air, tapi tentu ia tak tahan dengan rasa sakit saat peluru-peluru itu menghujamnya.
SSHH…
“Ah, kenapa di sini panas sekali?” keluh Draganold. Ia melihat Dixa, Sebas, Rifle, dan dirinya dari dunia khayalan telah lari tunggang langgang. “Ada apa ini?” tanya Draganold. Naga itu menoleh keatas. Wajahnya menjadi sangat ketakutan. Draganold terbaring ketakutan melihatnya. Makhluk mengerikan itu kini berada 5 cm di depannya.
Keringat mengucur dari tubuh Draganold. Nafasnya terengah-engah. Mungkin, ini adalah terakhir kalinya ia melihat dunia. Draganold menutup matanya, biarlah makhluk itu menghabisinya. Tak ada lagi harapan untuk hidup. Dirinya dari dunia khayalan pasti tak ingin menolongnya. Pastinya, dirinya yang satu lagi akan membunuhnya.
Carlos menghilang entah kemana. Padahal, serigala itu adalah rekannya yang hebat. Namun, sekarang… entahlah apa yang terjadi padanya atau dirinya. Tiba-tiba…
DOR!
“NGAAKK!”
Draganold membuka matanya. Firedactyl yang hampir menghabisinya kini telah berlalu.
“Aku… aku selamat!” seru Draganold girang. Pasti ada yang menembak Firedactyl. Tapi, siapa? Draganold menoleh ke belakang. Seseorang bersembunyi di kolong mobil panzer. Moncong dari senapan laras panjang mencuat. Senapan itu masih berasap. Mungkin orang itulah yang menyelamatkan nyawanya. Orang itu memejamkan sebelah matanya.
Draganold berbinar. Ia begitu gembira. Orang itu keluar dari kolong panzer.
“Carlos!” jerit Draganold. Carlos telah menembak Firedactyl dan menyelamatkan Draganold. “Terima kasih, Carlos…”
“Sama-sama, Draggie. Yang penting, kau baik-baik saja,” sahut Carlos. Dixa dan lainnya telah kembali. Carlos kecil dan Sebas kecil mendekati Carlos.
“Diriku… aku tak punya tempat untuk berlindung. Aku dan Sebas tak bisa kemana-mana. Deino terus memburu kami,” kata Carlos kecil.
“Oke, akan kuajak kalian berlindung!” sahut Carlos yang dewasa. Ia mengajak mereka berdua menuju sebuah mobil pemadam kebakaran. Mobil dari tempatnya bekerja. Sebas kecil melirik sisi ban mobil itu. Ban itu bertuliskan:
“GANYMEDE”
Salah satu bulan dari planet Jupiter. Namun, itu bukanlah merk dari ban mobil tersebut. Carlos mengajak mereka berdua masuk ke dalamnya.
“Berlindunglah. Jika keadaan tidak memungkinkan, kalian harus membawa Ganymede ke tempat aman, oke?” kata Carlos.
“Tapi, kami tak bisa menyetir mobil. Kami… kami masih kecil, Carl,” kata Sebas.
“Tenanglah, Ganymede tidaklah sulit untuk dikendalikan,” sahut Carlos sambil berlalu pergi. Sebas dan Carlos kecil tidak mengerti. Carlos kecil iseng menekan tombol sirine.
NGUAANNGG…
Sirine berbunyi keras. Tiba-tiba, Firedactyl mendekat.
“Oh, tidak! Ganymede, lari!!!” jerit Carlos kecil. Ia keluar dari mobil dan bersembunyi di belakang. Sementara itu, Sebas kecil menyetirnya asal-asalan. Carlos kecil mengotak-ngatik tombol dan tuas yang ada di belakang. Firedactyl mengejarnya.
“Tidak!!!” jerit Sebas. GREEKK… SRAASSHH…
Firedactyl kewalahan. Tubuhnya basah kuyup, namun ia tetap mengejar. Ternyata, Carlos kecil tak sengaja telah menaikkan tangga dan menyalakan selangnya. Orang-orang yang melihatnya menjerti-jerit. Khawatir akan anak-anak polos yang tengah berada di dalam sebuah mobil. Firedactyl mengejar semakin kencang, dan suasana semakin tegang. Firedactyl kini ada di atas mobil itu, tapi ia menjauh. Raungan sirine yang keras memekakan telinganya. Tapi ia tetap mengejar.
“Aahh!” jerit Sebas dan Carlos kecil. Firedactyl terus mengejarnya.
NGEENNGG…
Suasana semakin tegang. Sebas tak mengerti, namun ia terus tancap gas. Jarum spidometer semakin naik.
80 km/h!!!
Mobil melaju semakin kencang dan menabrak segalanya yang ada di hadapannya. Dixa yang asli melihat kejadian itu. DUK! Ban belakang melindas sebuah batu kecil. SRIITT… mobil mengepot.
“Tidak!!!” jerit Sebas. Sebas tak bisa menghentikan laju mobil itu. Akan tetapi, sebuah panzer menghalangi jalannya.
DOR-DOR-DOR!
Dixa menembaki Firedactyl dan sebisa mungkin mencegahnya untuk mengejar Ganymede. BRAASSHH… percikan api keluar dari ban Ganymede. Gesekan dengan aspal membuatnya berapi. Tiba-tiba…
WUZZ…
Sebas dan Carlos kecil berada diatas tubuh seekor kuda hitam. Kuda itu lari sekencang-kencangnya. Oh, itu Ganymede! Ganymede berubah menjadi seekor kuda! Ganymede lari sekencang mungkin. Aparat keamanan kembali. Sebagian dari mereka menembaki Firedactyl.
“NGAAKK! Hahaha… dasar kalian manusia-manusia bodoh… tidak tahu kalian sedang berhadapan dengan siapa… bodoh!” Firedactyl terlihat berbicara dengan suara komputernya. Tiba-tiba, keadaan sekitar memanas. Tubuh Firedactyl berasap.
“Rasakan ini, manusia-manusia bodoh! Hahaha… aku tak peduli! Apakah kalian anak-anak, wanita, atau apapun! Aku tak peduli! Kodratku bukan hanya menghancurkan komputer, tetapi juga umat manusia, bahkan hewan dan tumbuhan!” kata Firedactyl. “Aku akan memulainya dari anak-anak sialan itu,”
BWOSH!
Bola-bola api super panas ditembakan oleh Firedactyl. Sasaran pertamanya adalah Ganymede. Namun, kuda hitam itu dengan gesitnya menghindari segala serangan Firedactyl. Dixa berlari, berusaha mengejar Ganymede. Dixa dari dunia khayalan juga mengikutinya, tak peduli akan luka-luka yang dibuat oleh Draganold. Dua luka tusuk, dan satu luka tembak.
Ia kewalahan mengejar Ganymede. Ganymede melesat secepat mobil. Ia memang mobil sungguhan. Draganold khayalan itu memata-matai dua Dixa yang tengah berjuang mengejar Ganymede. Ganymede sendiri berusaha menyelamatkan joki cilik yang duduk diatas punggungnya. Sementara Firedactyl terus menembakan bola-bola api tak tentu arah, dan hampir membakar seluruh kota.
“Kita butuh bom!” seru Dixa yang asli. “Bom apa saja yang ada di sini?”
“Ada banyak. Bom Molotov, bom C4, bom dinamit, dan… bom nuklir,” sahut Rifle.
“Tidak ada bom nuklir!”
“Lihatlah naga merah itu. Kau pikir dia hanya hewan bodoh? Dia senjata, Dixa, dia senjata kita!” kata Rifle.
“Aku tak bisa tinggal diam. Jika begini, nyawaku juga akan terancam!” seru Draganold. Sesaat kemudian, Draganold berubah menjadi seekor naga. Ia membubung tinggi di langit dan menghadang Firedactyl.
“Apa yang kau lakukan di sini, Naga Merah?” tanya Firedactyl sengit.
“Huh, aku sebenarnya ada di pihakmu, yaitu pihak penjahat. Tapi jika kelakuanmu begini, lebih baik aku menjadi pahlawan saja!” seru Draganold. WUSH! BLAR! BLAR! BLAR!
Draganold melesat dengan kecepatan maksimum, 200 knot. Ia juga menyemburkan api nuklirnya kepada Firedactyl. Firedactyl tampak kesakitan menghadapi campuran uranium dan plutonium itu. Saat Firedactyl lengah, Draganold mencengkeram sayap Firedactyl.
“Aarrgghh! Hei, Naga Merah! Apa kau tak kepanasan? Lepaskan aku!” jerit Firedactyl.
“Aku menyesal kenapa aku tak menempelkan label fireproof di kulitku. Itulah aku, Draganold si naga yang tahan api!” kata Draganold.
“Hei, Draganold! Lepaskan bosku, atau kau akan menerima akibatnya!”  terdengar suara komputer yang berat dan mengerikan. Draganold melepaskan cengkeramannya dan menoleh. Itu suara Deino. “Aku sangat marah… sangat-sangat-sangat marah melihatmu menyakiti Bos!”
BLAR! Draganold tak peduli dan meledakan Deino dengan nuklirnya.
“Kurang ajar… kurang ajar, kurang ajar, kurang ajar!!!” seru Deino. Matanya bertambah merah saat ia bertambah marah.
“Draggie!!! Terbang menjauh! Menjauh dari Deino dan Firedactyl! Kau bisa terbunuh! Menjauhlah!!!” teriak Dixa sambil melambaikan tangannya. Draganold menurut, dan menjauh dari sana. Namun, Firedactyl berhasil mencengkeram ekor Draganold.
“Lepaskan aku!” jerit Draganold.
“Tidak akan!” sahut Firedactyl. Ia menarik Draganold ke belakang. Draganold kembali berubah menjadi manusia. Tubuhnya mulai merasa kepanasan.
“Aku… aku tak tahan lagi… ini super panas… lepaskan aku!” kata Draganold. Firedactyl membanting Draganold ke tanah. Punggungnya terbentur dinding sangat keras.
“Uhuk… uhuk…” Draganold terbatuk. Lengan kirinya patah. Kini, mulutnya telah basah oleh darah.
ooo0ooo
Dixa dari khayalan tengah berjalan. Ia memegangi tangan kirinya yang terluka akibat tusukan yang dibuat oleh Draganold dalam mimpi dirinya yang asli.
“Ah… lukaku semakin parah saja… ini… luka ini disebabkan oleh Draganold. Huh, Draganold? Draganold? Dimana Draganold? Aku harus mencarinya!” kata Dixa. Dixa berlari mencari Draganold. Tak lama kemudian, ia melihat Draganold yang terpojok di sebuah dinding toko. Untungnya, toko itu dilindungi bar. Kini, Deino tak lagi menghancurkannya. Dixa mendekati Draganold. Draganold samar-samar melihat Dixa.
Mungkin ia pernah melukai Dixa, tapi Dixa tak pernah merasa dendam kepada Draganold. Dixa tersenyum, walau ada rasa kekhawatiran dari raut wajahnya. Draganold berusaha membalas senyuman itu. Tapi, apalah daya. Wajahnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya… ia merasa seperti… batu.
“Drag… kau baik-baik saja? Kau sepertinya terluka sangat parah,” kata Dixa.
“Aku… aku… aku baik-baik… saja…” sahut Draganold dengan nafas terengah-engah.
“Ayolah, kita harus ke rumah sakit,”
“Aku baik-baik saja… sekarang… sekarang kita impas,”
“Impas apanya?”
“Aku mungkin pernah menyakitimu… tapi… kini aku yang tersakiti…”
“Kau luka, bukannya impas,”
“Tidak, tidak… ini impas, Sayang,”
“Kau… tidak… jangan tinggalkan aku,” kata Dixa. Wajahnya telah dibanjiri oleh air mata. Ia menggenggam erat-erat tangan Draganold. Seakan tak ingin kehilangan musuhnya itu. “Aku tak ingin kehilangan dirimu… aku tak ingin, jangan pergi, kumohon,” tangis Dixa.
“Aku tak akan meninggalkanmu… aku akan berusaha… bertahan…” sahut Draganold. Draganold mengelap darah di mulutnya. Ia berusaha bangkit.
“Jangan, kau masih sakit, Drag,” mohon Dixa.
“Aku akan baik-baik saja,” kata Draganold. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri. Draganold melongok keluar bar. Tampak Deino sedang mengamuk habis-habisan diluar sana. Meraung tanpa henti. Draganold mungkin masih bisa bertarung… dengan satu tangan. Ia menoleh ke belakang. Retakan tembok bekas hantaman tubuhnya. Ia meraih patahan tembok. TAK! Patahan itu dilemparkan kepada Deino. Deino marah dan mendekatinya. Firedactyl mendekatinya juga.
“Woo! Woo! Ayo, sini! Aku tak takut padamu! Jika kalian emosional, siapa yang bodoh, hah?!” ejek Draganold. Deino semakin marah. Carlos, Dixa, Sebas, dan Draganold yang asli mendekati mereka.
“Kalian melihat Sebas dan Carlos kecil?” tanya Dixa yang asli.
“Tidak, mungkin sebentar lagi mereka datang. Ganymede tak akan berani pergi terlalu jauh dari markas, bukan?” sahut Draganold dari khayalan.
“Tentu saja, Drag. Kecuali, Demon. Demon adalah mobil pemadam kebakaran dari markasku, dan bersifat seperti kuda liar. Dia pengelana dan suka pergi jauh-jauh. Susah dibujuk dan buas. Percayalah, menyetir Demon artinya bunuh diri,” sahut Carlos.
HIHEEE…
Terdengar suara ringkikan kuda. Itu Ganymede! Ganymede berlari ke arah Carlos. DOR! Suara tembakan juga terdengar. Deino dan Firedactyl teralihkan, dan mereka beruda mengejar yang menembaknya.
“Ganymede, Sebas dan Carlos kecil! Kalian selamat!” kata Dixa lega. “Kemana saja kalian?”
“Oh, Ganymede hanya mencari solar. Kami sempat pergi ke pom bensin. Tapi, pom bensin itu letaknya jauh dari sini, jadinya lama, deh. Selebihnya kami baik-baik saja, kok,” sahut Sebas kecil.
“Aku yakin api di kawasan tadi sudah padam. Teman-temanku pasti sudah kembali ke markas. Aku harus mengembalikan Ganymede,” kata Carlos. Ganymede kembali menjadi mobil.
“GRAARRHH…”
Suara raungan Deino terdengar lebih keras dan nyaring. Deino menampakan dirinya. Oh, Deino adalah virus yang temperamental, dan akan berubah saat amarah sudah mencapai puncaknya.
“Oh, tidak. Deino akan berubah. Dia akan berubah menjadi… Chimerus,” kata Dixa. Deino bersinar, dan setelah itu ia berubah. Kepala singa, kepala kambing, ekor ular. Chimera. Ia bertambah kuat dan bertambah sadis. Dan Deino telah berubah menjadi…
Chimerus.

BERSAMBUNG…

D’ VIRUS WARS (PART 3): WELCOME TO THE REAL WORLD

Dixa khayalan itu melambaikan tangannya kepada dirinya sendiri dari dunia nyata.
“Sayang sekali aku berasal dari alam mimpi,” katanya.
“Yeah, sayang sekali kau harus mati sekarang,” terdengar suara lelaki yang sangat dikenalinya. Dixa khayalan itu menoleh. Terlihat Draganold dari khayalannya tengah memegang pistol. Ia menyeringai bengis. “Hahaha… silahkan saja rasakan bagaimana peluru ini bertamu ke jantungmu,”
“Tidak! Jangan lakukan itu!” jerit Dixa.
“Kau pikir aku akan mengasihanimu, hah? Tidak akan!” sahut Draganold. Ia mengacungkan pistolnya ke dagu Dixa. Rifle perlahan bangun. Ia masih mengingat tujuan sebenarnya. Menangkap sipir bengis itu dan tugasnya selesai. Ia mendekati Draganold yang asli.
“Kau yakin itu dirimu? Jahat sekali, bro,” kata Rifle.
“Aku tak tahu. Itu aku dari dunia khayalan,” sahut Draganold. Dixa yang asli mendekati Draganold.
“Aha, aku tahu! Saatnya aku berakting, Drag,” kata Dixa. Ia melangkah ke depan dan melindungi Dixa dari khayalan di kepalanya. Dengan beraninya ia berdiri di hadapan Draganold. “Maaf, tolong berhenti, Tuan! Kau tahu tidak, penderitaan yang dirasakan olehnya?!” bentak Dixa.
“Aku sudah tak punya rasa peduli,” sahut Draganold.
“Jangan sekali-kali kau menyakiti dia lagi! Kalau kau ketahuan menyakitinya hanya untuk bersenang-senang, awas saja! Jika aku melihatmu menyakitinya, maka aku akan menyetrum dirimu sampai mati!” teriak Dixa. Tubuh Dixa mengkilat sesaat dan tiba-tiba seluruh listrik di kantor itu padam. “Uwaahh!” erang Dixa. Lalu, semua listrik kembali menyala.
“Woo! Akting yang bagus, Ishida!” puji Carlos.
“Memangnya aku peduli apa?” kata Draganold. Dixa merasa marah. Carlos mendekatinya. Seketika matanya berubah menjadi merah dan sepasang telinga serigala berdiri diatas kepalanya.
“Berani-beraninya kau menyakiti sepupuku. Jika kau menyakitinya sekali lagi, maka aku akan mencabik-cabik dagingmu dan memangsamu mentah-mentah. Karena… aku adalah werewolf… hahaha, kau mau merasakannya?” kata Carlos dengan suara yang mengerikan. Draganold membisu ketakutan.
“Aku bisa saja memasukan peluru perak ke dalam sini dan menembakmu dengan mudah,” kata Draganold. Oh, rupanya dia masih berani. Carlos menarik sesuatu di belakangnya.
“Aku bisa menghindari semua senjata dengan samurai brutalium ini. Wolf Blade. Ini bisa memotong berlian, peluru, bahkan bisa memotong kepalamu sekaligus jika kau tak menjaga ucapanmu, Kadal Bersayap,” ancam Carlos. “Samurai ini gaib dan hanya terlihat jika aku mengeluarkannya. Sangat mematikan, akurat, dan memiliki sifat seperti bumerang. Tak pernah ada di dunia ini,” kata Carlos lagi. Kali ini, Draganold menjadi sangat ketakutan.
Setelah itu, Carlos menjadi normal kembali. Ia berbalik dan meninggalkan Draganold. Mereka merasa tugasnya sudah selesai dan tidak ada virus yang keluar. Akan tetapi…
“Isi komputer anda akan beralih wujud ke dunia nyata dalam lima hitungan. Lima… empat… tiga… dua… satu… isi komputer akan segera beralih,” terdengar suara operator wanita dari komputer itu.
“GRAARRHH…”
“Kita… kita harus lari dari sini! Mungkin itu virus yang akan beralih wujud! Lari!” teriak Dixa. Dixa yang asli. Mereka semua berlari keluar, menghindari virus-virus yang akan segera mengamuk. Namun, Carlos kecil dari khayalan tetap berdiri di depan komputer.
“Aku ingin melihat wujud virus itu,” katanya. Dan dirinya yang dewasa segera mencegahnya.
“Diriku, kita harus pergi dari sini! Kau tak bisa melihat wujud virus itu, atau kau akan mati! Ayo, lari!” ajak Carlos. Ia menggendong dirinya tersebut. Ia berusaha berlari menuju lift. Namun, di belakangnya tak ada ledakan, hanya kilatan cahaya sesaat.
“GRAARRHH…”
Carlos menuruni lift dan akhirnya ia sampai di lantai bawah.
“Carlos, kau baik-baik saja!” kata Sebas.
“Ya, aku baik-baik saja, tapi virus itu…” sahut Carlos. Semuanya memperhatikan gedung itu. PRAANNGG! Seluruh kaca pecah, dan pintu utama jebol begitu besar. Terlihatlah monster sebesar Tyrannosaurus Rex. Berbulu serigala dan bertanduk naga.
“GRAARRHH… ROAARRHH…” ia meraung. Monster itu berjalan dan membuat sekitarnya jadi bergetar.
“Itu Deino!!!” teriak Dixa dari khayalan. Ia begitu ketakutan. Wajahnya pucat pasi. Mereka semua melarikan diri. Deino tak ingin mangsanya lari begitu saja. Ia membentangkan sayap elangnya. Dan ia pun terbang. Kini, Deino berdiri diatas pencakar langit.
“GRAARRHH…”
“Aakkhh! Tidak! Jangan bunuh aku! Jangan bunuh… aku…” kata Dixa. Ia pingsan begitu saja. Deino meraung tanpa henti. Seluruh warga yang ada di sana lari tunggang langgang. Berusaha menyelamatkan diri mereka dan menghindari Deino.
“Draganold! Bawa Dixa ke tempat aman!” suruh Rifle. Draganold dari khayalan itu dengan terpaksa membawa tubuh Dixa ke teras sebuah ruko. Deino pasti tak akan menemukannya. Namun, naga itu salah. Deino tak akan melepaskan mangsanya begitu saja. Ia bisa melacak mangsanya dimanapun.
BRAK!
Deino menghancurkan bar ruko itu. Dixa siuman tiba-tiba.
“Uwaahh!” jerit Dixa. DUG! Dixa menendang moncong Deino begitu keras. Draganold terpojok sementara Dixa sendirian bertarung dengan Deino. Setelah itu, Deino kabur. Dixa dan Draganold kembali ke depan gedung itu dan menemui diri mereka yang asli.
Tiba-tiba…
Dari kaca gedung itu terlihat cahaya berwarna oranye, begitu juga dengan pintu depan. Semua orang yang ada di dalam melarikan diri keluar. BRUAK! PRANG! Jendela lantai ketiga dan keempat jebol. Seekor monster mengerikan keluar. Pterodactyl raksasa dengan tubuh diselimuti api keluar dari dalam gedung. Ia memekik.
“Itu… itu adalah virus paling berbahaya seantero dunia…” kata Sebas. Ia membisu ketakutan.
“Bukan lagi seantero dunia, tapi… sejagat raya dan bahkan bisa… membunuhmu, sobat…” sahut Carlos.
“Itu… itu… itu… itu adalah… Firedactyl!!!” jerit Dixa yang asli. “Ya, ya! Dia yang meneror mimpiku! Di penghujung mimpi, dia membakar hutan dan membuatku terjebak di dalamnya!”
“Kita harus mengalahkan Deino dan Firedactyl sebelum mereka mengalahkan kita!” teriak Sebas. “Eh, tapi kita membutuhkan anti-virus yang sangat kuat untuk mengalahkan mereka!”
“Sudahlah, Sebas! Lebih baik kita lawan mereka dulu sebisa kita!” suruh Dixa. Tak lama kemudian, aparat keamanan datang. Polisi dan tentara. Mereka sibuk menembaki Deino. Suara desing peluru terdengar nyaring, memecah keramaian. Perang Dunia kembali terjadi. Namun, ini adalah perang melawan virus. Jika mereka tak segera dihentikan, maka dunia ini akan hancur oleh virus.
Akan tetapi…
Warga yang berlari ke arah barat kembali ke arah timur. Ada apa? Cahaya oranye terlihat sangat terang dan makin lama makin mendekat. Cahaya ini juga panas.
“KEBAKARAN!!!” jerit para warga. Mereka semua menoleh. Firedactyl terbang membentangkan sayap apinya. Sayap itu membakar segalanya yang ada di sekitar. Kebakaran hebat telah terjadi.
“Astaga… Carl, kau bisa mengatasi ini?” tanya Dixa.
“Entahlah. Aku tak bisa mengatasinya sendiri. Aku memerlukan bantuan,” sahut Carlos.
“Tapi, Carl. Kau itu kan, pemadam kebakaran!”
“Iya, aku memang pemadam kebakaran, tapi setidaknya aku butuh bantuan! Pos pemadam kebakaran terdekat, dimana itu? Atau, aku bisa memanggil petugas dari pos tempatku bekerja!” kata Carlos. Dixa segera memanggil petugas pemadam kebakaran. Tak lama kemudian, raungan sirine terdengar keras. Warga menyingkir.
Mobil-mobil pemadam kebakaran telah tiba di tempat. Salah seorang petugas turun dari mobilnya. Tidak, itu bukan petugas. Pelatih. Ia mendekati Carlos.
“Carl, kau harus ambil bagian dalam tugas ini,” suruhnya.
“Aku harap aku bisa, Finn. Tapi sepertinya, ini akan jauh lebih sulit. Kau, aku, dan lainnya akan menjadi… The Virusfighter. Bukannya The Firefighter,” sahut Carlos.
“Baiklah, terserah kau saja,” kata Finn. Ia meninggalkan Carlos. Carlos berharap, andai saja ada yang bisa menyelamatkannya. Ia tahu, tanpa jaket anti-api, ia akan mati terpanggang oleh Firedactyl.
DOR!
Firedactyl tampak kewalahan. Sebutir peluru telah menembus tubuhnya. Terbangnya jadi tidak stabil. Tapi setelah itu, ia kembali stabil. Carlos berhasil mengelak. Hampir saja ia terkena peluru. Namun, siapa yang menembak reptil terbang itu? Carlos menoleh.
“Draganold?” Carlos kaget. Draganold yang asli itu tersenyum.
“Aku akan mengalahkan Firedactyl. Daripada kau kebingungan ambil bagian untuk memadamkan api, lebih baik kau ambil bagian dalam hal ini, Carl,” kata Draganold.
“Oke, Drag. Kau punya pistol?”
“Tentu saja aku punya!” sahut Draganold. Ia melemparkan sepucuk pistol kepada Carlos. Carlos mengacungkan pistolnya dan mengedipkan sebelah mata.
DOR-DOR-DOR!
Baku tembak yang seru terjadi. Kedua lelaki keren itu terus menembaki Firedactyl. Firedactyl sepertinya sudah tidak tahan. Ia kabur.
“GRAARRHH…” sepertinya Deino belum menyerah.
“Deino masih hidup, Carl, Drag!” kata Dixa. Para aparat yang menembakinya tampak kewalahan. Deino kembali bangkit. Ia membentangkan sayapnya. Terlihatlah sekujur tubuhnya yang berlubang dengan ratusan peluru bersarang di dalamnya. Tiba-tiba…
DOR-DOR-DOR-DOR-DOR!!!
Peluru-peluru itu kembali dipantulkan olehnya. Beberapa aparat gugur dalam hal ini. Sementara Deino belum puas dan tetap memantulkan peluru. Draganold dan Carlos menembakinya, tapi percuma. Peluru itu terus memantul. Akhirnya, Dixa mengajak mereka berdua untuk berlindung. Tak lama kemudian, serangan peluru berhenti.
Sepertinya Deino kehabisan peluru untuk dipantulkan. Dixa dan lainnya berlindung dalam mobil polisi bersama Rifle dan petugas polisi yang lain.
“Ayolah, teman-teman. Kita tidak bisa menyerah begitu saja. Deino dan Firedactyl memang kuat, tetapi mungkin saja kita bisa merobohkan mereka. Aku tahu titik-titik lemahnya dan bisa dihantam dengan peluru,” kata Dixa.
“Dimana titik lemahnya?” tanya Rifle.
“Di bagian ekor, mulut, dan kantung mata. Ayo, kita tembaki lagi Deino!” sahut Dixa. “Tapi, kita butuh pakaian khusus. Sepatu, rompi anti peluru, dan helm,”
“Ya, kita butuh itu,” kata Rifle. Rifle meminjam semua keperluan dari polisi di sekitarnya. Mereka pun memakai itu semua di dalam mobil polisi. Tak lama kemudian…
“Hei, Deino!” panggil Dixa. Deino menoleh. Tampak olehnya Dixa dan lainnya, baik yang khayalan maupun yang asli telah memakai perlengkapan khusus. Mereka membawa pistol dan senapan. Memakai sepatu khusus, rompi anti peluru, dan helm.
CREK…
“Menyerahlah, Deino,”

BERSAMBUNG…

REVIEW BUKU: HOLY MOTHER BY AKIYOSHI RIKAKO

Judul: Holy Mother Penulis: Akiyoshi Rikako Penerbit: Penerbit Haru Genre: mystery, thriller, crime Rating: 4.9/5 Buku yang ...